PASCA MELAHIRKAN
26 September 2020

Pengalaman Melahirkan Caesar dari 3 Moms, Bisa Jadi Pelajaran Berharga

Pengalaman melahirkan caesar bisa menjadi pelajaran bagi beberapa Moms untuk tetap tegar
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Waritsa Asri
Disunting oleh Dina Vionetta

Setiap Moms mungkin menginginkan operasi Caesar yang direncanakan untuk melahirkan karena berbagai alasan. Bagi sebagian Moms, itu adalah pilihan.

The American College of Obstetiricians and Gynecologists mengungkapkan kelahiran Caesar adalah persalinan bayi melalui sayatan yang dibuat di perut dan rahim Moms.

Terkadang dokter akan memilih prosedur melahirkan Caesar setelah seorang Moms mulai jelang melahirkan dan kemudian mengalami masalah seperti kehamilan berisiko tinggi seperti ada gejala preeklamsia, atau ketika Si Kecil dalam posisi sungsang serta tidak dapat berbalik sebelum persalinan dimulai.

Namun, tak jarang ada juga beberapa Moms yang sehat menginginkan prosedur melahirkan Caesar karena ingin memilih tanggal persalinan atau menghindari persalinan pervaginam karena ketakutan lewat cerita pengalaman melahirkan normal.

Tapi, apapun keputusannya semua tentu untuk yang terbaik bagi Moms maupun Si Kecil.

Pengalaman Melahirkan Caesar

Jika Moms merupakan seorang calon ibu dengan hati yang tertuju pada persalinan normal, berita bahwa buah hati perlu dilahirkan melalui operasi caesar mungkin terasa mengecewakan.

Bayangan tentang persalinan yang mungkin selalu Moms impikan terkadang tiba-tiba tergeser oleh kekhawatiran tentang pembedahan, terjebak di rumah sakit lebih lama dan pemulihan yang lebih sulit (belum lagi bekas luka).

Namun, tak perlu khawatir hal ini tak seperti yang dipikirkan, berikut ini beberapa pengalaman melahirkan Caesar:

Hope for The Best, Prepare For The Worst

Pengalaman Melahirkan Caesar, Foto : Orami Photo Stock

Foto: Orami Photo Stocks

“Semua ibu kalau disuruh pilih yang mana, aku yakin pasti maunya lahiran normal yah,” tulis Moms Ratifkf dalam Forum Orami.

Bagaimanapun juga lahiran normal merupakan dambaan setiap Moms dan prosesnya alamiah.

Tapi, tulis Moms Ratifkf, mengingat kondisi janin dan ibu yang punya riwayat berbeda maka baiknya mengikuti anjuran dari doktek kandungan mengenai proses melahirkan yang terbaik untuk diri serta Si Kecil dalam kandungan.

Dokter kandungan tempatnya biasa mengecek bulanan merupakan yang pro normal. Bahkan kondisi kesehatan maupun janin tidak ada masalah.

”Aku sudah ikut senam hamil, nyari-nyari info persalinan. Tapi sampai hari H, pembukaan Cuma sampai dua tidak menambah, beberapa kali CTG anakku tidak merespon gerak, beberapa kali aku juga pakai selang oksigen,” ceritanya lanjut.

Setelah 24 jam berlalu, tidak ada penambahan pembukaan, dokter kandungannya memutuskan untuk mengambil tindakan Caesar karena kondisi bayi sudah lemah, tidak merespons dan tidak mungkin melakukan induksi karena ada risiko air ketuban kuning.

“Aku kekeuh nangis mohon ke dokter untuk biarkan aku melahirkan dengan normal tetap ga diijinin karena kondisi janin. Yak, dan akhirnya aku menjalani proses melahirkan secara caesar. Sakitnya proses SC saat proses anastesi, selanjutnya kita kan dibius. Nah, pemulihan setelah melahirkan aku baru bisa turun tempat tidur hari ke-3 karena masih pusing pusing, duduk aja tidak kuat,” jelasnya.

Di samping itu, Moms Fatihkf juga mengungkapkan rasa sakit di perut masih ada bahkan bila mengangkat berat atau secara mendadak sakit nyerinya terasa saat duduk.

Namun, ia pun berbagai pengalaman melahirkan Caesar ini karena sebagai pengingat bahwa seorang Moms wajib menyerahkan semuanya pada dokter yang jauh lebih tahu kondisi diri serta Si Kecil.

Hope for the best prepare for the worst, mau melahirkan normal maupun Caesar, seorang Moms tetap hebat dan istimewa di mata anak-anaknya,” tutupnya.

Baca Juga: Benarkah Mata Minus Tinggi Harus Melahirkan Caesar?

Tidak Sesulit yang Dibayangkan

Pengalaman Melahirkan Caesar, Foto : Orami Photo Stock

Foto: Orami Photo Stocks

Lain lagi cerita dari Moms Anastasia dari WAG Orami grup Toddler, dirinya dan Dads sudah merencanakan secara matang untuk kehadiran buah hati kedua dengan selisih usia si sulung genap 4 tahun.

“Saya sangat mengusahakan untuk kelahiran normal anak kedua saya, karena anak pertama saya juga lahir di bidan dengan normal. Di minggu- minggu sampai trimester ketiga tidak ada keluhan yang khusus, masih sama seperti ibu hamil pada umumnya, dari mual, tidak nafsu makan hingga di trimester akhir saya pun tetap memiliki nafsu makan luar biasa,” tulisnya.

Seperti anak pertama juga, buah hati kedua ini sudah ada di panggul sejak 7 bulan, beratnya juga cukup, bahkan cenderung lebih, sehat dan hanya tunggu kontraksi.

Beberapa kali Moms Anastasia melakukan check up dan dokter memberitahu kalau anak kedua berjenis kelamin laki- laki,”Sesuai kemauan Dads karena memang kami juga sudah merencanakannya,”.

Moms Anastasia juga selalu memonitor perkembangan anak melalui aplikasi ibu hamil dan berdasarkan aplikasi, anak saya baru berusia 38 minggu saat itu, sempat ada mulas sedikit.

Namun dirinya dan Dads bergeming dengan pikiran kontraksi palsu sehingga tak masalah untuk melakukan kontrol pada minggu selanjutnya.

Minggu berikutnya saat jadwal kontrol rumah sakit langganan penuh, Moms Anastasia mencoba kontrol di bidan tempat anak pertama saya lahir.

“Saat di USG ternyata usia kandungan saya sudah 40 minggu dan ketuban sudah tinggal sedikit, yang artinya harus diinduksi segera. Saya kaget dan agak panik karena belum merasa siap untuk melahirkan,” paparnya.

Secepatnya, mereka kembali ke rumah serta mengemas barang-barang mendadak, setelah kembali ke bidan dan induksi enam jam, tidak ada kontraksi hanya pembukaan dua saja.

Akhirnya, dokter meminta agar saya melakukan tindakan Caesar.

“Sangat tegang karena baru pertama kali pengalaman melahirkan caesar, saat setelah dibius tulang belakangnya, saya minta besarkan volume musik ke dokter agar lebih relaks. Operasi hanya berlangsung selama 30 menit dan ternyata tidak sesulit yang saya bayangkan, tapi setelah efek bius hilang, saya baru merasakan sakit yang luar biasa,” ucapnya. Bagi Moms Anastasia, pengalaman melahirkan Caesar maupun normal merupakan perjuangan yang benar-benar mempertaruhkan nyawa.

Baca Juga: Proses Melahirkan Caesar, Ini yang Perlu Moms Ketahui!

Gunakan Fasilitas Pemerintah

Pengalaman Melahirkan Caesar, Foto : Orami Photo Stock

Foto: Orami Photo Stocks

Awal kehamilan, Moms Devi dari WAG Orami Newborn mengalami sedikit masalah kehamilan yaitu infeksi kandung kemih ketika pertama kali melakukan USG di usia kehamilan 3 bulan.

Lalu, ditemukan juga kista, ”Tapi, its ok karena kistanya tidak besar. Lalu, masuk bulan ke-7 kehamilan, aku pun ingin tahu jenis kelamin niatnya sama cek lain, ternyata posisi Si Kecil melintang dan memunggungi bagian depan perut,” paparnya.

Selama mengecek kehamilan, Moms Devi menggunakan Kartu Indonesia Sehat.

Namun di tengah jalan, ia pun beralih menggunakan fasilitas pemerintah lainnya yaitu BPJS Kesehatan,”Aku pindah dari KIS ke BPJS soalnya pindah faskes di puskesmas dekat tempat tinggal.

Dan selama hamil, aku pun mencaritahu cara mendapatkan fasilitas dari BPJS dan ini paling penting untuk terus mencari tahu,” ujarnya.

Menurutnya, pilihan menggunakan fasilitas BPJS ini tepat karena mendapatkan USG yang gratis serta rapid test juga.

”Aku melahirkan di tengah pandemi ini pada Juni lalu. BPJS Kesehatan ini membantu untuk meringankan biaya termasuk untuk rapid test kan. Hanya saja kalau BPJS Kesehatan dari pemerintah kita tidak bisa janjian dengan dokter spesialis dengan keinginan kita apalagi di saat pandemi ini,” terangnya.

Ketika waktunya tiba, dirinya dan Dads segera menuju puskesmas untuk meminta rujukan ke rumah sakit pilihannya. Sampai di rumah sakit, ia pun melihat wajah putri kecilnya pertama kali lewat USG.

Namun, kebahagiaan pun sedikit tergoyahkan karena dokter mengatakan bahwa air ketuban mulai surut.

“Dipilih metode induksi awalnya, sudah merasakan sakit tiap lima menit sudah ada kontraksi, tiap 3 jam tidak ada pembukaan sama sekali. Dokter pun memutuskan untuk operasi Caesar karena kasihan dengan Si Kecil dan di dalam air ketuban semakin keruh,” ingatnya jelas.

Pengalaman melahirkan Caesar dan di tengah pandemi Covid-19 ini benar-benar begitu berarti bagi Moms Devi,

”Walaupun pakai BPJS Kesehatan dari pemerintah semua penanganan sama dan memang menakutkan tapi hanya di awal saja ketika anestesi diberikan sebelum memulai prosedur operasi Caesar,” tutupnya.

Baca Juga: Informasi Biaya Operasi Caesar Mulai dari yang Paling Mahal hingga Gratis

Setelah mengetahui beragam pengalaman melahirkan Caesar, bila Moms dan Dads masih ragu maka bicaralah dengan dokter atau bidan tentang mengapa menurut mereka harus menjalani operasi caesar.

Jika ukuran bayi menjadi alasannya, tanyakan seberapa akurat perkiraan beratnya. Cari tahu apakah Moms dan Dads memiliki pilihan lain untuk mengatasi kekhawatiran mereka.

Pastikan Moms dan Dads memahami bahaya apa yang bisa menimpa diri dan Si Keci jika tidak menajalni operasi Caesar.

Jika memiliki lebih banyak anak penting bagi kalian, cari tahu apakah memerlukan prosedur untuk persalinan di masa mendatang.

Pikirkan apakah manfaat operasi ini jelas lebih besar daripada risikonya.

Tidak apa-apa mendapatkan opini kedua untuk membantu memutuskan dan kembali lagi dokter mengetahui yang terbaik untuk Moms maupun Si Kecil dalam kandungan.

Artikel Terkait