BALITA DAN ANAK
9 September 2019

Pengaruh Negatif Media Sosial Pada Kebiasaan Makan Anak

Bisa meningkatkan resiko obesitas dan diabetes
Artikel ditulis oleh Orami
Disunting oleh Carla Octama

Moms, pernahkah terpikirkan tentang dampak media sosial sebagai pemicu terbentuknya kebiasaan makan anak yang tidak sehat?

Sama seperti Moms dan orang dewasa lain yang sering mendadak ingin mencicipi makanan tertentu setelah melihat unggahan di media sosial, pilihan makanan anak juga ternyata bisa terpengaruh secara negatif oleh konten yang dilihatnya.

Yuk Moms, baca dulu sampai selesai untuk tahu lebih banyak tentang dampak media sosial pada kebiasaan makan anak.

Statistik Penggunaan Media Sosial Pada Anak

Pengaruh Negatif Media Sosial Pada Kebiasaan Makan Anak 1.jpg

Indiatvnews.com

Untuk mendapatkan gambaran tentang besarnya dampak media sosial pada anak, kita lihat dulu statistik berikut ini ya, Moms.

Dalam laporan terbaru Ofcom Children, sekitar 93% anak berusia 8-11 tahun memiliki akses pada media sosial. Nah, 77% diantaranya sering menonton YouTube dan 18% bahkan sudah punya akun media sosial pribadi.

Sedangkan menurut laporan Common Sense Media, sebagaimana dikutip dari qz.com, anak usia 0-8 tahun menghabiskan waktu online sekitar 50 menit per hari dan anak usia 8-12 tahun sekitar 6 jam setiap harinya.

Bisa bayangkan kan Moms, kalau anak dan remaja bagi adalah sasaran empuk bagi para pengiklan dan produsen makanan?

Baca Juga: Kapankah Sebaiknya Anak Boleh Main Media Sosial?

Dampak Media Sosial Pada Kebiasaan Makan Anak

Pengaruh Negatif Media Sosial Pada Kebiasaan Makan Anak 2.jpg

Medicaldaily.com

Melihat maraknya influencer yang membuat konten seputar makanan mendorong Anne E. Coates, mahasiswa doktorat di University of California, melakukan penelitian tentang dampak pemasaran di media sosial pada asupan dan kebiasaan makan anak.

Dari hasil studinya yang dimuat dalam jurnal Pediatrics, seebagaimana dikutip dari npr.org, diketahui kalau anak yang terpapar konten pemasaran makanan di YouTube maupun Instagram mengonsumsi 32% lebih banyak makanan tidak sehat ketimbang anak yang melihat konten non-makanan.

Menurut Anne, fenomena ini terjadi karena anak menganggap vlogger dan influencer di media sosial sebagai sosok panutan yang bisa dipercaya, sehingga setiap kontennya punya pengaruh besar terhadap pola pikir dan kehidupan anak.

Sedangkan Dr. Natalie Muth, juru bicara American Academy of Pediatrics, menyoroti kebiasaan makan anak yang tidak sehat akibat dampak media sosial dapat menambah asupan kalori sebanyak 90 Kcal setiap harinya.

Padahal hanya butuh kelebihan sebanyak 70 Kcal setiap hari untuk membuat berat badan anak melonjak melebihi angka ideal.

Jadi bisa disimpulkan paparan konten pemasaran media sosial seputar makanan memiliki pengaruh besar pada kebiasaan makan anak, dan bisa meningkatkan resiko obesitas serta penyakit lain seperti diabetes dan gangguan jantung.

Baca Juga: 4 Hal yang Perlu Dipertimbangkan Sebelum Mengizinkan Anak Memiliki Akun Media Sosial

Cara Mengurangi Dampak Media Sosial Pada Kebiasaan Makan Anak

Pengaruh Negatif Media Sosial Pada Kebiasaan Makan Anak 3.jpg

Familyeducation.com

Supaya kebiasaan makan anak tetap sehat dan tidak mudah terpengaruh oleh konten media sosial, Moms dan Dads bertanggung jawab membuat aturan soal akses online anak serta mendampingi dan mengajak anak berpikir kritis tentang apa yang dilihatnya.

Sebagai contoh, Moms bisa jelaskan kalau milkshake dengan topping meriah itu tinggi kalori sehingga hanya boleh dikonsumsi sebulan sekali, dan ingatkan juga tentang prinsip “berhenti makan sebelum kenyang” saat menonton video mukbang

Yang tidak kalah penting, Moms juga harus mulai membiasakan anak menjalankan kebiasaan makan sehat dari rumah sambil memberikan contoh nyata tentang pola makan yang sehat.

Apa Moms pernah merasakan sendiri dampak media sosial pada kebiasaan makan anak?

(WA)

Artikel Terkait