KESEHATAN
20 April 2020

Apa Pengaruh Stres Terhadap Siklus Menstruasi?

Bekerja boleh saja, asalkan tetap perhatikan kesehatan
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Debora
Disunting oleh Intan Aprilia

Siklus menstruasi yang lancar menggambarkan proses menstruasi yang teratur setiap bulannya. Bagi wanita yang berada pada masa subur dan ingin mempunyai anak, tentunya siklus menstruasi sangat berguna untuk program hamil.

Menurut studi dari American Pregnancy Association menjelaskan siklus menstruasi diukur dari hari pertama periode menstruasi hingga hari pertama pada periode berikutnya.

Rata-rata siklus menstruasi yang normal antara 28-32 hari, tetapi beberapa wanita mungkin memiliki siklus yang jauh lebih pendek atau lebih lama. Lalu, apa sebabnya siklus menstruasi tidak lancar?

Baca Juga: Darah Menstruasi Sedikit, Aman atau Tidak?

Pengaruh Stres Terhadap Siklus Menstruasi

Stres Bekerja, Pengaruhi Siklus Menstruasi-1.jpg

Foto: thebump

Siklus menstruasi yang tidak teratur sering dikaitkan dengan tingkat stres yang tinggi. Ternyata, benar demikian. Semuanya berkaitan dengan ketidakseimbangan hormon.

Khususnya komunikasi antara otak, kelenjar adrenal atau kelenjar yang menghasilkan hormon kortisol, dan ovarium.

“Tingkat stres yang tinggi memang tidak pernah berdampak baik untuk kesehatan. Ketika stres terjadi, maka fungsi hipotalamus dan kelenjar pituitari di otak menjadi terganggu. Akhirnya, fungsi hormon ovarium dan waktu pelepasan sel telur menjadi terganggu,” ungkap Dr. James Greene, direktur medis untuk kesehatan wanita dari Washington.

Masih menurut Dr. James, tingkat stres yang tinggi dapat menyebabkan jenis perdarahan abnormal saat menstruasi berlangsung. Atau bisa juga jangka waktu yang lebih lama antara tiap periode waktu menstruasi.

Sederhananya begini, Moms. Ketika hormon kortisol meningkat, maka kadar progesteron menurun.

Padahal, progesteron berguna mempersiapkan uterus untuk pembuahan dengan menebalkan lapisan rahim. Akibatnya, siklus menstruasi menjadi tidak lancar.

Untuk itu, sangat penting untuk mampu mengelola stres dengan baik agar kualitas hidup juga lebih maksimal.

Baca Juga: Siklus Menstruasi Pendek Bikin Perempuan Susah Hamil?

Penyebab Siklus Menstruasi Tidak Teratur

Stres Bekerja, Pengaruhi Siklus Menstruasi-2.jpg

Foto: femsense

Selain tingkat stres yang tinggi, nyatanya ada beberapa penyebab lainnya siklus menstruasi menjadi tidak teratur.

Di antaranya seperti obesitas, mengalami penurunan berat badan yang drastis, melakukan olahraga yang ekstrem, dan memakai alat kontrasepsi.

Siklus menstruasi yang tidak teratur juga bisa menjadi gejala dari penyakit PCOS atau polycystic ovary syndrome.

Penyakit ini menyebabkan kelainan pada hormon dan sistem metabolisme sehingga fungsi indung telur terganggu.

Ketika siklus menstruasi Moms tidak teratur, sebaiknya temukan penyebab yang tepat agar bisa menemukan penanganan yang tepat juga.

Cara Mengelola Stres Ibu Bekerja

Stres Bekerja, Pengaruhi Siklus Menstruasi-3.jpg

Foto: yogajournal

Ibu yang juga bekerja pastinya memiliki tantangan sendiri dalam mengatur setiap aspek kehidupannya.

Kewajiban untuk mengurus anak dan mengerjakan pekerjaan di kantor bisa membuat tingkat stres menjadi tinggi, sehingga dapat berpengaruh pada siklus menstruasi.

Dilansir dari British Sociological Association, wanita yang bekerja penuh dan membesarkan anak memiliki tingkat stres 18% lebih tinggi daripada wanita yang tidak memiliki anak.

Namun, tentunya tantangan ini harus mampu diatasi karena menjadi ibu yang bekerja adalah profesi yang mulia. Kuncinya utama untuk mengelola stres adalah belajar untuk meditasi diri.

Pertama, Moms perlu menemukan sumber penyebab stres tersebut. Kemudian, temukan cara untuk mampu mengatasinya.

Melalui meditasi yang cukup, maka Moms mempunyai pikiran yang lebih jernih untuk menyelesaikan masalah.

Baca Juga: Menstruasi Tidak Normal? Kenali dan Pahami Dampaknya untuk Kesehatan

“Istirahat yang cukup, olahraga yang teratur, dan mengonsumsi makanan dengan nutrisi seimbang adalah kuncinya. Beberapa jenis olahraga yang membuat rileks bisa dipilih, seperti yoga atau berenang,” ungkap Dr. James.

Namun, sebaiknya Moms perlu menyadari kapan tingkat stres tidak kunjung membaik. Kalau sudah begitu, Moms membutuhkan dokter atau psikolog agar mendapatkan bantuan melalui konseling.

Artikel Terkait