RUPA-RUPA
20 Mei 2020

Hidup Berdampingan dengan COVID-19, Ini Pengertian "New Normal" di Indonesia

Ketahui penjelasan lengkapnya berikut ini
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Amelia Puteri
Disunting oleh Dina Vionetta

Presiden Joko Widodo menyebutkan bahwa masyarakat Indonesia diharapkan 'berdamai' atau hidup berdampingan dengan COVID-19. Istilah "new normal" di Indonesia pun jadi hal baru yang perlu diketahui.

Hal ini seperti dikatakan lewat akun Twitter resmi @jokowi:

"WHO menyatakan bahwa kita harus hidup berdampingan dengan Covid-19. Mengapa? Karena ada potensi bahwa virus ini tidak akan segera menghilang dan tetap ada di tengah masyarakat. Berdampingan bukan berarti menyerah, tapi menyesuaikan diri," tulis Presiden Jokowi.

Lalu, seperti apa pengertian dari istilah new normal COVID-19? Apa saja risikonya, dan sudahkah ada negara lain yang juga melakukan hal ini? Berikut penjelasannya.

Baca Juga: Skenario 'Hidup Normal' untuk Indonesia, dan Risikonya Bila Kebijakan PSBB Dilonggarkan

Apa Itu "New Normal"?

new normal-1

Foto: Orami Photo Stock

Menurut Jubir Pemerintah untuk Covid-19, dr. Achmad Yurianto, new normal di Indonesia merupakan bentuk dari masyarakat yang hidup damai dan berdampingan dengan situasi pandemi saat ini.

"Kita harus memiliki komitmen kuat untuk berdampingan dengan situasi seperti ini (pandemi Covid-19). Oleh karena itu, kita harus mulai mengubah budaya dasar kita menuju budaya dasar yang baru atau menuju ke kehidupan normal yang baru,” katanya mengutip rilisan pers Kementerian Kesehatan RI.

Kehidupan new normal di Indonesia ini termasuk kebiasaan hidup bersih dan sehat, selalu cuci tangan dengan sabun dan air mengalir minimal 20 detik, pakai masker saat keluar rumah, hindari kerumunan, dan menjaga jarak fisik.

"Ini yang saya katakan sebagai bagian dari norma normal yang baru. Kita akan masuk pada era normal yang baru. Ini adalah satu-satunya cara kalau kita ingin bisa mengendalikan Covid-19 ini dengan baik," lanjutnya.

Baca Juga: Benarkah COVID-19 Bisa Menular Lewat Udara?

Mengapa Dilakukan "New Normal"?

new normal-1.jpg

Foto: stanford.edu

Pihak Organisasi Kesehatan Dunia mengatakan bahwa COVID-19 ini tampaknya tidak akan pernah hilang. Hal ini disampaikan oleh Dr. Mike Ryan, direktur kedaruratan WHO, yang memperingatkan agar tidak mencoba memprediksi kapan virus corona akan hilang.

"Penting untuk diketahui, bahwa virus ini dapat menjadi virus endemik lain di masyarakat, dan virus ini mungkin tidak akan pernah hilang," kata Dr. Ryan pada konferensi pers virtual, mengutip BBC.com.

Meskipun ada lebih dari 100 vaksin potensial, tetapi dicatat ada penyakit lain, seperti campak, yang masih belum dihilangkan total meskipun sudah ada vaksinnya.

Hal ini juga diungkapkan oleh dr. Achmad Yurianto, yang mengatakan bahwa berdamai bukan berarti menyerah, melainkan perlu beradaptasi untuk mengubah pola hidup lebih sehat.

"Berdamai bukan menyerah, tetapi kita harus beradaptasi untuk mengubah pola hidup kita dengan menjalankan protokol kesehatan yang benar, yang disiplin. Ini yang kita sebut sebagai pola kehidupan yang baru," terangnya.

Baca Juga: Laki-laki Lebih Berisiko Terinfeksi Virus Corona Dibandingkan Perempuan, Begini Penjelasan Ahli

Seperti Apa Risiko dari "New Normal"?

new normal-2.jpg

Foto: voanews.com

Dilakukannya new normal di Indonesia mungkin dapat menjadi perwujudan dari herd immunity, dan pihak pemerintah mungkin juga akan memutuskan untuk melonggarkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Sebelumnya, pihak pemerintah sempat mengeluarkan wacana untuk melonggarkan PSBB, yang kemudian menuai kritik masyarakat. Bukan tidak mungkin akan timbul risiko yang berdampak berbagai sektor, dan masyarakat itu sendiri.

Mengutip artikel VoxEU.org, disebutkan bahwa hingga herd immunity diperoleh, sebagian besar populasi akan terinfeksi. Dampaknya, pemulihan akan jadi lambat dan butuh beberapa tahun.

Bahkan, untuk mencapai kekebalan kawanan tersebut juga membutuhkan waktu yang sangat lama.

Mengambil contoh populasi dari masyarakat Amerika Serikat, Johns Hopkins Medicine menjelaskan bahwa untuk mencapai herd immunity tanpa vaksin, lebih dari 200 juta orang Amerika harus terinfeksi sebelumnya.

"Dengan kata lain, bahkan jika pandemi COVID-19 terus berlanjut dengan lebih dari 25.000 kasus konfirmasi per harinya, maka kita baru bisa mencapai herd immunity di tahun 2021," jelas David Dowdy, Departemen Epidemiologi, Sekolah Kesehatan Masyarakat Johns Hopkins Bloomberg.

Baca Juga: Dianggap Sukses, Ketahui Cara Jerman Menangani Pandemi COVID-19

Adakah Negara Lain yang Sudah Melakukan "New Normal"?

new normal-3.jpg

Foto: reuters.com

Tidak hanya di Indonesia, ada negara-negara lain yang nampaknya sudah mulai atau berencana untuk melakukan new normal ini. Beberapa negara tersebut diantaranya:

1. Kanada

Dampak sosial dari pandemi COVID-19 kemungkinan akan berlanjut hingga Kanada memasuki tahap "new normal," kata kepala petugas kesehatan masyarakat Kanada, Dr. Theresa Tam.

"Tidak akan ada pertemuan publik yang besar," katanya mengutip National Post. Sebaliknya, akan lebih baik memulai pertemuan publik dengan skala lebih kecil dan diawasi dengan cermat.

Selain itu, akan ada perbedaan misalnya masyarakat Kanada akan melihat lebih banyak pembatas kaca, dan tindakan menjaga jarak sosial di toko-toko dan tempat usaha lain.

2. Inggris

Mengutip Sky News, Perdana Menteri Boris Johnson telah menyusun pengaturan untuk melonggarkan kebijakan lockdown.

Menteri Luar Negeri Dominic Raab, mengatakan bahwa orang-orang harus terbiasa dengan "normal baru" karena virus corona, dengan pengaturan social distancing untuk sementara waktu.

Wacana new normal yang akan dilakukan Inggris menitikberatkan pada pentingnya social dan physical distancing, yang dilakukan di segala aspek seperti sektor ekonomi dan bisnis, sekolah, travel, serta bidang lainnya.

3. Filipina

Mengutip situs Siaga COVID-19 Filipina, dinyatakan bahwa area yang bisa dianggap sebagai "new normal" jika tidak lagi melakukan karantina komunitas. Kegiatan luar ruang berkelompok dan pertemuan publik juga diizinkan, asalkan standar kesehatan masyarakat masih diterapkan dan dipatuhi.

Begitu juga dengan moda transportasi di mana sektor jalan, kereta api, maritim, dan penerbangan diizinkan beroperasi dengan mempraktikkan physical distancing.

Pekerjaan di semua kantor publik dan swasta juga akan diizinkan untuk dilanjutkan dalam kapasitas penuh, sementara warga senior dan wanita hamil dapat diberikan pilihan lain untuk pengaturan sistem kerja.

Karena itu, masyarakat di seluruh dunia nampaknya harus menjalani kehidupan new normal termasuk Indonesia, agar bisa tetap beraktivitas meskipun di tengah pandemi.

Itulah pendekatan The New Normal yang akan diterapkan di Indonesia. Bagaimana pendapat Moms?

Artikel Terkait