PASCA MELAHIRKAN
13 Juli 2020

Sudah 15 Tahun, Pengetahuan Ibu Menyusui Belum Capai Target Nasional

Masih banyak ibu belum tahu betapa pentingnya pemberian ASI eksklusif
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Amelia Puteri
Disunting oleh Intan Aprilia

Untuk mendukung tumbuh kembang Si Kecil yang optimal, tentunya Moms perlu memberikan asupan nutrisi cukup dengan ASI eksklusif yang berkualitas.

Mengutip World Health Organization, pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan adalah cara optimal untuk memberi makan bayi. Setelah itu, bayi harus diberikan MPASI dan terus disusui hingga usia 2 tahun atau lebih.

Namun, pengetahuan dan perilaku ibu menyusui di Indonesia nampaknya masih belum memiliki peningkatan yang signifikan, terutama bagi ibu menyusui yang bekerja.

Lalu, apa yang menyebabkan kurangnya pengetahuan dan perilaku terhadap ibu menyusui di Indonesia? Bagaimana langkah yang bisa dibuat untuk mengatasinya? Berikut ini penjelasannya.

Baca Juga: Penanganan Mastitis, Payudara Bengkak pada Ibu Menyusui

Kurangnya Pengetahuan Ibu Menyusui di Indonesia Tentang ASI

pengetahuan dan perilaku ibu menyusui di Indonesia-1

Foto: Orami Stock Photos

Pada acara Media Briefing Health Collaborative Center, disebutkan bahwa dalam 15 tahun terakhir, sejak Riskesdas 2003 hingga 2018, angka prevalensi ASI eksklusif Indonesia tidak membaik, yang hanya berkisar antara 32-38 persen. Angka ini sangat jauh dari target nasional yaitu sebesar 80 persen.

Prevalensi ini membicarakan terkait pengetahuan dan perilaku ibu menyusui, terutama di kalangan ibu pekerja, yang tidak meningkat sesuai target nasional.

Dalam Journal of Korean Medical Science yang berjudul "Breastfeeding Knowledge, Attitude, and Practice among White-Collar and Blue-Collar Workers in Indonesia", ditunjukkan bahwa kurangnya pengetahuan dan perilaku ibu menyusui di Indonesia, terutama pada ibu pekerja.

"Lebih dari 70 persen ibu Indonesia yang merupakan pekerja buruh dan sedang masa menyusui, sama sekali tidak mengerti bahwa menyusui merupakan perilaku sehat yang bisa bermanfaat bagi tumbuh kembang bayi dan juga kesehatan ibu itu sendiri," jelas Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK dari ILUNI Kedokteran Kerja FKUI, dan ketua dari Health Collaborative Center, pada Jumat (20/12/2019) di Restoran Rarampa, Jakarta Selatan.

Ia menambahkan, bahwa hampir 50 persen ibu Indonesia menyusui yang bekerja kantoran belum tahu jika peraturan pemerintah bisa melindungi mereka untuk bebas menyusui atau memompa ASI di kantor tanpa harus takut mendapat sanksi.

Baca Juga: Patut Tahu, Ini 9 Makanan yang Wajib Dikonsumsi Ibu Menyusui

Perkembangan Teknologi Tidak Sejalan dengan Kesadaran Ibu tentang Laktasi

pengetahuan dan perilaku ibu menyusui di Indonesia-2

Foto: Orami Stock Photos

Terlepas dari perkembangan teknologi yang meningkat selama satu dekade lebih, hal ini tidak dibarengi dengan pengetahuan dan perilaku ibu menyusui di Indonesia terhadap betapa pentingnya ASI eksklusif.

"Perkembangan teknologi informasi dan digital di Indonesia yang kelihatannya semakin banyak mengomunikasikan menyusui dan laktasi, nyatanya kurang efektif memberi daya ungkit terhadap pengetahuan laktasi. Sehingga perilaku menyusui juga tidak secara signifikan membaik," terang Dr. Ray lagi.

Meskipun sudah ada peraturan pemerintah tentang perlindungan laktasi di tempat kerja, tetapi penerapannya juga masih belum maksimal. Sehingga, menjadi salah satu pengetahuan dan perilaku ibu menyusui di Indonesia

Padahal, dalam jurnal BioMed Central, peneliti Dr. Ray Basrowi mengungkapkan bahwa suksesnya laktasi pada ibu pekerja tidak hanya menyehatkan tumbuh kembang bayi, tetapi juga membantu mempertahankan status produktivitas kerja.

Baca Juga: 7 Makanan Pelancar ASI untuk Ibu Menyusui

Pentingnya Meningkatkan Kesadaran Para Ibu Menyusui

pengetahuan dan perilaku ibu menyusui di Indonesia-3

Foto: Orami Stock Photos

Dalam meningkatkan pengetahuan dan perilaku ibu menyusui di Indonesia, Dr. Ray Basrowi mengingatkan kepada negara, pemerintah dan masyarakat bahwa peran laktasi tidak mudah dilakukan, terutama bagi ibu pekerja.

Diharapkan, pemerintah dapat memberikan fasilitas yang mendukung proses menyusui. Seperti tempat untuk menyusui, dan juga edukasi laktasi di tempat kerja.

"Hanya 21 dari 100 pekerja perempuan mendapat fasilitas laktasi memadai di tempat kerja, dan 7 dari 100 pekerja mendapatkan program dan edukasi laktasi di tempat kerja. Sementara, hanya 2 dari 10 buruh yang berhasil melakukan ASI eksklusif," terang Dr. Ray.

Ia menambahkan, "Apabila pemerintah belum bisa memberikan cuti melahirkan hingga 6 bulan, maka sangat penting memaksimalkan pemberian dukungan laktasi di tempat kerja, karena sangat penting untuk melindungi peran laktasi Ibu."

Negara-negara maju sudah menjadikan angka pencapaian ASI eksklusif sebagai indikator utama kesehatan bangsa.

Sebaiknya, Indonesia juga harus fokus menjadikan ASI eksklusif dan laktasi sebagai salah satu prioritas pembangunan kesehatan nasional, dengan meningkatkan pengetahuan dan perilaku ibu menyusui di Indonesia.

Artikel Terkait