BALITA DAN ANAK
7 September 2020

Obesitas pada Anak, Ini Penyebab, Risiko, dan Cara Mencegahnya

Beberapa orang tua merasa senang melihat anaknya memiliki berat badan berlebih karena terlihat sehat
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Ria Indhryani
Disunting oleh Dina Vionetta

Saat ini, hampir 1 dari 4 anak dan remaja di negara maju mengalami kelebihan berat badan atau obesitas. Anak-anak yang memiliki indeks massa tubuh (BMI) pada level yang sama atau lebih tinggi dari 95% teman sebayanya dianggap mengalami obesitas.

BMI adalah standar yang digunakan untuk menentukan "status berat badan" seseorang. BMI dihitung menggunakan tinggi dan berat badan, kemudian ditentukan menggunakan jenis kelamin dan usia.

Obesitas pada anak merupakan ancaman kesehatan yang serius bagi mereka kelak. Anak-anak dalam kategori obesitas telah melampaui kelebihan berat badan dan berisiko mengalami sejumlah kondisi kesehatan kronis. Mengutip salah satu jurnal Public Health Perspective, berdasarkan data Riskesda oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tahun 2013, prevalensi overweight dan obesitas pada anak usia 5-12 tahun mencapai 18,8%.

Padahal, kesehatan yang buruk dan berasal dari obesitas di masa kanak-kanak, dapat berlanjut hingga dewasa. Selain itu, obesitas pada anak-anak tidak hanya mempengaruhi kesehatan fisik. Anak-anak dan remaja yang kelebihan berat badan atau obesitas juga dapat menjadi depresi dan memiliki citra diri dan harga diri yang buruk.

Baca Juga: Gemuk Belum Tentu Sehat, Waspadai Dampak Buruk Bayi Obesitas

Penyebab Obesitas Pada Anak

Obesitas anak

Foto: Orami Photo Stocks

Memahami bagaimana anak-anak menjadi obesitas sejak dini merupakan langkah penting untuk memutus siklus tersebut. Dikutip dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) obesitas pada anak dapat dimulai sejak usia balita hingga remaja. Berikut ini adalah beberapa penyebab obesitas terjadi pada anak-anak:

Riwayat Keluarga

Genetika dapat berperan dalam menentukan berat badan anak-anak. Gen kita membantu menentukan tipe tubuh dan bagaimana tubuh menyimpan dan membakar lemak.

Tetapi gen saja tidak bisa menjadi satu-satunya masalah penyebab obesitas saat ini. Karena baik gen maupun kebiasaan diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya, di mana banyak anggota keluarga mungkin senang bergumul dengan berbagai aktifitas keseharian yang sama.

Orang dalam keluarga yang sama cenderung memiliki pola makan, tingkat aktivitas fisik, dan sikap yang sama terhadap kelebihan berat badan. Peluang anak untuk kelebihan berat badan meningkat jika salah satu atau kedua orang tua kelebihan berat badan atau obesitas.

Baca Juga: Apa Benar Gen Orang Tua Pengaruhi Gemuk pada Anak?

Pola Makan yang Buruk

Moms pasti sudah tahu bahwa makanan yang mengandung kadar lemak atau gula tinggi dan sedikit nutrisi, dapat menyebabkan berat badan anak bertambah dengan cepat. Makanan cepat saji, permen, dan minuman ringan adalah penyebab pada umumnya.

IDAI juga menjelaskan bahwa obesitas kebanyakan terjadi karena ketidakseimbangan antara asupan makanan berupa energi yang dihasilkan dengan energi yang dikeluarkan. Kelebihan energi yang ada akan disimpan dalam bentuk jaringan lemak diseluruh tubuh. Padahal, anak-anak membutuhkan makanan yang cukup untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan yang sehat.

Makanan Ringan

Makanan ringan membuat anak obesitas.jpg

Seperti makan ice ceam, camilan asin, dan pasta kalengan juga dapat berkontribusi pada penambahan berat badan yang tidak sehat. Beberapa anak mengalami obesitas karena orang tuanya tidak tahu cara memilih atau menyiapkan makanan sehat. Sementara itu, beberapa keluarga lain mungkin tidak dapat dengan mudah membeli buah-buahan, sayuran, dan daging segar.

Kurangnya Aktivitas Fisik

Anak-anak uang kurang mendapat aktifitas fisik, akan menghantarkannya menjadi seseorang yang obesitas pada masa kanak-kanak. Berapapun usianya, seseorang cenderung menambah berat badan saat mereka kurang aktif.

Olahraga dapat membantu membakar kalori dan mempertahankan berat badan yang sehat. Anak-anak yang tidak didorong untuk aktif cenderung tidak membakar kalori ekstra melalui olahraga, waktu di taman bermain, atau bentuk aktivitas fisik lainnya.

Masalah Psikologis

Kondisi psikilogi juga dapat menyebabkan obesitas pada beberapa anak. Anak-anak dan remaja yang bosan, stres, atau depresi mungkin makan lebih banyak untuk mengatasi emosi negatif mereka.

Baca Juga: Cemilan Sehat Untuk Hadapi Stress

Resiko Obesitas pada Anak

.Obesitas pada Anak, Ini 3 Miskonsepsi Paling Umum.jpg

Foto: Orami Photo Stocks

Anak-anak yang mengalami obesitas berisiko lebih tinggi mengalami masalah kesehatan dibandingkan teman sebayanya yang menjaga berat badan dan hidup sehat. Dikutip dari Healthline, diabetes, penyakit jantung dan asma adalah beberapa risiko yang paling serius.

Diabetes

Diabetes tipe 2 adalah kondisi di mana tubuh seseorang tidak memetabolisme glukosa dengan baik. Diabetes dapat menyebabkan penyakit mata, kerusakan saraf, dan disfungsi ginjal.

Anak-anak dan orang dewasa yang obesitas, lebih mungkin mengembangkan diabetes tipe 2. Namun, kondisinya dapat disembuhkan melalui perubahan pola makan dan gaya hidup.

Penyakit Jantung

Bisa Meningkatkan Resiko Penyakit Jantung, Waspadai Dislipidemia Pada Anak 2.jpg

Kolesterol tinggi dan tekanan darah tinggi meningkatkan risiko penyakit jantung di masa depan pada anak-anak obesitas. Makanan yang terlalu banyak mengandung lemak dan garam dapat menyebabkan peningkatan kadar kolesterol dan tekanan darah. Serangan jantung dan stroke adalah dua komplikasi potensial penyakit jantung.

Asma

Asma adalah peradangan kronis pada saluran udara paru-paru. Obesitas adalah komorbid yang paling umum (ketika dua penyakit terjadi pada orang dan waktu yang sama) dengan asma, tetapi peneliti tidak yakin secara pasti bagaimana kedua kondisi tersebut terkait.

Menurut penelitian terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Asthma Research and Practice, sekitar 38% orang dewasa penderita asma di Amerika Serikat juga mengalami obesitas. Studi yang sama menemukan bahwa obesitas dapat meningkatkan risiko asma yang lebih parah pada beberapa orang.

Baca Juga: 6 Cara Mengobati Asma secara Alami

Gangguan Tidur

Anak-anak dan remaja yang mengalami obesitas juga dapat mengalami gangguan tidur, seperti mendengkur berlebihan dan sleep apnea. Beban ekstra di area leher dapat menghalangi saluran udara mereka.

Nyeri Sendi

Anak Moms mungkin juga mengalami kekakuan sendi, nyeri dan rentang gerak terbatas karena membawa beban badan yang berlebih. Dalam banyak kasus, menurunkan berat badan bisa menjadi salah satu solusi masalah persendian.

Obesitas pada anak tidak hanya berpengaruh pada kondisi kesehatan secara fisik. Menurut situs kesehatan Mayo Clinic, obesitas pada anak juga berpengaruh pada kondisi kesehatan secara mental terkait masalah sosial dan mental. Tiga diantaranya yaitu:

Harga Diri Rendah dan Perasaan Terintimidasi

anak sering minder

Anak-anak sering kali mengejek atau menindas teman-teman mereka yang obesitas. Ini artinya, anak yang obesitas akan kehilangan harga diri dan akhirnya meningkatkan risiko depresi.

Perilaku dan Masalah Belajar

Anak-anak yang obesitas cenderung memiliki lebih banyak kecemasan dan keterampilan sosial yang lebih buruk daripada anak-anak dengan berat badan normal. Masalah-masalah ini dapat menyebabkan anak-anak yang obesitas berontak dan mengganggu kelas belajar atau sekolah mereka, bahkan menarik diri dari pergaulan.

Depresi

Harga diri yang rendah dapat menciptakan perasaan putus asa yang berlebihan, lalu menyebabkan depresi pada beberapa anak yang obesitas.

Baca Juga: 5 Ide Aktivitas Multisensori untuk Anak di Bawah 3 Tahun yang Seru untuk di Rumah

Mencegah Obesitas Pada Anak

cara cegah obesitas anak hero banner magz (1510x849)

Kunci untuk menjaga anak-anak dari segala usia agar tetap memiliki berat badan yang sehat adalah menggunakan pendekatan seluruh keluarga. Menjadikan makan sehat dan olahraga sebagai urusan keluarga adalah hal yang penting.

Libatkan anak Moms dengan membiarkan mereka membantu merencanakan dan menyiapkan makanan sehat. Ajak mereka saat Moms pergi berbelanja. Ajari mereka cara membuat pilihan makanan yang baik.

Cobalah untuk menghindari jebakan umum yang secara tidak langsung bisa mendasari obesitas pada anak, antara lain:

  • Jangan menghargai perilaku baik anak-anak atau mencoba menghentikan perilaku buruknya dengan memberikan imbalan permen atau camilan. Temukan cara lain untuk mengubah perilaku yang tidak baik atau menghargai usahanya.
  • Bahkan bayi berpaling dari botol atau payudara untuk mengirim sinyal bahwa mereka kenyang. Jadi, jika anak Moms sudah kenyang, jangan paksa mereka untuk terus makan. Perkuat gagasan bahwa mereka hanya makan saat lapar.
  • Jangan berbicara tentang "makanan buruk" atau melarang sama sekali semua permen dan camilan favorit. Anak-anak mungkin memberontak dan makan makanan terlarang di luar rumah atau menyelinap secara diam-diam. Sajikan makanan sehat di sebagian besar waktu dan tawarkan camilan sesekali.

Rekomendasi tambahan untuk mencegah obesitas pada anak dari segala usia menurut Kids Health, antara lain:

Bicaralah dengan anak-anak tentang pentingnya makan dengan baik dan menjadi aktif. Jadilah panutan dengan makan dengan baik, berolahraga teratur, dan membangun kebiasaan sehat dalam kehidupan sehari-hari keluarga Moms. Jadikan masalah menjaga kesehatan ini sebagai urusan keluarga yang akan menjadi kebiasaan bagi semua orang.

Baca Juga: Ikuti 4 Gaya Hidup Sehat Ini Agar Terhindar dari Obesitas

Artikel Terkait