BALITA DAN ANAK
22 Mei 2020

Pentingnya Penanganan ODD pada Balita

Ini manfaat treatment ODD dan risikonya bila ODD tidak ditangani
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Fitria Rahmadianti
Disunting oleh Ikhda Rizky Nurbayu

ODD (oppositional defiant disorder) atau gangguan menentang oposisional bisa berdampak negatif jika tidak segera ditangani. Selain intervensi berbasis keluarga, ada beberapa cara penanganan ODD pada balita.

Sering marah, sensitif, membantah, menentang, atau mendendam kepada orang berwenang seperti orang tua adalah ciri anak yang mengalami ODD.

Kondisi ini bisa disebabkan oleh masalah genetik atau faktor lingkungan. Selain itu, banyak anak dan remaja dengan ODD juga memiliki gangguan kesehatan mental lain, seperti:

  • Gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (ADHD)
  • Gangguan tingkah laku
  • Depresi
  • Kecemasan
  • Gangguan pembelajaran dan komunikasi

Pada sebagian anak, ODD akan hilang seiring bertambahnya umur. Namun, sebagian lain terus mengalami masalah tingkah laku.

Baca Juga: 5 Tips Jitu Mendidik Anak dengan Gangguan ODD

Penanganan ODD pada Balita

Penanganan ODD pada Balita.jpg

Foto: Polina Zimmerman from Pexels

Penanganan ODD pada dasarnya berupa intervensi berbasis keluarga, tapi juga bisa melibatkan psikoterapi dan pelatihan lain untuk Si Kecil serta Moms dan Dads. Penanganan ODD sering kali berlangsung selama beberapa bulan atau lebih.

Dilansir oleh situs web Mayo Clinic, dasar penanganan ODD pada balita biasanya termasuk:

  • Pelatihan orang tua. Ahli kesehatan mental yang berpengalaman menangani ODD akan membantu Moms dan Dads melatih keterampilan parenting yang lebih konsisten, positif, dan tidak membuat frustrasi bagi Moms dan Dads maupun Si Kecil. Dalam beberapa kasus, Si Kecil akan ikut pelatihan juga, jadi semua anggota keluarga tahu cara mengatasi masalah.
  • Terapi interaksi orang tua-anak (PCIT). Terapis duduk di balik cermin satu arah dan menggunakan headphone untuk membimbing orang tua menggunakan strategi yang mendorong perilaku positif Si Kecil. Hasilnya, orang tua belajar teknik pengasuhan yang lebih efektif, kualitas hubungan orang tua dan anak membaik, masalah perilakupun berkurang.
  • Terapi individu dan keluarga. Terapi individu dapat membantu Si Kecil belajar mengatur rasa marah dan mengekspresikan perasaan dengan cara yang lebih sehat. Sementara itu, terapi keluarga bisa membantu memperbaiki komunikasi dan hubungan serta membantu anggota keluarga belajar bekerja sama.
  • Pelatihan cara mengatasi masalah kognitif. Jenis terapi ini bertujuan membantu Si Kecil mengidentifikasi dan mengubah pola yang diduga menyebabkan masalah perilaku. Moms dan Si Kecil bekerja sama menghasilkan solusi yang pas untuk kalian berdua, sehingga Moms dan Si Kecil bisa menguasai keterampilan mengatasi masalah yang bisa kalian gunakan sewaktu-waktu.
  • Pelatihan keterampilan sosial. Si Kecil akan merasa lebih fleksibel sekaligus belajar cara berinteraksi dengan teman-teman secara lebih positif dan efektif. Terapi perilaku kognitif juga disarankan bagi anak yang mengalami kecemasan atau depresi.

Baca Juga: 5 Strategi Disiplin Untuk Menghadapi Anak Dengan ODD (Oppositional Defiant Disorder)

Selagi menjalani terapi, masalah lain yang sedang terjadi (misalnya gangguan belajar) juga perlu diatasi karena bisa memperburuk atau bahkan memunculkan gejala ODD jika dibiarkan.

Penggunaan Obat-obatan untuk Menangani ODD

Penggunaan Obat-obatan untuk Penanganan ODD pada Balita.jpg

Foto: Christine Sandu on Unsplash

Situs web Child Mind Institute menyebutkan bahwa obat-obatan biasanya tidak digunakan untuk mengatasi ODD, kecuali Si Kecil juga memiliki gangguan kesehatan mental lain.

Obat-obatan antipsikotik yang dapat mengurangi agresi dan mudah marah, misalnya, sering digunakan pada kasus anak berisiko dikeluarkan dari sekolah atau rumah.

Obat-obatan stimulan digunakan jika Si Kecil impulsif berlebihan, termasuk pada anak yang mengalami ADHD. Sementara itu, obat antidepresan bisa membantu Si Kecil yang mengidap depresi atau kecemasan.

Baca Juga: 6 Gangguan Perilaku Pada Anak yang Tak Boleh Diabaikan

Efek Penanganan ODD pada Balita

Efek Penanganan ODD pada Balita.jpg

Foto: Bessi from Pixabay

Jika ODD segera ditangani, Si Kecil dan orang di sekitarnya bisa merasakan manfaat sebagai berikut:

  • Mengembalikan kepercayaan diri Si Kecil. Hal ini penting untuk masa depannya.
  • Memperbaiki hubungan orang tua dan balita. Hal ini krusial bagi kesehatan dan kebahagiaan rumah tangga.
  • Membangun kembali hubungan positif dengan orang dewasa lain yang penting dalam hidup Si Kecil, seperti guru atau pengasuh

Lalu, apa yang akan terjadi jika penanganan ODD pada balita tidak segera dilakukan?

  • Penolakan dari teman sebaya
  • Sulit membentuk hubungan yang sehat
  • Perselisihan di keluarga terus terjadi
  • Si Kecil sulit mencapai potensinya
  • Jika sesuatu tidak berjalan sesuai keinginan Si Kecil, ia akan berpikir bahwa ini kesalahan orang lain dan bukan kesalahannya sendiri
  • Si Kecil akan berlindung di tempat ia bisa mendapatkan apa yang ia inginkan. Si Kecil jadi kurang berusaha dan lebih banyak memaksa orang yang dekat dengannya. Hal ini bisa membuat hubungan semakin berantakan.

Baca Juga: Moms, Perhatikan 4 Tanda Anak Mengalami Gangguan Kecemasan

Sebagian kecil anak dengan ODD mengalami gangguan perilaku yang lebih parah. Misalnya, tindakan kriminal seperti mencuri, membakar, dan menyakiti orang lain.

Penanganan ODD pada balita yang paling penting adalah menunjukkan kasih sayang dan penerimaan tanpa syarat dan konsisten kepada Si Kecil, bahkan di situasi sulit dan mengganggu.

Proses ini memang akan berat, bahkan bagi orang tua yang sabar sekalipun. Jadi, tetap semangat, ya, Moms, dan jangan terlalu keras terhadap diri sendiri.

Artikel Terkait