2-3 TAHUN
30 Juni 2020

Penyakit Hirschsprung Pada Balita: Gejala, Penyebab, dan Pengobatannya

Waspada jika Si Kecil tampak sering konstipasi
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Wina Andria
Disunting oleh Dina Vionetta

Penyakit hirschsprung pada balita adalah gangguan usus bawaan lahir yang ditandai dengan kesulitan buang air besar akibat feses tertahan di usus besar.

Kondisi bawaan lahir ini biasanya sudah terlihat dalam jangka waktu 48 jam setelah bayi lahir, tapi pada beberapa kasus gejalanya baru bisa dikenali saat anak memasuki usia balita.

Supaya bisa tahu lebih banyak, simak dulu berbagai fakta tentang penyakit hirschsprung berikut ini ya, Moms.

Gejala Penyakit Hirschsprung

Penyakit Hirschsprung Pada Balita Gejala, Penyebab, dan Pengobatannya 1.jpg

Foto: mummysg.com

Menurut National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases, gejala utama penyakit hirschsprung pada balita adalah konstipasi atau obstruksi usus.

Pada bayi baru lahir, penyakit hirschsprung bisa dikenali dari tidak buang air besar selama 48 jam setelah kelahiran. Selain itu, perut bayi terlihat membesar seperti kembung, diare, demam, serta muntah berwarna hijau kecoklatan.

Pada kasus yang tidak terlalu parah, gejala penyakit hirschsprung baru terlihat di usia balita. Biasanya ditandai dengan gejala seperti konstipasi yang bertambah parah, sering tidak nafsu makan, feses kecil dan berair, perut membesar dan kencang, sulit menaikkan berat badan, dan pertumbuhan terlambat.

Baca Juga: Normalkah Bayi yang Baru Lahir Buang Air Besar Terus Menerus?

Penyebab Penyakit Hirschsprung

Penyakit Hirschsprung Pada Balita Gejala, Penyebab, dan Pengobatannya 2.jpg

Foto: indiatvnews.com

Seperti dijelaskan dalam laman Boston Children’s Hospital, penyebab penyakit hirschsprung pada balita adalah ketiadaan sebagian ganglion sel saraf yang berfungsi untuk membantu pergerakan feses di dalam usus sampai akhirnya keluar melalui anus.

Diduga terjadi karena perkembangan tidak sempurna saat dalam kandungan, sel saraf yang seharusnya ada pada bagian ujung usus besar atau area sebelum rektum menjadi tidak lengkap. Akibatnya, sinyal untuk menggerakkan feses ke rektum dan anus pun terputus.

Sayangnya, sampai saat ini belum diketahui secara pasti faktor yang menyebabkan ganglion sel saraf tidak berkembang dengan sempurna di area tersebut.

Namun, diketahui kalau anak dengan sindrom down dan anak berjenis kelamin laki-laki memiliki resiko yang lebih besar.

Baca Juga: 5 Cara Mengobati Buang Air Besar Berdarah, dari Ringan Hingga Berat!

Pengobatan Penyakit Hirschsprung

Penyakit Hirschsprung Pada Balita Gejala, Penyebab, dan Pengobatannya 3.jpg

Foto: slate.com

Sampai saat ini, prosedur operasi masih jadi cara paling efektif untuk menangani penyakit hirschsprung.

Dalam operasi tersebut dokter akan mengambil bagian usus besar yang kehilangan sel saraf, dan kemudian menyambungkan kembali dengan rektum.

Prosedur bisa dilakukan dengan laparoskopi, yaitu operasi minimal invasif yang dilakukan hanya dengan membuat sayatan kecil di perut.

Selama Moms mengikuti rekomendasi dan saran dari dokter, sebagian besar balita penderita penyakit hirschsprung bisa pulih dengan cepat dan kembali buang air besar dengan normal tanpa masalah apapun.

Penyakit hirschsprung pada balita harus ditangani sejak sedini mungkin, karena berbahaya bagi perkembangan dan keselamatan Si Kecil.

Semakin cepat penderita dioperasi, akan semakin cepat pula Si Kecil tumbuh dan berkembang seperti anak seusianya.

Kira-kira, apa yang bisa dilakukan untuk menjaga kesehatan pencernaan balita ya, Moms?

Baca Juga: Bayi Susah Buang Air Besar? Ini Pertolongan Pertama yang Bisa Dilakukan

Artikel Terkait