2-3 TAHUN
31 Agustus 2020

Kenali Penyebab, Tanda, dan Perawatan Autisme pada Anak Sejak Dini

Ada beberapa terapi yang harus diberikan pada anak
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Adeline Wahyu
Disunting oleh Ikhda Rizky Nurbayu

Bukanlah hal yang mudah untuk mengetahui apakah anak mengidap autisme atau tidak. Apalagi jika tidak ada riwayat keluarga yang mengalami autisme.

Dikutip dari situs Centers for Disease Control and Prevention (CDC), autisme merupakan gangguan perkembangan yang mempengaruhi fungsi sosial, komunikasi, dan cara berperilaku seseorang.

Banyak yang bertanya, apakah memberikan vaksin pada anak merupakan salah satu penyebab autisme?

“Tidak, vaksinasi tidak menyebabkan autisme. Berbagai penelitian telah dilakukan atas pertanyaan ini dan tidak ada satupun bukti yang menyatakan hubungan vaksinasi dengan penyebab autisme,” jelas M. Daniele Fallin, direktur Center for Autism and Developmental Disabilities.

Autism Spectrum Disorder (ASD) adalah berbagai gangguan perkembangan saraf yang sebagian besar ditandai dengan gangguan fungsi sosial dan gangguan komunikasi.

Gejala dapat berupa fokus yang intens pada satu item, tidak responsif, kurang memahami isyarat sosial (seperti nada suara atau bahasa tubuh), gerakan berulang, atau perilaku yang melecehkan diri sendiri seperti membenturkan kepala.

Baca Juga: Bagaimana Mendampingi Anak yang Mengidap Autisme?

Tingkat keparahan gejala sangat bervariasi pada setiap orang. Gejala lain yang mungkin terjadi termasuk belajar berbicara relatif terlambat, tidak bermain secara interaktif dengan anak-anak lain, menghindari kontak mata, kurangnya empati, dan penarikan diri dari pergaulan.

Anak-anak dengan ASD yang belum mengembangkan keterampilan bahasa yang memadai dapat bertingkah, termasuk berteriak atau menangis, untuk mengungkapkan kebutuhan mereka. Penting untuk dicatat bahwa orang dengan ASD dapat sangat bervariasi dalam tingkat fungsinya, dan tidak semua orang dengan ASD akan mengalami semua gejala yang terdaftar.

Penyebab Autisme pada Anak sejak Dini

Lalu sebenarnya, apa penyebab autisme pada anak? Simak penjelasannya di bawah ini.

1. Genetik

Autisme Keturunankah Ini 4 Faktor Terjadinya Autisme 1.jpg

Foto: raisingchildren.net.au

Penyebab autisme yang pertama adalah adanya faktor genetik. Namun tidak serta-merta faktor genetik yang menjadi penyebab autisme pada anak. Terdapat faktor lingkungan juga yang berperan dalam prosesnya.

Kelainan genetik yang menjadi penyebab autisme dikarenakan adanya faktor metabolik dan biokimia yang menyebabkan adanya gangguan pada spektrum autisme.

Diterangkan oleh CDC, anak yang memiliki adik atau kakak yang mengidap autisme, beresiko mengalami kasus yang sama.

2. Paparan Pestisida

Autisme Keturunankah Ini 4 Faktor Terjadinya Autisme 2.jpeg

Foto: amazonaws.com

Faktor pestisida yang tinggi juga dapat menjadi penyebab autisme.

Beberapa penelitian menunjukkan adanya paparan pestisida yang tinggi dapat beresiko membuat seseorang mengidap autisme.

Paparan pestisida dapat mempengaruhi fungsi gen dalam sistem saraf pusat dan dapat berdampak pada seseorang yang memiliki bakat autisme.

Baca Juga: 4 Gejala Autisme pada Balita dan Cara Mengenalinya

3. Obat-obatan

Autisme Keturunankah Ini 4 Faktor Terjadinya Autisme 3.jpg

Foto: cloudfront.net

Penyebab autisme tidak hanya dari faktor genetik saja, namun obat-obatan yang dikonsumsi ibu hamil dapat berpengaruh pada janin.

Mengkonsumsi obat yang mengandung valproic acid dan thalidomide saat hamil dapat meningkatkan risiko anak mengidap autisme di kemudian hari.

Kandungan thalidomide dahulu digunakan sebagai obat untuk mengurangi rasa mual di pagi hari, insomnia, dan kecemasan. Lalu kemudian, obat jenis ini ditarik dari pasar setelah dikaitkan dengan cacat lahir anak.

Konsultasikan kepada dokter kandungan terkait penggunaan obat selama kehamilan.

4. Umur Orang Tua

Autisme Keturunankah Ini 4 Faktor Terjadinya Autisme 4.jpg

Foto: pinimg.com

Ternyata faktor usia dapat menjadi penyebab autisme pada anak.

Para peneliti menemukan bahwa ibu yang melahirkan anak dalam usia di atas 40 tahun memiliki risiko 50 persen lebih kuat untuk memiliki anak dengan autisme.

Hal ini dipengaruhi oleh kualitas sperma dan sel telur orang tua yang dapat berpengaruh pada genetis anak.

Baca Juga: 3 Pilihan Kegiatan untuk Anak Autisme, Bisa Jadi Favorit Buah Hati

Tanda dan Gejala Autisme Awal pada Anak

tanda autisme pada anak

Foto: Orami Photo Stock

Jika autisme diketahui sejak dini atau anak masih bayi, pengobatan dapat memanfaatkan sepenuhnya plastisitas otak muda anak yang luar biasa. Meskipun autisme sulit didiagnosis sebelum 24 bulan, gejala sering muncul antara 12 dan 18 bulan.

Jika tanda-tanda terdeteksi pada usia 18 bulan, perawatan intensif dapat membantu memperbaiki otak dan membalikkan gejala.

Tanda-tanda awal autisme melibatkan tidak adanya perilaku yang khas, bukan adanya perilaku atipikal, sehingga sulit dikenali. Dalam beberapa kasus, gejala awal autisme bahkan disalahartikan sebagai tanda "bayi yang baik", karena bayi mungkin tampak pendiam, mandiri, dan tidak menuntut. Namun, Moms dapat mengetahui tanda peringatan lebih awal jika tahu apa yang harus diperhatikan.

Beberapa bayi yang autis tidak menanggapi pelukan, menjangkau untuk digendong, atau menatap ibunya saat diberi makan. Hal yang tidak akan dilakukan anak yang mengalami autisme adalah:

  • Lakukan kontak mata, seperti melihat kita saat diberi makan atau tersenyum saat tersenyum.
  • Beri tanggapan terhadap namanya, atau suara yang dikenalnya.
  • Ikuti objek secara visual atau ikuti gerakan Moms saat menunjukkan sesuatu.
  • Arahan atau lambaian selamat tinggal, atau gunakan gerakan lain untuk berkomunikasi.
  • Rewel untuk menarik perhatian.
  • Menanggapi pelukan atau jangkau kita untuk dijemput.
  • Bermain dengan orang lain atau bagikan minat dan kesenangan anak
  • Memperhatikan atau peduli jika Moms merasa tidak nyaman.

Bagaimana Orang Tua Bisa Melihat Tanda Autisme pada Anak?

deteksi autisme pada anak

Foto: Orami Photo Stock

Sebagai orang tua, Moms tentu harus bisa melihat tanda peringatan awal autisme pada Si Kecil sejak dini. Kita pasti mengenal anak kita dengan lebih baik daripada siapa pun, dan mungkin akan mengamati perilaku dan kebiasaan yang mungkin tidak biasa atau normal.

Dokter anak Moms bisa mengamati anak lebih lanjut dan memberikan diagnosis terkait kondisi anak, tetapi jangan mengabaikan pentingnya pengamatan dari kita sendiri. Kuncinya adalah mengenal anak kita dengan lebih baik lagi dengan mengamatinya. Berikut yang bisa Moms lakukan.

1. Pantau Perkembangan Si Kecil

Autisme melibatkan berbagai keterlambatan perkembangan, jadi perhatikan baik-baik kapan atau apakah Si Kecil mencapai tonggak sosial, emosional, dan kognitif anak. Ini adalah cara yang efektif untuk menemukan gangguan autisme pada anak sejak dini.

Meskipun keterlambatan perkembangan tidak secara otomatis mengarah ke autisme, hal itu mungkin menunjukkan peningkatan risiko.

Baca Juga: 3 Perkembangan Anak yang Butuh Perhatian Serius

2. Ambil Tindakan Jika Moms khawatir

Setiap anak berkembang dengan kecepatan yang berbeda, jadi Moms tidak perlu panik jika anak sedikit terlambat untuk berbicara atau berjalan.

Berkenaan dengan perkembangan yang sehat, ada banyak istilah "tipikal". Tetapi jika anak Moms tidak mencapai tonggak perkembangan sesuai usianya, atau mencurigai adanya masalah, segera sampaikan kekhawatiran kita kepada dokter anak. Jangan menunggu lagi ya Moms.

3. Jangan Menerapkan Pendekatan Menunggu dan Melihat

Banyak orang tua yang khawatir diberi tahu, "jangan khawatir" atau "tunggu dan lihat dulu." Tetapi menunggu adalah hal terburuk yang dapat Moms lakukan.

Kita berisiko kehilangan waktu yang berharga pada usia di mana anak Moms memiliki peluang terbaik untuk berkembang. Selain itu, apakah keterlambatan itu disebabkan oleh autisme atau beberapa faktor lain, anak-anak yang mengalami keterlambatan perkembangan tidak mungkin begitu saja "keluar dari" masalah mereka.

Untuk mengembangkan keterampilan di bidang di mana anak mengalami keterlambatan, Si Kecil membutuhkan bantuan ekstra dan perawatan yang khusus.

4. Percaya pada Insting Kita

Idealnya, dokter anak akan menanggapi kekhawatiran Moms dengan serius dan melakukan evaluasi menyeluruh untuk mengetahui autisme atau keterlambatan perkembangan lainnya pada anak.

Namun terkadang, bahkan dokter juga bisa lewat melihat tanda ini. Dengarkan naluri kita jika memang merasa ada sesuatu yang salah pada anak, dan lakukan sesuai dengan apa yang naluri kita katakan. Jadwalkan pertemuan lanjutan dengan dokter, dapatkan pendapat kedua, atau minta rujukan ke spesialis perkembangan anak langsung.

Baca Juga: 7 Tips Mengasuh Anak dengan Autisme

Pengobatan untuk Autisme pada Anak

terapi untuk anak autis

Foto: Orami Photo Stock

Jenis perawatan yang diterima anak untuk gangguan spektrum autisme bergantung pada kebutuhan pribadinya. Karena ASD adalah gangguan spektrum (artinya beberapa anak memiliki gejala ringan dan yang lain memiliki gejala parah) dan setiap anak yang mengidapnya itu unik, ada berbagai perawatan yang bisa dilakukan.

Perawatan bisa mencakup berbagai jenis terapi untuk meningkatkan kemampuan bicara dan perilaku, dan terkadang obat-obatan juga akan diberikan yang terkait dengan autisme.

1. Perawatan Perilaku dan Komunikasi

  • Applied Behavior Analysis (ABA)

ABA sering digunakan di sekolah dan klinik untuk membantu anak mempelajari perilaku positif dan mengurangi perilaku negatif.

Pendekatan ini dapat digunakan untuk meningkatkan berbagai macam keterampilan, dan terdapat tipe yang berbeda untuk situasi yang berbeda, termasuk: Discrete trial training (DTT), ini adalah pelatihan uji coba diskri menggunakan pelajaran sederhana dan penguatan positif. Pivotal response training (PRT), cara ini membantu mengembangkan motivasi untuk belajar dan berkomunikasi. Early intensive behavioral intervention (EIBI), ini paling baik untuk anak di bawah usia 5 tahun. Verbal behavior intervention (VBI), cara ini berfokus pada keterampilan bahasa.

  • Developmental, Individual Differences, Relationship-Based Approach (DIR)

Perawatan semacam ini lebih dikenal dengan Floortime. Hal ini dikarenakan Moms harus duduk bersama anak untuk bermain dan melakukan aktivitas yang disukainya.

Ini dimaksudkan untuk mendukung pertumbuhan emosional dan intelektual dengan membantunya mempelajari keterampilan seputar komunikasi dan emosi.

  • Treatment and Education of Autistic and Related Communication-handicapped Children (TEACCH)

Jenis perawatan pada anak autisme ini menggunakan isyarat visual seperti kartu bergambar untuk membantu anak Moms mempelajari keterampilan sehari-hari seperti berpakaian. Informasi dipecah menjadi langkah-langkah kecil sehingga dia dapat mempelajarinya dengan lebih mudah.

  • The Picture Exchange Communication System (PECS)

Ini adalah perlakuan berbasis visual lainnya, tetapi menggunakan simbol, bukan kartu bergambar. Anak Moms akan belajar mengajukan pertanyaan dan berkomunikasi melalui simbol khusus.

  • Occupational Therapy

Jenis perawatan ini membantu anak mempelajari keterampilan hidup seperti memberi makan dan berpakaian sendiri, mandi, dan memahami cara berhubungan dengan orang lain. Keterampilan yang dia pelajari dimaksudkan untuk membantunya hidup mandiri sebisa mungkin.

Baca Juga: Ini 4 Metode Terapi Berbicara Terbaik Untuk Balita

  • Sensory Integration Therapy

Jika Si Kecil mudah marah terhadap hal-hal seperti cahaya terang, suara tertentu, atau perasaan disentuh, terapi ini dapat membantunya belajar menghadapi informasi sensorik semacam itu.

2. Menggunakan Obat-obatan

Tidak ada obat untuk gangguan spektrum autisme, dan saat ini tidak ada obat untuk mengobatinya. Tetapi beberapa obat dapat membantu dengan gejala terkait seperti depresi, kejang, insomnia, dan masalah fokus.

Penelitian telah menunjukkan bahwa pengobatan paling efektif jika dikombinasikan dengan terapi perilaku.

Risperidone (Risperdal) adalah satu-satunya obat yang disetujui oleh FDA untuk anak-anak dengan gangguan spektrum autisme. Ini dapat diresepkan untuk anak-anak berusia antara 5 dan 16 tahun untuk membantu mengatasi iritabilitas.

Beberapa dokter akan meresepkan obat lain, termasuk selective serotonin reuptake inhibitor (SSRI), obat anticemas, atau stimulan, tetapi obat tersebut tidak disetujui FDA untuk gangguan spektrum autisme. Ada baiknya Moms bicarakan dengan dokter anak tentang apakah ada obat yang dapat mengatasi gejalanya.

3. Nutrisi untuk Anak

Para ahli tidak merekomendasikan diet khusus untuk anak-anak dengan gangguan spektrum autisme, tetapi mendapatkan nutrisi yang tepat itu penting. Terkadang anak-anak dengan ASD membatasi makanan mereka atau orang tua mencoba menghilangkan hal-hal seperti gluten untuk melihat apakah itu membantu gejala membaik.

Namun, tidak ada penelitian yang membuktikan bahwa menghilangkan gluten atau kasein (protein dalam gandum dan produk susu) dari makanan anak adalah pengobatan yang bermanfaat untuk ASD, dan membatasi makanan seperti produk susu dapat mencegah perkembangan tulang yang tepat.

Baca Juga: 7 Cara Menyenangkan Agar Anak Mau Menghabiskan Makanan

Anak-anak dengan gangguan spektrum autisme cenderung memiliki tulang yang lebih tipis dibandingkan anak-anak tanpa gangguan spektrum autisme, jadi makanan pembangun tulang itu penting. Moms mungkin ingin bekerja dengan ahli gizi atau ahli diet terdaftar untuk membuat rencana makan yang sehat.

Itulah beberapa penyebab autisme yang dapat Moms ketahui. Konsultasikan dengan dokter terkait untuk mendapatkan informasi lebih lanjut.

Artikel Terkait