KEHAMILAN
9 Juni 2020

Penyebab dan Pencegahan Epilepsi Saat Hamil, Moms Perlu Tahu

Epilepsi merupakan kondisi yang cukup membahayakan bagi ibu hamil
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Phanie Fauziah
Disunting oleh Dina Vionetta

Epilepsi merupakan gangguan kesehatan kronis yang ditandai dengan kejang yang berulang dan tidak dapat diprediksi.

Dikutip dari American Pregnancy Associations, kejang atau disfungsi fisiologis adalah keadaan di mana neuron akan menghasilkan pelepasan listrik yang berlebihan.

Moms perlu mengetahui kondisi kronis seperti epilepsi selama kehamilan, mengenai penyebab yang dapat membahayakan bayi dalam kandungan, serta bagaimana cara pencegahannya.

Penyebab Epilepsi saat Hamil

Penyebab dan Pencegahan Epilepsi Saat Hamil.jpg

Foto: promedicahealthconnect.org

National Health Service UK mengatakan kehamilan dapat menyebabkan stres fisik dan emosional, serta meningkatnya kelelahan, kejang akan menjadi lebih sering dan parah.

Kemungkinan alasan peningkatan kejang adalah obat antikonvulsan.

Obat ini cenderung bekerja secara berbeda selama kehamilan, kemungkinan obat tidak terserap selama kehamilan, bahkan tidak dapat bekerja sama sekali.

Kondisi mual dan muntah di awal kehamilan juga dapat membuat obat keluar kembali sebelum memiliki efek penuh.

Biasanya dokter akan memberi resep sesuai dengan kebutuhan.

Transmisi informasi dari sel saraf ke sel saraf terjadi melalui proses elektrokimia.

Pola abnormal dalam aktivitas listrik dapat menyebabkan kejang, bahkan hingga berulang.

Baca Juga: Ini Penyebab Epilepsi pada Bayi, Yuk Cari Tahu!

Risiko Epilepsi saat Hamil

Penyebab dan Pencegahan Epilepsi Saat Hamil 2.jpg

Foto: momjunction.com

Epilepsi dapat meningkatkan risiko cedera janin deselerasi detak jantung janin, pemisahan prematur plasenta dari uterus, hingga yang paling fatal adalah keguguran.

Jenis kejang yang disebabkan epilepsi dapat menyebabkan komplikasi.

Kejang parsial atau tidak ada kejang sama sekali, maka risiko terhadap bayi sangat minimal.

Berbeda dengan kejang tonik-klonik yang dapat meningkatkan risiko cedera pada ibu dan bayi.

Saat mengalami jenis kejang tersebut, Moms bisa mengalami gangguan pernapasan sementara.

Meskipun risiko minim pada ibu, namun gangguan ini dapat menyebabkan bayi dalam kandungan kekurangan oksigen.

Baca Juga: Epilepsi pada Masa Kehamilan: Penyebab, Gejala, Risiko, dan Pengobatannya

Pencegahan Epilepsi saat Hamil

Penyebab dan Pencegahan Epilepsi Saat Hamil 3.jpg

Foto: healthandsymptoms.com

Columbia University Department of Neurology mengatakan bahwa wanita hamil dengan epilepsi membutuhkan pemantauan ketat terhadap penyakit dan kesehatan janin.

Untuk mencegah epilepsi saat hamil, sebagian wanita diobati dengan obat antikonvulsan.

Pemantauan obat-obatan ini penting untuk kontrol kejang yang berkelanjutan dan pengurangan efek samping.

Biasanya dokter akan memberikan dosis obat sesuai dengan kondisi dan kebutuhan.

Sedini mungkin, periksakan kehamilan Moms ke dokter kandungan untuk mendiskusikan dan merencanakan perawatan selama kehamilan.

Jika memang diperlukan, Moms bisa berkonsultasi juga dengan ahli saraf. Moms akan ditawari scan ultrasound untuk mendeteksi masalah perkembangan bayi.

Moms harus lebih rutin memeriksakan kandungan dibandingkan dengan wanita hamil lainnya.

Moms perlu pemindaian tambahan atau tes darah untuk memeriksa tingkat obat anti-epilepsi dalam darah, tergantung pada AED yang Moms ambil.

Jika Moms khawatir akan mewarisi epilepsi pada bayi, Moms dapat berdiskusi dengan tim perawat mengenai hal tersebut.

Pengobatan selama kehamilan akan memengaruhi bayi seperti cacat lahir, langit-langit mulut sumbing, cacat tabung saraf, kelainan tulang, dan kelainan jantung bawaan.

Jika Moms memiliki riwayat epilepsi, namun tidak mengalaminya dalam waktu yang cukup lama, Moms tetap perlu melakukan perawatan kehamilan untuk menghindari kambuhnya epilepsi selama kehamilan.

Baca Juga: Benarkah Diet Ketogenik Baik Untuk Anak Penderita Epilepsi?

Artikel Terkait