KESEHATAN
19 Oktober 2017

Penyebab, Gejala, dan Cara Mengobati Osteoporosis dengan Tepat

Gejala osteoporosis bisa menyasar beberapa bagian di tubuh. Kenali gejalanya untuk pengobatan yang tepat.
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh (ade.ryani)
Disunting oleh (ade.ryani)

Osteoporosis adalah penyakit terkait kondisi tulang yang mengalami penurunan kepadatan. Biasanya terjadi di usia lanjut sekitar 50-70 tahun dimana wanita lebih berpotensi mengalaminya.

Tapi jangan salah, anak-anak dan remaja juga bisa terkena penyakit osteoporosis, lo, Ma.

Terutama jika mereka kurang mengkonsumsi makanan yang mengandung kalsium. Di samping itu osteoporosis juga bisa terjadi jika terjadi cedera tulang yang mengakibatkan tulang pecah dan butuh waktu lama untuk proses regenerasinya (penyembuhan).

Baca Juga: Sedang Musim Sakit, Ini Cara Mengobati Flu pada Anak

Penderita osteoporosis pada tahap awal tidak akan menyadari gejala-gejala yang timbul. Umumnya mereka akan baru merasakan tulangnya bermasalah pada saat tulang sudah mengeropos di bagian yang paling umum yaitu tulang pinggul, tulang belakang, dan pergelangan tangan.

Lalu bagaimana cara mengobatinya?

1. Pengobatan Non Hormon

Untuk mengobati osteoporosis bisa dilakukan dengan pemberian beberapa obat yang bisa merangsang pertumbuhan jaringan kepadatan tulang seperti jenis-jenis obat seperti berikut.

  • Bisphosphonate

Obat ini berfungsi untuk menjaga kepadatan tulang dan bisa juga mengurangi cedera pengeroposan tulang. Bisphosphonate bekerja dalam tubuh dengan cara melambatkan pergerakan sel yang bisa meluruhkan tulang atau Osteoclast. Biasanya diberikan dalam bentuk suntikan ataupun tablet.

Untuk mendapatkan obat ini, konsultasikan dulu dengan dokter yang berpengalaman. Jika tidak, akan menimbulkan efek samping yang cukup parah seperti gangguan kerongkongan yang mengakibatkan tidak bisa menelan dengan mudah, sakit perut, dan gangguan rahang.

  • Kalsium dan Suplemen Vitamin D

Seperti banyak diketahui, tulang sangat membutuhkan kalsium untuk berkembang dan memperbaiki bagian tubuh yang rusak.

Untuk itu, baik dalam tahap pencegahan ataupun pengobatan kalsium juga sama-sama diperlukan. Angka Kebutuhan Gizi Harian pada orang dewasa mencapai 1000-1100 mg/hari.

Jika Mama tidak merasa cukup kalsium di makanan yang dikonsumsi sehari-hari, maka wajib bagi Mama untuk menambahkan kalsium dalam bentuk lain seperti susu, atau suplemen kalsium. Untuk memaksimalkan penyerapan kalsium dalam tubuh dibutuhkan juga suplemen vitamin D.

  • Strontium Ranelate

Obat macam ini biasanya berbentuk bubuk dan untuk meminumnya tinggal dilarutkan dalam air. Karena sistem respon tubuh orang berbeda-beda, Strontium ranelate bisa dijadikan alternatif kalau penderita tidak mengalami perubahan yang berarti setelah mengkonsumsi bisphosphonate dalam jangka waktu yang cukup lama.

Strontium ranelate bekerja untuk merangsang sel-sel yang bisa membentuk jaringan tulang yang baru atau dikenal dengan istilah Osteoblast dan menghentikan kerja sel peluruh tulang.

Baca Juga: 10 Makanan yang Mengandung Kalsium, Baik Dikonsumsi Ibu dan Anak

2. Pengobatan Hormon

Mengobati osteoporosis juga bisa dilakukan dengan cara pengobatan hormon yang bisa dilakukan dengan beberapa tindakan berikut.

  • Kalsitonin

Hormon ini bisa diproduksi secara alami oleh tubuh lewat kelenjar tiroid yang bisa membantu memperbaharui kepadatan tulang.

Jika dalam kasus penderita osteoporosis, biasanya hormon yang dihasilkan oleh tubuh kurang maksimal bekerja. Maka dari itu perlu ada suntikan hormon jenis ini oleh tindakan dokter.

  • SERMs (Selective Estrogen Receptor Modulators)

Untuk Anda yang mengalami pengeroposan tulang di bagian tulang punggung, jenis obat ini cocok untuk Anda. Jenis yang paling banyak ditemui adalah bentuk tablet yaitu Raloxifene.

Untuk dosisnya harus atas petunjuk dokter. Adapun efek samping dari obat ini adalah bisa jadi penyebab penggumpalan darah, keram pada otot kaki, dan produksi keringat bisa meningkat pada malam hari.

  • Hormon paratiroid (PTH)

Untuk kasus penderita yang tingkat kepadatan tulangnya sangat rendah, menyuntikan hormon PTH bisa jadi alternatif lainnya. Jika pasien memiliki reaksi tubuh yang negatif, setelah tindakan biasanya akan merasa mual dan ingin muntah.

(LMF)

Artikel Terkait