3-5 TAHUN
31 Agustus 2020

Keputihan pada Anak Perempuan, Apakah Berbahaya?

Dipahami dengan baik ya, Moms!
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Amelia Puteri
Disunting oleh Intan Aprilia

Kalau orang dewasa mengalami keputihan mungkin itu adalah hal yang wajar.

Namun, bagaimana jika terjadi kondisi keputihan pada anak? Tentu Moms akan sangat panik bila mendapati kondisi ini terjadi pada Si Kecil.

Terlebih jika dia masih dalam usia yang terbilang cukup muda dan belum menstruasi.

Benarkah kondisi ini bisa terjadi? Kalau begitu apa sebenarnya penyebab keputihan pada anak?

Cari tahu lebih lanjut tentang kondisi keputihan pada anak perempuan berikut ini.

Baca Juga: 6 Cara Menghilangkan Keputihan saat Hamil

Pengertian Keputihan pada Anak

penyebab keputihan pada anak

Foto: todaysparent.com

Mengutip Teen's Health, keputihan yang normal memiliki beberapa tujuan: membersihkan dan melembabkan vagina, serta membantu mencegah dan melawan infeksi.

Warna, tekstur, dan jumlah keputihan biasanya berubah pada waktu yang berbeda dalam sebulan selama siklus menstruasi seorang gadis. Tetapi beberapa perubahan dalam pelepasan mungkin berarti ada masalah.

Mirip seperti orang dewasa, keputihan pada anak adalah bercak putih yang muncul di area vital anak. Seringkali bercaknya tidak hanya putih, melainkan berwarna kuning, kehijauan, hingga merah.

Kondisi ini seringkali terjadi dan umumnya keputihan anak-anak berwarna bening, tidak berbau, dan tidak menimbulkan rasa panas atau gatal di area kemaluan.

Jika di luar ciri-ciri tersebut, maka bisa dipastikan perlu pemeriksaan dari dokter.

Baca Juga: Keputihan saat Hamil: Penyebab, Jenis, dan Cara Mengatasi

Penyebab Keputihan pada Anak

penyebab keputihan pada anak

Foto: babygooroo.com

Keputihan pada anak terbagi dua, yaitu keputihan fisiologis dan keputihan patologis.

Masing-masing punya penyebab dan penanganan yang berbeda untuk mendapatkan hasil penyembuhan yang maksimal bagi Si Kecil.

1. Keputihan Fisiologis

penyebab keputihan pada anak

Foto: yummymummyclub.ca

Keputihan fisiologis pada anak adalah kondisi normal dengan ditandai adanya cairan berwarna bening atau putih dan tidak berbau yang keluar dari vagina Si Kecil.

Seringkali kondisi ini disebabkan oleh cara memakai pakaian dalam yang kurang tepat, proses pembersihan alat kelamin yang tidak benar, dan penggunaan popok yang tidak higienis.

Sebelum memakaikan celana dalam atau popok untuk anak, Moms harus pastikan dulu kalau area kemaluannya benar-benar kering.

Gunakan kain atau tisu kering yang lembut untuk menghilangkan bekas air. Untuk proses pembersihan alat kelamin, sama seperti orang dewasa, Moms harus membersihkannya dari bagian depan ke belakang, bukan sebaliknya.

Moms juga harus menghindari penggunaan popok lebih dari tiga jam. Menurut American Pregnancy Association (APA), Moms harus mengganti popok bayi setiap dua hingga tiga jam sekali karena bayi yang baru lahir buang air kecil sekitar 20 kali sehari selama beberapa bulan pertama kehidupan mereka.

Walau untuk usia yang lebih besat kurang dari itu, tetapi bukan berarti harus diabaikan. Meskipun popok anak belum penuh, ada baiknya Moms tetap ganti untuk menghindari area kemaluannya jadi lembap dan gatal.

2. Keputihan Patologis

penyebab keputihan pada anak

Foto: romper.com

Berbeda dengan keputihan fisiologis, keputihan patologis sering disebabkan oleh infeksi dari jamur, bakteri, hingga parasit.

Dikutip dari Baltimore Sun, dokter Modena Wilson, direktur pediatri umum di Johns Hopkins Children's Center, mengungkapkan kalau benda asing jugs termasuk penyebab keputihan pada anak.

"Keputihan seringkali menunjukkan adanya benda asing yang telah bersarang di vagina, misalnya kertas toilet," ujarnya.

Selain kertas toilet, beberapa benda yang jadi penyebab umum keputihan pada anak adalah benda asing non-infeksi, seperti bedak, salep, parfum, pewarna dalam deterjen, pelembut kain, dan cairan lainnya.

Infeksi ragi vagina, cacing kremi bisa jadi penyebab keputihan pada anak.

Kondisi keputihan pada anak yang paling berbahaya adalah vaginitis yaitu penyakit yang disebabkan oleh penyakit menular seksual akibat virus dan bakteri.

Moms perlu curiga dengan orang di sekitar, sebab kondisi ini disebabkan oleh hubungan seksual.

Bisa jadi Si Kecil mengalami pelecehan seksual yang tidak disadarinya. Sehingga Moms harus segera memeriksakannya.

Jika Si Kecil merasa gatal dan tidak nyaman di area vaginanya yang disertai demam dan cairan keputihan yang berbau tak sedap, sebaiknya Moms segera hubungi dokter.

Baca Juga: Lendir Serviks Seperti Putih Telur, Bisa Jadi Tanda Keputihan

Gejala Keputihan pada Anak

gejala keputihan pada anak

Foto: Orami Photo Stock

Terjadi keputihan pada anak saja tidak berarti ada infeksi. Tetapi jika Si Kecil juga mengalami tanda-tanda lain berikut ini, Si Kecil harus menemui dokter atau perawat:

  • Vagina gatal, terbakar atau iritasi
  • Bau tidak sedap yang berlangsung lebih dari satu hari pasien berbicara dengan dokter
  • Nyeri di perut bagian bawah
  • Keputihan yang kental dan berwarna putih
  • Lepuh, benjolan atau luka di area genital
  • Adanya rasa sakit ketika buang air kecil

Penting agar Moms berkonsultasi ke dokter bila mengalami kondisi seperti: obat sudah habis tetapi masih ada gejala infeksi vagina, Si Kecil mengalami demam, bila anak merasa sakit, atau jika Moms memiliki pertanyaan.

Baca Juga: Benarkah Bawang Putih Bisa Mencegah Keputihan?

Cara Mengatasi Keputihan pada Anak

cara mengatasi keputihan pada anak

Foto: Orami Photo Stock

Dalam jurnal Obstretics & Gynaecology Wiley Online Library, kasus keputihan pada anak gadis prapubertas tidak diketahui. Namun, ini adalah keluhan ginekologi yang paling umum pada kelompok usia ini.

Usia rujukan yang paling sering adalah pada anak di usia antara 3-10 tahun. Mayoritas anak perempuan didiagnosis dan dirawat oleh dokter umum dan hanya menjadi perhatian dokter ketika gejalanya resisten terhadap pengobatan atau terjadi berulang.

Jika Si Kecil mengalami kondisi keputihan pada anak, Moms tak usah panik dan khawatir. Berikut adalah beberapa cara sederhana yang dapat dilakukan di rumah.

1. Yogurt

Yogurt diketahui mengandung bakteri baik yang dapat membantu melawan jamur. Konsumsilah yogurt polos tanpa pemanis, karena jika menambahkan pemanis, maka infeksi akan semakin parah. Si Kecil dapat mengonsumsinya secara rutin.

2. Bawang Putih

Bawang putih tidak hanya bermanfaat sebagai bumbu masakan. Namun, rupanya bawang putih juga merupakan salah satu pengobatan rumahan yang efektif untuk mengobati infeksi jamur.

Bawang putih memiliki zat anti jamur yang dapat membantu mengobati infeksi jamur. Tambahkanlah bawang putih pada makanan untuk membantu mengatasi keputihan pada anak.

3. Cuka Sari Apel

Cuka sari apel diketahui ternyata mampu membantu meringankan infeksi jamur, termasuk juga keputihan pada anak. Cuka tersebut dapat mengembalikan kadar asam vagina hingga normal.

Cara menggunakannya, Moms bisa membilas bagian tubuh yang terkena infeksi. Tapi gunakanlah secukupnya, karena cuka sari apel mempunyai efek yang sangat kuat.

Baca Juga: Jangan Garuk Saat Keputihan Gatal! Simak Penjelasannya

Jenis Obat untuk Keputihan pada Anak

jenis obat untuk keputihan pada anak

Foto: Orami Photo Stock

Mengutip Nationwide Children's, jenis infeksi vagina yang berbeda, termasuk keputihan pada anak, memerlukan jenis pengobatan yang berbeda pula. Beberapa infeksi vagina perlu obat antibakteri khusus, dan hanya tersedia dengan resep dokter.

Tetapi, pada kasus lainnya ada juga yang tidak seserius infeksi menular seksual tetapi tetap perlu diobati. Inilah sebabnya penting menemui dokter untuk mengetahui jenis perawatan yang dibutuhkan.

Jamur, virus, dan bakteri penyebab infeksi sendiri bisa terjadi akibat kurangnya menjaga kebersihan area intim.

Perlu diketahui, obat keputihan dibedakan dari penyebab keputihannya, yaitu infeksi jamur, virus, atau bakteri. Bila mengalami infeksi jamur, Si Kecil mungkin harus menggunakan obat keputihan antijamur.

Dilansir dari WebMD, kebanyakan obat keputihan antijamur tersedia dalam bentuk gel atau krim yang harus dioleskan langsung ke area bibir vagina yang terinfeksi.

Menurut British Medical Journal, jenis obat keputihan antijamur yang biasanya diresepkan oleh dokter yaitu butoconazole, miconazole, dan clindamycin. Untuk durasi berapa lama harus menggunakan obat keputihannya, itu tergantung dari kondisi setiap orang.

Rata-rata, obat keputihan antijamur harus digunakan secara rutin selama tiga hari. Namun, selalu ikuti anjuran dokter dalam penggunaan obat apa pun.

Nah, jika Si Kecil mengalami infeksi bakteri, kemungkinan besar dokter akan meresepkan obat keputihan antibiotik. Umumnya, antibiotik diberikan dalam bentuk tablet minum yang dikonsumsi selama kurang lebih 7 hari.

Jenis antibiotik yang bisa diberikan untuk mengobati keputihan akibat infeksi bakteri antara lain metronidazole dan tinidazole.

Terakhir, bila Si Kecil mengalami keputihan pada anak akibat infeksi virus seperti herpes simplex (juga dikenal sebagai herpes genital), Mom akan dianjurkan untuk menggunakan obat antivirus.

Obat antivirus yang sering diresepkan dokter untuk mengobati herpes genital yaitu acyclovir, valacyclovir, dan famciclovir.

Tetapi ingat ya Moms, jangan lupa konsultasikan dulu dengan dokter sebelum mengonsumsi obat-obat yang disebutkan di atas ini untuk mengobati keputihan yang tidak normal.

Baca Juga: Apa Arti Perbedaan Warna Keputihan Saat Hamil?

Pencegahan Keputihan pada Anak

pencegahan keputihan pada anak

Foto: Orami Photo Stock

Untuk mencegah dan mengobati iritasi vagina, termasuk mencegah keputihan pada anak, ada beberapa hal yang penting untuk dilakukan, mengutip Medline Plus.

Seperti menghindari tisu toilet berwarna atau wangi dan mandi busa, hanya gunakan sabun biasa tanpa pewangi, dan batasi waktu mandi hingga 15 menit atau kurang.

Minta Si Kecil untuk buang air kecil segera setelah mandi, dan gunakan hanya air hangat biasa. Jangan menambahkan soda kue, oat atau ekstrak oat, atau bahan lainnya ke dalam air mandi.

Jangan biarkan sabun mengapung di air mandi. Jika Si Kecil perlu keramas, lakukan di akhir bak mandi.

Ajari anak untuk menjaga area genital tetap bersih dan kering. Ajarkan Si Kecil untuk melakukan beberapa langkah ini untuk membersihkan area genitalnya:

  • Tepuk-tepuk vagina bagian luar dan vulva hingga kering daripada digosok dengan tisu. Melakukannya akan membantu mencegah bola-bola kecil tisu terbentuk.
  • Lakukan gerakan mencebok dari depan ke belakang (vagina ke anus) setelah buang air kecil atau buang air besar.

Untuk mencegah keputihan pada anak, buat Si Kecil untuk mengenakan celana dalam dari bahan katun.

Hindari pakaian dalam yang terbuat dari bahan sintetis.

Minta anak mengganti pakaian dalam setiap hari, dan hindari celana ketat atau celana pendek.

Anak juga perlu mengganti pakaian basah sesegera mungkin, terutama pakaian renang atau pakaian olahraga.

Itu dia Moms, penjelasan mengenai keputihan pada anak yang perlu diperhatikan.

Bila Moms merasa khawatir dengan kondisi keputihan Si Kecil, segera konsultasikan ke dokter untuk mendapatkan perawatan yang tepat.

Artikel Terkait