KEHAMILAN
23 Juli 2020

Pendarahan saat Hamil, Berbahayakah?

Pendarahan bisa disebabkan oleh kurangnya hormon progesteron
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Amelia Puteri
Disunting oleh Ikhda Rizky Nurbayu

Saat hamil, Moms tentu akan mengalami beberapa jenis perubahan fisik pada tubuh. Seperti adanya rasa mual dan muntah, berat badan bertambah, nyeri di beberapa bagian tubuh, dan lain sebagainya.

Namun, Moms juga bisa mengalami beberapa kondisi yang mungkin dirasa mengkhawatirkan. Salah satunya adalah pendarahan saat hamil.

Menurut jurnal Obstetrics And Gynecology, setidaknya sebanyak 30 persen wanita mengalami pendarahan pada trimester pertama kehamilan mereka.

Tetapi, terjadinya pendarahan ini bisa menjadi bagian yang sangat normal pada awal kehamilan. Banyak wanita mengalami pendarahan di awal, namun memiliki kehamilan yang sehat hingga akhir.

Berikut ini penjelasan lebih lanjut tentang penyebab dan bentuk pencegahan pendarahan saat hamil.

Penyebab Pendarahan saat Hamil Trimester Pertama

pendarahan saat hamil muda-1.jpg

Foto: mom.com

Sekitar 20% wanita mengalami pendarahan selama 12 minggu pertama kehamilan mereka. Kemungkinan penyebab pendarahan di trimester pertama ada di bawah ini.

1. Pendarahan Implantasi

Menurut dr. Yuslam Edi Fidianto, Sp. OG, Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan, RS Pondok Indah - Pondok Indah, yang menyebabkan pendarahan saat hamil muda terjadi saat proses penempelan kantung janin.

"Pendarahan saat hamil muda terjadi karena implantasi atau proses penempelan kantung janin yang pada umumnya masih dianggap normal, dan tidak ada rasa sakit atau kram dari rahim," jelasnya.

2. Keguguran

Karena keguguran paling sering terjadi selama 12 minggu pertama kehamilan, keguguran cenderung menjadi salah satu masalah terbesar dengan pendarahan di trimester pertama.

Keguguran bisa terjadi pada sekitar 15% sampai 20% kehamilan, biasanya selama 12 minggu pertama kehamilan.

Namun, pendarahan saat hamil trimester pertama tidak selalu berarti Moms keguguran atau kehilangan bayi ya. Bahkan, jika detak jantung terlihat pada USG, lebih dari 90% wanita yang mengalami pendarahan vagina trimester pertama tidak akan mengalami keguguran.

Kekurangan genetik terbatas pada embrio spesifik adalah penyebab keguguran paling umum. Di beberapa kasus, keguguran ini masih bisa diselamatkan.

Baca Juga: Perjuangan ketika Hamil Muda dengan Rahim Retro dan Mengalami Perdarahan

3. Kehamilan Ektopik

Pada kehamilan ektopik, implan embrio yang dibuahi berada di luar rahim, biasanya di tuba falopi. Jika embrio terus tumbuh, ini dapat menyebabkan tuba falopi pecah, yang dapat mengancam jiwa Moms.

Meskipun kehamilan ektopik berpotensi berbahaya, itu hanya terjadi pada sekitar 2% kehamilan.

Gejala lain dari kehamilan ektopik adalah kram atau rasa sakit yang kuat di perut bagian bawah, dan sakit kepala ringan.

4. Kehamilan Molar (Trofoblas Gestasional)

Ini adalah kondisi yang sangat langka di mana jaringan abnormal tumbuh di dalam rahim, bukan di bayi. Dalam kasus yang jarang terjadi, jaringan memiliki sifat kanker dan dapat menyebar ke bagian lain dari tubuh.

Gejala-gejala lain dari kehamilan molar adalah mual dan muntah yang parah, serta pembesaran rahim yang cepat.

5. Perubahan Serviks

Selama kehamilan, darah ekstra mengalir ke serviks. Hubungan seksual atau tes Pap Smear, yang menyebabkan kontak dengan serviks, dapat memicu perdarahan. Jenis pendarahan saat hamil yang satu ini tidak mengkhawatirkan.

6. Infeksi

Setiap infeksi serviks, vagina, atau Infeksi Menular Seksual (seperti klamidia, gonore, atau herpes) dapat menyebabkan pendarahan pada trimester pertama.

Baca Juga: Perdarahan Tidak Berbahaya saat Hamil, Ini Dia Penjelasannya

Penyebab Pendarahan saat Hamil Trimester Kedua

perdarahan saat hamil

Foto: Orami Photo Stock

Sedangkan pendarahan saat hamil semester kedua, apa yang kira-kira penyebabnya? Yuk kita cari tahu Mom.

1. Placenta Previa

Kondisi ini terjadi ketika plasenta terletak rendah di dalam rahim dan sebagian atau seluruhnya menutupi pembukaan jalan lahir. Placenta previa sangat jarang terjadi pada akhir trimester ketiga, hanya terjadi pada satu dari 200 kehamilan.

Plasenta previa yang berdarah, yang tidak menimbulkan rasa sakit, adalah keadaan darurat yang membutuhkan perhatian medis segera.

2. Solusio Plasenta

Menurut penelitian dalam Solusio Placenta, ini adalah keadaan terlepasnya plasenta sebelum persalinan, baik sebagian atau seluruhnya, dari tempat implantasi yang normal. Hal ini terjadi pada sekitar 1% kehamilan. Solusio plasenta bisa sangat berbahaya bagi ibu dan bayi.

Tanda dan gejala lain dari solusio plasenta adalah nyeri perut, gumpalan dari vagina, rahim lunak, dan nyeri punggung.

Baca Juga: Ini Penyebab Pendarahan Subkorionik saat Hamil, Waspada!

3. Ruptur Uterus

Meskipun jarang terjadi, bekas luka dari operasi caesar sebelumnya dapat robek selama kehamilan. Pecahnya uterus dapat mengancam jiwa, dan membutuhkan operasi caesar darurat atau segera.

Gejala lain dari ruptur uterus adalah sakit dan nyeri pada daerah perut.

4. Vasa Previa

Dalam kondisi yang sangat langka, pembuluh darah bayi yang berkembang di tali pusar atau plasenta melewati lubang ke jalan lahir. Vasa previa bisa sangat berbahaya bagi bayi karena pembuluh darah bisa sobek, menyebabkan bayi mengalami pendarahan hebat dan kehilangan oksigen.

Tanda-tanda lain dari vasa previa termasuk detak jantung janin yang tidak normal dan pendarahan yang berlebihan.

5. Persalinan Prematur

Pendarahan vagina di akhir kehamilan mungkin hanya menjadi tanda bahwa tubuh Moms sedang bersiap untuk melahirkan.

Beberapa hari atau minggu sebelum persalinan dimulai, sumbat lendir yang menutupi pembukaan rahim akan keluar dari vagina, dan biasanya akan memiliki sejumlah kecil darah di dalamnya (dikenal sebagai "pertunjukan berdarah"). Jika pendarahan dan gejala persalinan dimulai sebelum minggu ke 37 kehamilan, segera hubungi dokter karena Moms mungkin mengalami persalinan prematur.

Nah, berdasarkan penelitian yang diterbitkan dalam jurnal medis American Academy of Neurology, bayi yang lahir prematur ternyata juga berisiko mengalami epilepsi saat dewasa.

Baca Juga: Pendarahan setelah Berhubungan Seks saat Hamil, Normalkah?

Pencegahan Pendarahan saat Hamil Muda

perdarahan saat hamil

Foto: verywellfamily.com

Sebagai bentuk pencegahan pendarahan saat hamil muda, dr. Yuslam menyarankan agar para Moms yang sedang hamil untuk mengurangi aktivitas fisik dan mendapatkan istirahat yang cukup.

"Pencegahan dari pendarahan saat hamil muda adalah diharapkan para ibu hamil mengurangi aktivitas fisik dan mencukupi waktu istirahat, juga mencukupi kebutuhan hormon progesteron, sebagai hormon yang berperan dalam perkembangan janin," sarannya.

Walaupun merupakan kondisi yang mungkin mencemaskan, Moms tidak perlu khawatir bila terjadi pendarahan saat hamil muda, selama pendarahan tersebut ringan.

Beberapa pendarahan selama kehamilan tidak dapat dijelaskan. Moms bisa saja mengalami pendarahan sedang, yang hampir sama beratnya dengan periode haid yang teratur, sepanjang masing-masing trimester kehamilan tanpa sebab yang jelas dan tidak perlukan perawatan lebih lanjut.

Pendarahan yang bukan merupakan indikasi langsung keguguran pasti dapat terjadi selama kehamilan.

Baca Juga: 4 Kebiasaan Makan Saat Hamil yang Ternyata Berisiko Untuk Kesehatan Janin

Diagnosis Pendarahan saat Hamil Muda

pendarahan saat hamil muda-3.jpg

Foto: cnn.com

Mengutip National Health Service, untuk mengetahui penyebab pendarahan, dokter mungkin perlu melakukan pemeriksaan vagina atau panggul, pemindaian ultrasound, atau tes darah untuk memeriksa kadar hormon.

Dokter juga akan bertanya tentang gejala lain, seperti kram, nyeri, dan pusing. Terkadang, bisa cukup sulit untuk mengetahui apa yang menyebabkan pendarahan saat hamil muda.

Jika gejala pendarahannya tidak parah dan janin tidak dalam waktu dekat untuk dilahirkan, Moms akan dipantau, dan dalam beberapa kasus, dirawat di rumah sakit untuk observasi.

Pendarahan berat pada trimester pertama, terutama jika disertai dengan rasa sakit, dikaitkan dengan risiko keguguran yang lebih tinggi. Sementara, pendarahan bercak tidak berbahaya, terutama jika hanya berlangsung 1-2 hari.

Baca Juga: Pendarahan Implantasi di Awal Kehamilan, Berbahayakan?

Mengatasi Pendarahan saat Hamil Muda

perdarahan saat hamil

Meskipun pendarahan selama kehamilan tidak selalu berarti keguguran, pendarahan konsisten selama kehamilan perlu dievaluasi dokter. Cobalah langkah berikut terlebih dahulu:

Catat waktu pendarahan dimulai dan aktivitas apa pun yang mungkin berkontribusi pada perdarahan, pakai pembalut atau panty-liner untuk mengetahui seberapa banyak pendarahan terjadi.

Sambil menunggu untuk diperiksa oleh dokter, cobalah duduk, angkat kaki, dan minum segelas besar air.

Terakhir, tanyakan pada diri sendiri apakah mengalami gejala lain seperti kontraksi, sakit punggung, mual, perubahan penglihatan, atau penurunan aktivitas bayi.

Baca Juga: Ternyata Ini Penyebab Pendarahan Saat Trimester Pertama Kehamilan

Nah, itulah beberapa hal yang perlu Moms ketahui tentang pendarahan saat hamil. Jika Moms mengalaminya, segera konsultasikan ke dokter ya.

Artikel Terkait