3-5 TAHUN
15 Agustus 2019

Ketahui 3 Perbedaan Alergi Makanan dan Intoleransi Makanan Pada Balita

Berbeda sebab, reaksi, juga risikonya
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Orami
Disunting oleh Intan Aprilia

Siapa nih, Moms yang mengira kalau alergi makanan dan intoleransi makanan pada balita adalah dua hal yang sama?

American Academy of Asthma & Immunology berpendapat kalau mengetahui perbedaan antara keduanya penting untuk melindungi kesehatan dan bahkan nyawa balita lho, Moms.

Supaya tidak salah kaprah lagi, perhatikan dulu perbedaan antara intoleransi makanan dan alergi makanan pada balita berikut ini ya, Moms.

Baca Juga: 5 Mitos dan Fakta Seputar Alergi Makanan Pada Anak

Perbedaan Penyebab Alergi Makanan dan Intoleransi Makanan

Ketahui 3 Perbedaan Alergi Makanan dan Intoleransi Makanan Pada Balita 1.jpg

Intoleransi makanan pada balita terjadi pada sistem pencernaan, di mana tubuh Si Kecil tidak bisa mencerna makanan dengan benar, baik karena stres, kekurangan enzim, sensitif pada zat tambahan makanan atau reaksi kimia alami dari makanan.

Sedangkan alergi makanan pada balita berkaitan dengan sistem kekebalan tubuh, di mana antibodi immunoglobin E (IgE) bereaksi negatif terhadap protein atau alergen dalam makanan tertentu.

Perbedaan Respon Tubuh

Ketahui 3 Perbedaan Alergi Makanan dan Intoleransi Makanan Pada Balita 2.jpg

Menurut Dr. James Li, profesor kedokteran di Mayo Clinic, respon fisik tubuh karena intoleransi makanan pada balita relatif tidak terlalu serius. Contohnya saja, kembung, mual, diare, nyeri sendi, atau sakit kepala.

Berbeda halnya dengan alergi makanan pada balita yang menimbulkan gejala seperti ruam, bengkak, gatal, sesak napas, batuk, atau muntah.

Bahkan dalam kasus yang parah, bisa juga terjadi kondisi anafilaksis atau reaksi alergi serius yang menyerang lebih dari satu fungsi organ tubuh dan dapat menyebabkan kematian.

Baca Juga: Waspadai 5 Gejala Anak Alergi Makanan Berikut Ini

Perbedaan Risiko

Ketahui 3 Perbedaan Alergi Makanan dan Intoleransi Makanan Pada Balita 3.jpg

Beberapa studi dalam jurnal National Health Institute menyebutkan kalau kondisi intoleransi makanan pada balita yang diabaikan dapat meningkatkan risiko penyakit autoimun, gangguan neurologis, dan berbagai masalah kesehatan lainnya.

Menurut informasi dalam situs Harvard Health Publishing, mengubah pola makan, mengatur porsi makan, atau mengganti makanan yang dikonsumsi dapat meminimalisir risiko timbulnya rasa tidak nyaman akibat intoleransi makanan.

Berbeda lagi dengan alergi makanan pada balita yang tingkat keparahan reaksinya tidak bisa diprediksi, sehingga setiap makanan yang dikonsumsi balita penderita alergi harus selalu disiapkan dan diperhatikan dengan teliti.

Baca Juga: Moms, Waspadai 4 Makanan Pemicu Alergi Pada Balita Ini

Ada baiknya Moms juga membawa epinephrine pen untuk berjaga-jaga. Karena walau sebelumnya hanya mengalami reaksi alergi makanan ringan, bisa saja terjadi reaksi yang jauh lebih serius pada kontak berikutnya.

Yang pasti, diagnosis akurat tentang kondisi balita hanya boleh dilakukan oleh dokter dan ahli kesehatan ya, Moms.

Jadi kalau Moms menduga Si Kecil memiliki alergi makanan atau intoleransi makanan, segera periksakan untuk dilakukan tes lebih mendalam.

Apa Moms tahu, makanan apa saja yang bisa memicu alergi makanan pada balita?

(WA)

Artikel Terkait