KESEHATAN
17 Juni 2020

Perbedaan Rapid Test dan Swab Test, Wajib Tahu!

Jangan sampai salah membedakan ya, Moms
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Adeline Wahyu
Disunting oleh Dina Vionetta

Berdasarkan data Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, per Selasa (02/06/2020), jumlah penderita COVID-19 di Indonesia mencapai 27.549 positif. Sebanyak 7.935 di antaranya dinyatakan sembuh, 17.951 orang masih dalam perawatan, sedangkan sebanyak 1.663 orang meninggal dunia.

Hal ini tentu menimbulkan kekhawatiran di tengah masyarakat. Untuk itu, pemerintah melakukan pendeteksian virus corona di Indonesia melalui 2 metode, yaitu rapid test dan swab test.

Baca Juga: Jokowi Gelar COVID-19 Rapid Test Massal, Ini 4 Faktanya

Sayangnya masih banyak masyarakat yang mengira bahwa kedua metode test ini menggunakan cara yang sama, padahal tidak. Perlu Moms ketahui, rapid test dan swab test adalah pemeriksaan yang berbeda. Apa perbedaan keduanya? Yuk, kita simak.

Perbedaan Rapid Test dan Swab Test

Ada beberapa perbedaan rapid test dan pemeriksaan swab tenggorokan. Berikut penjelasannya, disimak ya.

1. Jenis Sampel yang Diambil

perbedaan rapid test dan swab test

Foto: ANTARA Foto/Jojon

Jenis sampel rapid test dan swab test berbeda. Rapid test dilakukan dengan menggunakan sampel darah, sedangkan pemeriksaan swab menggunakan sampel lendir yang diambil dari dalam hidung maupun tenggorokan.

2. Prosedur Pemeriksaan

perbedaan rapid test dan swab test

Foto: Reuters/Wolfgang Rattay

Untuk Moms yang masih bingung, cara kerja rapid test dan swab test juga berbeda. Rapid test memeriksa virus menggunakan antibodi IgG dan IgM yang ada di dalam darah. Antibodi terbentuk dalam tubuh saat kita terinfeksi virus. Jadi, jika positif terinfeksi virus, maka jumlah IgG dan IgM di tubuh akan bertambah.

Jika ada IgG atau IgM dalam darah, maka hasil rapid test dinyatakan positif ada infeksi. Namun, hasil tersebut bukanlah diagnosis yang menggambarkan infeksi COVID-19.

Orang dengan hasil rapid test positif kemudian akan dianjurkan untuk menjalani pemeriksaan lanjutan, yaitu pemeriksaan swab tenggorokan atau hidung.

Baca Juga: Benarkah COVID-19 Bisa Menular Lewat Udara?

Pemeriksaan ini dinilai lebih akurat, sebab virus corona akan menempel di bagian dalam hidung atau tenggorokan saat masuk ke tubuh. Sampel lendir yang diambil dengan metode swab nantinya akan diperiksa menggunakan metode PCR.

Hasil akhir dari pemeriksaan ini, nantinya akan benar-benar memperlihatkan keberadaan virus yang menyebabkan COVID-19 di tubuh seseorang.

3. Lama Waktu untuk Mendapatkan Hasil

perbedaan rapid test dan swab test

Foto: medium.com

Lama waktu rapid test dan swab tentu juga berbeda. Rapid test hanya membutuhkan waktu 10-15 menit hingga hasil keluar. Sementara itu, pemeriksaan menggunakan metode PCR membutuhkan waktu beberapa jam hingga beberapa hari untuk menunjukkan hasil.

Hasil pemeriksaan rapid test maupun PCR juga bisa keluar lebih lama tergantung kapasitas laboratorium yang digunakan untuk memeriksa sampel. Sehingga, sampel yang masuk harus antre untuk bisa diperiksa.

4. Kelebihan dan Kekurangan Rapid Test

perbedaan rapid test dan swab test

Foto: ANTARA FOTO/Paramayuda

Setiap metode tentu memiliki kelebihan dan kekurangan tersendiri. Salah satu kelebihan rapid test adalah karena metode ini lebih mudah untuk dilakukan. Cara ini juga bisa menjadi alternatif skrining untuk mendata orang-orang yang butuh pemeriksaan lanjutan dengan cepat.

Harganya juga lebih murah dibandingkan swab test. Rapid test swasta dibanderol dengan kisaran harga Rp250.000,00-Rp500.000,00

Baca Juga: Daftar Rujukan Rumah Sakit COVID-19 di Indonesia

Kekurangannya, hasil rapid test belum tentu akurat untuk mendiagnosis COVID-19. Pasien yang positif rapid test harus melalui pemeriksaan lanjutan dengan metode swab. Sedangkan untuk pasien yang negatif namun masih menunjukkan gejala sakit, idealnya mengulang rapid test 7-10 hari kemudian.

Jika tidak bisa mengulang, maka harus tetap isolasi di rumah selama 14 hari. Mengapa? Karena IgG dan IgM, yaitu antibodi yang diperiksa melalui rapid test, tidak langsung terbentuk begitu seseorang terinfeksi.

Dibutuhkan waktu kurang lebih 7 hari hingga antibodi tersebut terbentuk. Jadi, saat baru terpapar virus corona kemarin, lalu menjalani rapid test hari ini, maka kemungkinan besar hasilnya akan negatif.

Disinilah kita mengenal yang dinamakan dengan false negative atau negatif palsu. Begitupun saat hasil rapid test positif, bisa jadi itu adalah false positive atau positif palsu. Sebab, IgG dan IgM akan terbentuk setiap ada infeksi virus, dan bukan hanya akibat virus corona.

5. Kelebihan dan Kekurangan Swab Test

perbedaan rapid test dan swab test

Foto: Merdeka/Imam Buhori

Sekarang kita melihat ke bagian swab test ya Moms. Pengambilan spesimen lendir menggunakan swab dan pemeriksaan menggunakan PCR adalah metode yang paling akurat dalam mendeteksi virus SARS-COV2.

Baca Juga: Bantu Petugas yang Terlibat Tangani Pandemi COVID-19, dengan 4 Langkah Ini

Namun, metode pemeriksaan ini lebih rumit dan membutuhkan waktu yang lebih lama. Pemeriksaan sampel pun hanya bisa dilakukan di laboratorium dengan kelengkapan khusus.

Sehingga, harganya juga lebih tinggi. Kisaran harganya mencapai Rp3.000.000,00 untuk pemeriksaan lengkap.

Saat ini, laboratorium dengan fasilitas tersebut di Indonesia masih sangat terbatas, sehingga kapasitas pemeriksaannya pun tidak terlalu besar. Akibatnya, butuh waktu beberapa hari hingga hasil tes bisa keluar.

Itu dia Moms beberapa perbedaan antara rapid test dan swab test. Moms sudah mendapatkan gambarannya dan tidak bingung lagi kan?

Artikel Terkait