PROGRAM HAMIL
21 Desember 2017

Perkembangan Janin Minggu Ke-25

Paru janin sudah semakin matang, si kecil sudah bisa belajar bernafas
Artikel ditulis oleh (katri.dyah)
Disunting oleh (katri.dyah)

PERKEMBANGAN JANIN

Minggu ini berat badan janin mencapai 700 gram dengan panjang dari kepala sampai tumit sekitar 28-30 cm. Lemak janin akan semakin banyak dan akan menghaluskan sedikit demi sedikit kulit yang tadinya keriput.

Rambut janin mulai tumbuh. Akhir minggu ini, pembuluh darah paru juga akan berkembang yang merupakan salah satu penanda kematangan pada paru. Sistem pernapasan lain yang juga sudah berkembang adalah hidung janin yang mulai berfungsi, sehingga janin bisa berlatih bernapas.
Pendengaran bayi mulai optimal sehingga dapat menanggapi rangsangan seperti suara, rasa sakit dan cahaya. Tulang bayi semakin mengeras dan menjadi lebih kuat.

TUBUH MOMS

Aktivitas Moms saat ini tidak sebebas sebelumnya. Jangan beraktivitas terlalu lelah dan hentikan semua kegiatan apabila Moms merasa nyeri, pusing, atau sesak napas.

Jangan berbaring telentang dan hindari semua jenis olehraga yang dapat menyebabkan kehilangan keseimbangan (sepeda, kasti) atau olahraga dengan banyak gerakan melompat. Selama berolahraga, pastikan minum air yang cukup dan lakukan pemanasan serta pendinginan.

Dalam pemeriksaan USG di trimester kedua, dokter akan memperlihatkan posisi plasenta untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya plasenta previa yang menimbulkan risiko perdarahan baik bagi Moms maupun janin.

TIPS: TES KESEHATAN

Tergantung dari situasi dan kondisi Ibu saat ini, dokter kebidanan dapat menyarankan agar Moms melakukan beberapa tes kesehatan yaitu :

  • Hemoglobin dan hematokrit : pemeriksaan darah ini dilakukan pada trimester ketiga untuk mengetahui apakah Moms mengalami anemia.
  • Tes diabetes : apabila hasil skrining glukosa Moms di minggu 24 - 28 berada dalam batas normal, maka Moms tidak perlu melakukan tes diabetes ulang.
  • Skrining antibodi Rh.
  • Infeksi Menular Seksual : Tes ini dilakukan apabila Moms memiliki faktor risiko tinggi terhadap Infeksi Menular Seksual (IMS).

Narasumber: dr. Ariefandy Pambudi, SpOG (RSIA Kendangsari MERR Surabaya)

Artikel Terkait