PARENTING
14 Agustus 2019

Petualangan Panjang Memilih Alat Kontrasepsi (KB) Paling Ampuh

KB kalender jadi cara teraman dan terampuh buat saya sejauh ini
Artikel ditulis oleh Orami
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Oleh Begita, 29 tahun, ibu satu balita bernama R Abraham Saktiareja, 3 tahun

Suatu hari saya terlibat diskusi seru dengan para sahabat yang telah menikah dan memiliki anak tentang alat kontrasepsi yang digunakan masing-masing pasangan dalam mengatur jarak kelahiran anak.

Seorang anggota diskusi, H, dengan lantang menentang upaya itu, karena alasannya kita sebagai makhluk hidup tidak boleh mendahului Tuhan.

Salah satu sahabat saya yang menentang program keluarga berencana (KB) itu sekarang memang sedang menantikan kelahiran anak ketiga, di saat anak pertamanya masih 5 tahun, dan anak keduanya baru mau berusia 3 tahun.

Sisa peserta diskusi dengan santai menyikapi penentangan itu. Mereka menimpali santai sambil memberikan gambaran betapa ramainya reuni kami saat tua nanti oleh anak-anak kami yang banyak.

Oh ya, kalau belum terbayang, saya perempuan, dan sedang berdiskusi dengan lima pria saat itu. Cukup tabu bukan membicarakan KB dengan laki-laki? Namun untuk ibu berlatar tomboy seperti saya yang sahabatnya kebanyakan lelaki, obrolan macam ini sering saya lakoni.

“Pakai IUD teh aduh, sakit ke kitanya. Kayak di dalemnya ada kuku,” kata F, salah satu sahabat saya kala itu.

“Kalau istriku pakai pil. Sekarang gemuk banget, ha ha ha,” kata G menyahut.

“Kasihan ih cewek-ceweknya. Kok enggak kalian aja yang pakai kondom?” ujar saya. Mereka kompak menimpali bahwa menggunakan kondom sebagai alat kontrasepsi adalah hal terburuk, paling tidak enak, dan tidak nyaman.

“Kayak bukan pasangan sah aja kita teh,” kata A.

Saya pun membocorkan upaya saya dan suami, Baba, dalam memberi jarak kelahiran bagi buah hati berikutnya, yakni KB kalender.

Baca Juga: Mendampingi Anak Epilepsi dan Delay Tumbuh Kembang

Memutuskan untuk Menunda Kehamilan Anak Kedua

momspiration

Sebelum saya bocorkan juga bagaimana cara mengaplikasikan KB kalender, bagaimana risikonya, dan apakah efektif, saya mau cerita dulu. Ada perjalanan panjang yang ditempuh sampai jatuh pilihan kami kepadanya.

Setelah anak pertama saya lahir, Juli 2016 lalu, jujur saja saya diserang paranoid. Pertama soal ekonomi. Melahirkan di saat penghasilan saya dan suami pas-pasan bukanlah hal yang menyenangkan dan menenangkan.

Saya pribadi belum siap jika harus menghadapi gempuran daftar pengeluaran berupa biaya lahiran, berobat influenza yang seolah rutin per berapa bulan sekali, popok sekali pakai, dan susu formula.

Sementara belum ada penghasilan tambahan yang bisa kami peroleh. Saya rasa, saya perlu menunda kehamilan anak kedua secepatnya.

Kedua, soal berbagi kasih sayang. Saya punya anggapan, anak pertama kerap terabaikan begitu anak kedua dan berikutnya lahir, apalagi jika sangat berdekatan waktunya. Pengamatan yang saya lakukan jelas butuh pembuktian dan pengujian lagi.

Yakni anak pertama dengan adik yang sangat dekat umurnya, biasanya tumbuh lebih kurus, dan dewasa dengan cepat. Ia akan seolah ‘dibebani’ tugas sebagai pengganti orang tua di masa-masa tertentu.

Tapi, rupanya di situs resmi BKKBN, menjalani program KB juga bermanfaat mengurangi risiko penyakit hingga gangguan mental.

Penggunaan alat kontrasepsi bisa membantu perempuan tidak melahirkan terlalu dini, terlalu sering, atau terlalu tua. Melahirkan di atas usia 35 tahun konon akan berisiko pada perempuan dan dapat menyebabkan kematian.

Saya juga menghindari depresi dari kasus melahirkan yang ‘terlalu-terlalu’ tadi. Depresi kan dikhawatirkan bisa jadi pemicu kekerasan dalam rumah tangga. Bagaimana pun anak kan amanah dan anugerah.

Tentu kami sebagai pasangan ingin menjamin kebutuhan lahir dan batinnya terpenuhi, dengan kondisi rumah yang membahagiakan.

Baca Juga: Sempat Panik saat Mati Listrik, Ini Pengalaman dan Tips Menjaga ASIP Agar Tetap Sip

Perjalanan Panjang sampai Menemukan Kontrasepsi Paling Ampuh

momspiration

Sesaat setelah nifas berakhir, saya sempat menggunakan IUD. Qadarullah, saat itu saya pendarahan terus-menerus. Tidak sakit, seperti menstruasi biasa, tapi lebih dari 20 hari. Akhirnya IUD dicopot dan saya sempat disuntik, dilanjut meminum pil KB.

Setiap anak saya imunisasi, saya kontrol juga penggunaan KB. Ternyata berat badan saya naik drastis. Bisa 1-2 kilogram per bulan. Saat itu, bidan yang menangani saya berceramah soal penggunaan KB.

Menurut dia, KB paling aman ialah dengan alat, karena jika kita mengonsumsi hormon maka akan merusak keseimbangan hormon alami dalam tubuh. Itulah kenapa, kata bidan, pengguna KB suntik atau pil kerap mengalami gangguan menstruasi, menggemuk, dan yang lainnya.

Hampir saat itu saya putuskan mengizinkan bidan memasang alat IUD kembali. Namun, Baba mencegah saya. Ia menawarkan akan selalu menggunakan kondom meski itu tidak enak baginya—sama seperti yang dikatakan sahabat-sahabat saya.

“Masak perempuan terus yang harus berkorban. Kamu kan sudah hamil, melahirkan, harus tersiksa juga dengan KB,” katanya saat itu. Kalimat yang lebih membuat meleleh daripada rayuan Kahlil Gibran deh pokoknya.

Baca Juga: Kebahagiaan Ibu PH Survivor dalam Merawat Dua Anak yang Terlahir Prematur

Memutuskan untuk Menggunakan KB Kalender

kalender

Foto: Thebump.com

Di rumah, kami diskusi lagi. Kami sepakat menggunakan KB kalender untuk kedua kalinya. Ya, sebelumnya untuk merencanakan kelahiran anak pertama saya, kami sudah mengamalkan sistem KB kalender. Caranya, dengan mencatat siklus haid secara rutin, dan memperkirakan masa subur saya.

Dari beberapa bacaan yang saya peroleh, ovulasi terjadi sekitar 12 sampai 14 hari sebelum periode menstruasi dimulai. Rata-rata masa subur wanita mulai terjadi pada hari ke 10 sampai ke 17 setelah hari pertama menstruasi.

Namun hitungan ini khusus perempuan dengan siklus menstruasi seperti saya, yakni 28 hari. Lima hari sebelum ovulasi dan satu hari di mana ovulasi terjadi, merupakan masa paling subur perempuan.

Pada saat itulah saya dan suami mengatur ejakulasi agar tidak berlangsung di dalam vagina alias senggama terputus. Atau dengan bahasa gaul anak sekarang berarti ‘enggak keluarin di dalem’.

KB ini efektif menunda kelahiran si sulung, dan kini tetap menjadi semata wayang, karena kami belum pernah lagi ‘keluarin di dalem’ saat hari ovulasi.

Beruntung saat ini sudah ada aplikasi seperti yang saya unduh, “Kalender saya”, yang secara berkala melaporkan kapan siklus haid-masa subur penggunanya tiba.

Memang tidak semua orang bisa sukses mengamalkan teori-teori KB kalender. Ada saja pasangan yang "kebobolan" meskipun sudah mengamalkan teori-teori KB kalender.

Tapi, bagi saya dan pasangan, KB kalender ini adalah alat konrasepsi paling ampuh. Baik untuk merencanakan kehamilan, maupun menunda kehamilan seperti yang sedang kami lakukan.

Artikel Terkait