KEHAMILAN
25 Februari 2020

Plasenta Putus saat Hamil, Mengapa Bisa Terjadi?

Pijat hamil sembarangan jadi salah satu penyebab plasenta putus!
Artikel ditulis oleh Adeline Wahyu
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Pernahkan Moms mendengar tentang plasenta putus? Plasenta putus maksudnya adalah pelepasan plasenta saat hamil. Kondisi ini merupakan suatu kelainan pada ibu hamil ketika sebagian atau keseluruhan plasenta terlepas dari dinding rahim.

Plasenta merupakan organ penting yang berkembang selama kehamilan dan menempel pada dinding rahim yang berfungsi sebagai alat komunikasi ibu dan janin dalam memberikan nutrisi dan oksigen.

Baca Juga: Gejala dan Cara Menangani Plasenta Previa, Bumil Harus Tahu!

“Kelainan ini umumnya terjadi pada usia kehamilan di atas 20 minggu hingga melahirkan. Dalam ilmu kedokteran, istilah ini disebut sebagai solusio plasenta atau placenta abruption,” jelas dr. Putri Deva Karimah, Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan RS Pondok Indah – Pondok Indah.

Faktor Penyebab Placenta Putus

plasenta putus

Foto: Orami Photo Stock

Salah satu penyebab plasenta putus bisa dikarenakan ibu hamil yang dipijat.

“Tidak jarang pasien datang kontrol dan mengatakan perut terasa sakit sekali dan gerakan bayi sudah berkurang, setelah ditanyakan lebih lanjut ternyata pasien sebelumnya sempat diurut di tukang pijat yang tidak mempunyai ilmu tentang kehamilan,” tutur dr. Putri.

Menurutnya, ini merupakan salah satu contoh penyebab tersering terjadinya solusio plasenta. Oleh karena itu, lebih baik berhati-hati dalam memilih ahli pijat atau urut.

Pilih terapis yang mempunyai sertifikasi atau paham mengenai kehamilan, dan lebih baik lagi jangan melakukan pemijatan di area perut.

Baca Juga: Tak Perlu Takut, Pijat Kehamilan Ternyata Banyak Manfaatnya

Faktor lain yang memicu terjadinya solusio plasenta, seperti:

  • Trauma atau cedera pada bagian perut ibu, seperti kecelakaan, terjatuh, maupun kehilangan cairan ketuban
  • Pernah menderita solusio plasenta pada kehamilan sebelumnya
  • Memiliki kebiasaan merokok atau mengonsumsi kokain
  • Tingginya tekanan darah selama masa kehamilan, sehingga menimbulkan preeklampsia maupun eklampsia
  • Memiliki penyakit kencing manis atau diabetes
  • Ibu hamil berada pada usia di atas 35 tahun atau kurang dari 20 tahun
  • Sedang mengandung lebih dari satu bayi atau mengandung bayi kembar
  • Adanya infeksi pada cairan ketuban selama masa kehamilan yang disebut chorioamnionitis
  • Timbulnya ketuban pecah secara dini, sehingga menyebabkan kebocoran cairan ketuban sebelum masa kehamilan berakhir
  • Jumlah ketuban sedikit
  • Terdapat miom pada rahim
  • Memiliki masalah pada darah seperti Thrombophilia

Gejala Plasenta Putus

plasenta putus

Foto: Orami Photo Stock

Seperti yang sudah disebutkan di atas, salah satu gejala yang mungkin akan dirasakan oleh ibu adalah gerakan bayi yang sudah berkurang dan perut terasa sakit sekali. Selain itu, ada beberapa gejala umum lainnya juga yang akan ibu rasakan.

Baca Juga: Bagi Wanita Hamil, Tahukah Sindrom Alkohol Janin Pada Bayi?

  • Perdarahan keluar dari vagina sebesar 78 persen
  • Perut teraba keras dan nyeri saat dilakukan penekanan, dan adanya nyeri punggung
  • Detak jantung janin dan pergerakan janin berkurang atau sulit untuk dinilai atau yang disebut fetal non-reassuring
  • Rahim berkontraksi lebih dari 5 kali atau selama 10 menit
  • Rahim berkontraksi sangat sering (hipertonus)

Namun berdasarkan derajat keparahannya, gejala placenta putus terbagi menjadi 4 kelas seperti di bawah ini.

Kelas O

"Pada kelas ini, tidak ada tanda atau gejala tertentu yang akan dialami oleh ibu hamil. Karena plasenta kelas ini baru ditemukan setelah kelahiran," ungkap dr. Putri.

Kelas 1

Pada kelas satu ini, gejala plasenta putus yang akan dialami berupa perdarahan yang ringan hingga tidak ada. Lalu akan merasakan nyeri ringan saat kontraksi rahim.

Sedangkan untuk tekanan darah dan nadi akan terasa normal, serta kondisi janin pun normal.

Kelas 2

Pada tingkat ini, akan terjadi perdarahan ringan, bahkan bisa tidak ada. Nyeri saat kontraksi rahim akan terasa sedang saja, namun bisa juga berat. Terdapat perubahan tekanan darah dan nadi terasa cepat.

Kondisi ini juga memungkinkan terjadinya hipofibrinogenemia. Moms harus khawatir pada kondisi janin di saat ini.

Baca Juga: Mengenal Hipertensi Pulmonal, Tekanan Darah Tinggi yang Terjadi di Paru-Paru

Kelas 3

Ciri-ciri plasenta putus pada tahap ini mulai dari perdarahan berat, sangat nyeri/sering kontraksi, terjadi syok pada ibu yang mengakibatkan nadi dan tensi rendah, terjadi hipofibrinogenemia atau koagulopati, hingga pada kasus terberatnya kematian janin.

Diagnosa Plasenta Putus

plasenta putus

Foto: Orami Photo Stock

Solusio plasenta atau plasenta putus dapat dinilai dengan melakukan beberapa metode penilaian oleh dokter spesialis kebidanan dan kandungan, yang meliputi:

  • Pemeriksaan fisik guna menilai kondisi perut dan rahim, serta menilai rasa nyeri dan lokasi nyeri
  • Tes darah dan tes urin, untuk melihat kadar perdarahan dan apakah terdapat kontaminasi darah pada urin atau tidak
  • Pemeriksaan dalam pada vagina dan serviks atau leher rahim, untuk mengetahui apakah terdapat perdarahan dari vagina atau tidak, yang merupakan salah satu gejala tersering (sebesar 78 persen)
  • Pemeriksaan ultrasound (USG), untuk melihat kondisi rahim, lokasi penempelan, atau pelepasan plasenta, apakah ada perdarahan di dalam rahim atau tidak, dan juga untuk menilai kondisi janin, seperti denyut jantung janin
  • Meski demikian, diagnosis pasti solusio plasenta dapat dilihat setelah bayi lahir

Tetap waspada ya Moms terhada kemungkinan plasenta putus. Ingat untuk menghindari pijat terlebih dahulu.

Artikel Terkait