KESEHATAN
20 Juli 2019

Plus Minus Diet Paleo, Diet Seperti Orang Purba

Diet paleo bisa meningkatkan risiko osteoporosis karena tidak mengonsumsi cukup kalsium
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Amelia Puteri
Disunting oleh Intan Aprilia

Moms mungkin sudah banyak mendengar jenis-jenis diet yang diklaim mampu menurunkan berat badan, meningkatkan metabolisme tubuh, atau juga membuat kondisi tubuh menjadi prima.

Setiap diet yang terkenal ini juga punya aturannya masing-masing tentang apa yang bisa dikonsumsi, makanan apa yang harus dihindari, juga berapa lama diet tersebut bisa dilakukan.

Salah satu dari jenis diet yang terkenal adalah diet paleo, yang mengonsumsi makanan layaknya manusia gua di zaman dahulu kala.

Diet ini dikembangkan oleh Loren Cordain, PhD, seorang peneliti dari Colorado State University, yang mulai melakukan studi pada tahun 1970-an, mengutip UPMC.

“Idenya didasarkan pada pola makan seperti yang dimakan leluhur Anda. Sangat sering, makanan yang dikonsumsi tinggi protein, rendah karbohidrat, dan tidak konsumsi susu dan gula," jelas Lisa Young, R.D., penulis The Portion Teller Plan, mengutip Women's Health Magazine.

Lebih lanjut, ia menambahkan, ”Selain itu, pelaku diet paleo juga membatasi konsumsi protein nabati yang sehat termasuk kacang-kacangan, beberapa biji-bijian utuh, dan susu rendah lemak, ini adalah makanan yang terbukti membantu menurunkan berat badan."

Baca Juga: Mengenal Ketogenic, Diet Rendah Karbo dan Tinggi Lemak

Jenis Makanan yang Bisa Dikonsumsi dan Dilarang oleh Diet Paleo

diet paleo-1.jpg

Melansir UPMC, adapun daftar makanan yang bisa dikonsumsi dan makanan yang tidak bisa dimakan ketika melakukan diet paleo adalah sebagai berikut:

  • Daging tanpa lemak: ayam, kalkun, babi, daging sapi tanpa lemak, dan kerbau/bison
  • Ikan
  • Makanan laut
  • Buah segar
  • Sayuran tidak bertepung (non-starchy): selada, asparagus, kacang hijau, brokoli, kol, kubis, kembang kol, bayam
  • Kacang-kacangan: almond, kenari, kacang mete
  • Biji-bijian, seperti labu dan bunga matahari
  • Telur
  • Minyak nabati: minyak zaitun, kenari, biji anggur, dan minyak kelapa

Sementara, berikut ini jenis makanan yang tidak bisa dikonsumsi jika hendak melakukan diet paleo:

  • Biji-bijian gandum dan beras: sereal, roti, pasta, bagel, kerupuk, atau granola bar
  • Sayuran bertepung (starchy): kentang, jagung, keripik jagung, tortilla, dan popcorn
  • Selai kacang, dan produk olahan kedelai: susu kedelai, tahu, edamame
  • Produk susu: susu, yogurt, keju, atau es krim
  • Daging tinggi lemak: bologna, pepperoni, hot dog, daging giling, iga
  • Gula: soda, madu, selai atau jeli, sirup, permen, kue, minuman berolahraga
  • Makanan olahan: donat, kentang goreng, makaroni dan keju
  • Makanan asin: kerupuk, keripik, pretzel, kecap, makanan mengandung garam

Baca Juga: Buat yang Mau Diet, Ini 5 Makanan Yang Lebih Tinggi Potassiumnya Daripada Pisang

Keuntungan Melakukan Diet Paleo

diet paleo

Pola makan ini mungkin terdengar ekstrem, karena ada banyak sekali jenis makanan yang dihilangkan dari menu makanan.

Tetapi ini bisa menjadi cara yang sehat untuk menghilangkan kebiasaan makan makanan berbahan dasar gandum dan tinggi lemak serta minyak olahan.

"Menghilangkan karbohidrat dan makanan olahan mungkin bukan ide yang buruk, terutama dalam kasus karbohidrat olahan yang dapat mengakibatkan kenaikan berat badan," terang Adrienne Youdim, MD, profesor klinis asosiasi kedokteran di Fakultas Kedokteran Universitas David Geffen, Los Angeles, mengutip Everyday Health.

Ketika berhenti makan makanan olahan/processing food yang cenderung tinggi kalori seperti kue kering, keripik kentang, mentega, permen, dan minuman manis, cara ini memang terbukti efektif menurunkan berat badan.

Dalam tulisan yang diterbitkan American Journal of Clinical Nutrition pada Oktober 2015 menunjukkan bahwa dibandingkan diet lain, diet paleo memberikan perubahan tekanan darah pada orang yang berisiko mengalami stroke dan serangan jantung.

Mark Hyman, MD, direktur Klinik Pengobatan Fungsional Cleveland, mengatakan ada penelitian bahwa diet paleo dapat membantu mengelola diabetes tipe 2, dikutip dari Everyday Health.

Penelitian lain di jurnal Diabetes/Metabolism Research and Review pada Januari 2017 menemukan bahwa dalam 12 minggu, diet paleo membantu orang diabetes tipe 2 mengurangi lemak tubuh, meningkatkan sensitivitas insulin, dan meningkatkan kontrol gula darah.

Baca Juga: 9 Diet Sehat untuk Merencanakan Kehamilan

Risiko Melakukan Paleo Diet

diet paleo

Meskipun menghilangkan seluruh kelompok makanan dapat membantu upaya penurunan berat badan, seseorang yang melakukan diet paleo cenderung kehilangan nutrisi penting yang dibutuhkan tubuh.

Sebagai contoh, beberapa ahli memperingatkan jika diet paleo dapat membuat kekurangan kalsium dan vitamin karena tidak mengonsumsi susu, sehingga berisiko terkena osteoporosis, patah tulang, atau rakhitis.

Mengutip Everyday Health, banyak pakar yang khawatir karena diet paleo kerap diartikan sebagai diet yang bisa mengonsumsi banyak jenis daging.

"Beberapa menggunakan filosofi paleo sebagai alasan untuk bisa makan terlalu banyak daging dan terlalu sedikit makanan nabati," kata Hyman.

"Jika tidak berhati-hati dengan jenis protein yang dimakan, diet tersebut dapat menempatkan Anda pada risiko penyakit kardiovaskular yang lebih tinggi," kata Dr. Youdim.

Daging merah, misalnya, yang tinggi lemak jenuh, dapat meningkatkan kadar kolesterol dalam darah dan meningkatkan risiko penyakit jantung.

Karena menghindari konsumsi susu, mereka yang berisiko osteoporosis seperti wanita kurus di atas usia 50 harus berkonsultasi jika ingin melakukan diet paleo, karena akan kekurangan kalsium dan vitamin D.

Diet paleo juga perlu dihindari bagi orang dengan kondisi kesehatan kronis seperti penyakit jantung atau penyakit ginjal.

"Dengan penyakit ginjal, asupan protein yang berlebihan sebenarnya bisa mengurangi fungsi ginjal dan berpotensi menyebabkan kegagalan," ungkap Erin Dolinski, RD, spesialis diet klinis Rumah Sakit Beaumont di Royal Oak, Michigan.

Artikel Terkait