PARENTING
13 Agustus 2019

Plus Minus Mempercayakan Anggota Keluarga Sebagai Pengasuh Anak

Lebih bisa dipercaya, tapi rentan konflik
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Orami
Disunting oleh Intan Aprilia

Demi ketenangan hati Moms akan keamanan buah hati, mempercayakan anggota keluarga sebagai pengasuh anak memang tampak seperti pilihan yang ideal.

Selain tak perlu ribet melalui proses seleksi dan wawancara, komunikasi soal anak juga pasti lebih lancar dan nyambung. Tapi benarkah tidak ada sisi negatif dari keputusan ini?

Supaya tidak salah langkah dan menyesal di kemudian hari, pertimbangkan dulu beberapa poin plus dan minus berikut sebelum mempercayakan anggota keluarga sebagai pengasuh anak.

Baca Juga: 5 Fakta Mengagumkan Maria Borrallo, Pengasuh Anak Kate Middleton dan Pangeran William

1. Lebih Bisa Dipercaya

pengasuh anak

Saat merekrut orang asing sebagai babysitter atau pengasuh anak, sudah pasti butuh waktu dan penyesuaian yang cukup lama untuk membangun kepercayaan.

Belum lagi kalau harus kembali mulai dari awal saat yang lama berhenti dan Moms merekrut yang baru.

Berbeda halnya kalau yang dipercayakan adalah anggota keluarga dekat seperti kakek, nenek, paman, atau bibi.

Moms tentu akan merasa tenang karena tahu betul Si Kecil pasti aman dan kebutuhannya diperhatikan dengan baik selama dalam pengasuhan.

2. Lebih Hemat Secara Finansial

pengasuh anak

Bicara soal pengasuh anak tentu tidak terlepas dari gaji yang harus Moms bayarkan setiap bulan.

Tentu bukan masalah kalau pendapatan keluarga lebih dari cukup, tapi pasti akan jadi beban tersendiri kalau pendapatan keluarga pas-pasan.

Mempercayakan anggota keluarga sebagai pengasuh anak biasanya dilakukan berdasarkan asas saling pengertian, sehingga Moms tidak dipatok membayar sejumlah uang tertentu.

Namun dokter keluarga dan pendiri Ask Doctor G, Deborah Gilboa MD, berpendapat tetap perlu ada kompensasi lain sebagai ungkapan penghargaan dan terima kasih Moms.

Misalnya dengan memfasilitasi kebutuhannya di rumah, memberikan uang saku, atau sesekali membuatkan makanan favoritnya.

Baca Juga: Bagaimana Cara Mengatasi Kakek Nenek yang Memanjakan Cucu?

3. Gaya Pola Asuh Anak yang Tidak Sejalan

pengasuh anak

Salah satu kendala yang mungkin muncul adalah pola asuh atau gaya mendisiplinkan anak yang tidak sejalan.

Contohnya, Moms membatasi penggunaan alat elektronik hanya di waktu tertentu saja, sementara yang mengasuh membiarkan anak nonton TV seharian.

Menurut spesialis perkembangan anak Deb Moberly Ph.D., anak memang sebaiknya diasuh oleh seseorang yang paham tentang pentingnya memberikan stimulasi kreatif, literasi, ilmiah, dan matematika melalui berbagai aktivitas edukatif.

Tentunya akan jadi masalah kalau anggota keluarga yang Moms percayakan sebagai pengasuh tidak mampu atau tidak bersedia mendampingi anak melakukan berbagai aktivitas tadi.

Baca Juga: Moms, Waspada dengan 6 Tanda Pengasuh Anak yang Buruk Ini!

4. Rentan Konflik Pribadi

pengasuh anak

Karena rincian hak dan kewajiban sudah jelas sejak awal, tentu tidak masalah kalau Moms langsung menegur dengan tegas atau memberikan sanksi saat ada kelalaian yang dilakukan oleh pengasuh anak profesional.

Namun saat berhadapan dengan anggota keluarga, apalagi yang usianya lebih tua dari Moms, tentu tidak bisa begitu.

Pasti akan serba salah rasanya, karena sedikit salah memilih kata atau menggunakan nada suara saja bisa membuat salah satu pihak merasa tersinggung.

Kalau sudah tidak sreg, memecat atau memutuskan hubungan juga tentu bukan pilihan kalau Moms mempercayakan anggota keluarga sebagai pengasuh anak.

Itulah Moms, plus minus yang perlu dipertimbangkan dengan baik sebelum memilih anggota keluarga sebagai pengasuh anak.

Jadi mana yang Moms pilih, mempercayakan pengasuh anak pada tenaga profesional atau pada anggota keluarga?

(WA)

Artikel Terkait