COVID-19
8 Juli 2020

Polemik Kalung Antivirus Corona dari Kementan, Ketahui Faktanya Berikut Ini

Kalung ini mengundang sisi pro dan kontra di masyarakat Indonesia
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Lolita
Disunting oleh Amelia Puteri

Belakangan ini, kalung antivirus corona buatan Kementerian Pertanian Republik Indonesia (Kementan) ramai diperbincangkan. Sebab, kalung yang terbuat dari tanaman eucalyptus, daun kayu putih, diklaim efektif membunuh COVID-19.

Menteri Pertanian (Mentan) mengungkapkan bahwa klaim tersebut berdasarkan penelitian tanaman eucalyptus yang telah diuji coba dan terbukti bisa membunuh COVID-19 hingga 80% setelah seseorang terkontaminasi dengan COVID-19.

Hal ini menjadi perbincangan masyarakat tentang khasiatnya yang diklaim dapat menyembuhkan infeksi. Lantas, seberapa efektif penggunaan kalung antivirus corona dari eucalyptus yang dibuat Kementan ini?

Baca Juga: Kementan Luncurkan Produk Eucalyptus untuk Antivirus Corona, Apakah Efektif Digunakan?

Pengertian Tanaman Eucalyptus

polemik kalung antivirus corona kementan

Foto: Orami Photo Stock

Eucalyptus atau kayu putih merupakan tanaman herbal yang sejak dulu telah digunakan untuk menyembuhkan dan meredakan berbagai penyakit. Sedikitnya ada lebih dari 700 jenis tanaman eucalyptus yang tersebar di seluruh dunia.

Salah satu jenis eucalyptus yang paling banyak digunakan ialah eucalyptus globulus. Jenis yang satu ini biasanya diambil minyaknya yang mengandung banyak antikosidan yang baik untuk tubuh.

Menurut penelitian dalam jurnal Clinical Microbiology and Infection (CMI), tanaman jenis ini memiliki antibakteri yang berguna untuk mengobati infeksi saluran pernapasan, antiseptik, hingga pereda rasa nyeri.

Meski begitu, hingga kini peneliti dan ilmuwan Indonesia masih meragukan klaim antivirus corona dari tanaman tersebut. Selain itu, ilmuwan dan peneliti menganggap bahwa perlu dilakukan uji coba serta penelitian lebih lanjut terkait produk kalung antivirus corona Kementan tersebut.

Baca Juga: 9 Manfaat Minyak Eucalyptus untuk Kesehatan

Penelitian yang Telah Dilakukan Kementan

polemik kalung antivirus corona kementan

Foto: Humas Kementerian Pertanian

Evi Savitri Iriani, Kepala Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Kementan, yang juga terlibat dalam penelitian eucalyptus sebagai antivirus COVID-19 menuturkan bahwa penelitian tersebut telah dilakukan sejak bulan Januari 2020 ketika awal mula kemunculan COVID-19 di China.

Melansir Kompas.com, saat itu, Evi meminta peneliti dan ilmuwan untuk mengumpulkan hasil penelitian yang bisa digunakan sebagai antivirus dan meningkatkan imunitas sehingga terhindar dari COVID-19.

Setelah mengumpulkan hasil penelitian, ditemukan sebanyak 50 tanaman berpotensi sebagai antivirus dan imun.

Selanjutnya, hasil penelitian itu diuji coba oleh BB Veteriner, lembaga penelitian hewan yang sudah 50 tahun berkecimpung di dunia penelitian, termasuk meneliti flu burung dan virus SARS. Uji coba tersebut dilakukan untuk mengetahui kemampuan dan ketahanan tanaman terhadap virus.

Meski begitu, Evi menyebut tidak secara spesifik melakukan uji coba dengan virus SARS-CoV-2 yang menjadi penyebab pandemi COVID-19, namun melakukan uji coba ke virus corona secara umum.

Evi menyebut belum adanya sample virus SARS-CoV-2 di laboratorium menjadi salah satu kendala saat uji coba. Selain itu, pihaknya juga menguji coba tanaman tersebut ke virus flu babi H5N1 dan virus flu burung sebagai pembanding.

Saat dilakukan pengujian, ditemukan bahwa eucalyptus memiliki kemampuan yang tinggi untuk membunuh virus bahwa mampu mematikan 80 hingga 100% virus model beta, influenza dan gama corona.

Meski demikian, Evi mengaku masih harus terus melakukan penelitian lebih dalam terkait hal itu terutama melakukan uji coba terhadap manusia dan virus SARS-CoV-2. Ia berharap penelitian ini bisa ditindaklanjuti oleh laboratorium yang berkompeten dan memiliki fasilitas untuk melakukan uji coba.

Baca Juga: 10 Negara ASEAN Terinfeksi COVID-19, Ini Urutan Tertinggi Hingga Terendah

Uji Coba dengan Embrio pada Telur Ayam

- polemik kalung antivirus corona kementan

Foto: Orami Photo Stock

Selain menggunakan berbagai virus, Kementan juga melakukan uji coba terhadap embrio telur ayam. Pada pengujian kali ini, beberapa telur ayam yang sudah berembrio terinfeksi dengan virus corona umum.

Telur-telur yang sudah terinfeksi virus corona secara umum itu sebagian diberi eucalyptus sedangkan sebagian lainnya tidak. Selanjutnya, telur-telur itu didiamkan selama seminggu.

Setelah seminggu, telur dipecahkan dan hasilnya ialah telur yang hanya diberi virus corona membuat embrio ayam mati. Sedangkan embrio yang diberi eucalyptus dengan konsentrasi 0,1 hingga 1 persen masih hidup dan tumbuh dengan normal.

Baca Juga: Dari Persatuan Dokter Emergensi Indonesia, Ini Panduan Mencuci Tangan untuk Hindari Virus COVID-19

Klarifikasi Kementan: Kalung Antivirus Corona Tidak Bisa Membunuh COVID-19

kalung antivirus corona kementan.jpg

Foto: medcom.id

Setelah timbul polemik terkait klaim Kementan soal kalung antivirus corona yang bisa membunuh COVID-19, Kepala Balai Besar Penelitian Veteriner Kementerian Pertanian, Indi Dharmayanti, memberikan klasifikasinya.

Mengutip Detik Health, Indi menegaskan bahwa riset mendalam mengenai produk tersebut masih perlu dilakukan lebih lanjut. Sebab, riset yang dilakukan saat ini masih dalam tahap in vitro dan belum dilakukan uji coba langsung dengan manusia.

Selain itu, Indi juga meluruskan tentang klaim antivirus corona yang menurutnya tidak datang dari peneliti. Pihaknya mendaftarkan produk tersebut ke BPOM dengan klaim mampu melegakan saluran pernapasan, mengurangi sesak napas dan mengurangi paparan COVID-19.

Itulah informasi mengenai polemik kalung antivirus corona buatan Kementan. Hingga kini vaksin COVID-19 masih tersebut disempurnakan oleh para ilmuwan dan peneliti di seluruh dunia.

Sambil menunggu vaksin dan penelitian lebih lanjut terhadap produk kalung antivirus dari Kementan, menerapkan protokol kesehatan masih menjadi cara paling ampuh untuk memutus tali penyebaran COVID-19.

Sehingga, pastikan Moms dan keluarga selalu melakukan protokol kesehatan di manapun dan kapanpun ya, Moms.

Artikel Terkait