KESEHATAN
4 September 2019

Polusi Udara di Jakarta Masih Buruk, Ketahui Dampak Pada Tubuh dan Cara Mencegahnya

Polusi udara dapat berisiko terhadap penyempitan pembuluh darah dan memicu timbulnya penyakit kronis
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Amelia Puteri
Disunting oleh Intan Aprilia

Hingga saat ini, polusi udara di Jakarta masih saja buruk. Hal ini pun membuat masyarakat khawatir dan berinisiatif untuk melindungi diri dari paparan polusi.

Hal ini seperti disampaikan oleh dr. Ademalla Kirana Nungtjik, Sp. P, Dokter Spesialis Paru dan Pernapasan RS Pondok Indah-Bintaro Jaya.

"Polusi udara yang terhirup sehari-hari dapat memberikan efek negatif bagi kesehatan. Efek polusi udara umumnya dimulai dari paru, karena paru merupakan satu-satunya organ bagian dalam yang berhubungan langsung dengan dunia luar," jelasnya.

Lebih lanjut, dr. Ademalla menjelaskan bahwa polusi udara utama yaitu merupakan buangan gas dari kendaraan bermotor. Polutan yang dikeluarkan dari kendaraan bermotor antara lain:

  • Karbon Monoksida (CO)
  • Nitrogen Oksida (NOx)
  • Sulfur Dioksida (SO2)
  • Senyawa Hidrokarbon (HC)
  • Karbon Dioksida (CO2)
  • Partikulat Matter (PM)

Menurut dr. Ademalla, paparan polusi udara buruk yang terus menerus dapat menyebabkan risiko kesehatan dalam jangka pendek dan jangka panjang yang merugikan tubuh.

"Masing-masing polutan memberikan dampak berbahaya pada tubuh ketika sudah melebihi ambang batas. Semakin kecil ukuran partikel polusi tersebut, organ tubuh akan semakin dirusak," ungkapnya.

Baca Juga: Pahami Dampak Polusi Pada Kesuburan

Dampak Jangka Pendek Polusi Udara Buruk

pan-to-indian-young-girl-wearing-mask-for-delhi-pollution_rcpxirfxx_thumbnail-full01.png

Berikut ini dampak jangka pendek akibat paparan polusi udara buruk.

  • Mata dan hidung berair
  • Tenggorok terasa panas, gatal, berlendir
  • Batuk-batuk
  • Infeksi saluran napas atas
  • Memicu iritasi selaput lendir pada mata, hidung, mulut dan tenggorokan

Baca Juga: 5 Dampak Polusi Bagi Ibu Hamil, Sangat Berbahaya!

Dampak Jangka Panjang Polusi Udara Buruk

Dampak polusi terhadap kesuburan 3.jpg

Selain adanya dampak jangka pendek, paparan polusi udara buruk juga dapat menyebabkan beberapa risiko yang merugikan tubuh, seperti berikut ini:

1. Partikel Halus Menembus Saluran Pernapasan Bawah

Partikulat Matter (PM) 2.5 merupakan partikel halus dengan ukuran kurang dari 2.5 mikron yang mampu menembus masuk ke saluran napas bawah.

Bila terus terhirup, dalam jangka panjang akan merangsang terjadinya perubahan sel di dalam saluran pernapasan, diserap ke pembuluh darah dan menyebar ke berbagai organ tubuh.

2. Penurunan Fungsi Paru dan Penyakit Kronis

Efek jangka panjang terjadi akibat lama dan besarnya pajanan polutan yang dapat menimbulkan peradangan sistemik, penurunan fungsi paru.

Selain itu, merangsang terbentuknya risiko penyempitan pembuluh darah dan memicu sejumlah penyakit kronik seperti kanker paru, PPOK, stroke, penyakit jantung, dan diabetes.

3. Karbon Monoksida yang Masuk ke Aliran Darah

Karbon Monoksida (CO) sebagai salah satu bahan pencemar berbentuk gas yang sangat beracun, mampu mencegah penyerapan oksigen oleh darah. Gas CO masuk ke dalam tubuh melalui sistem pernapasan dan masuk ke aliran darah.

Setelah terlarut dalam darah, gas CO akan berikatan dengan hemoglobin (Hb) membentuk karboksihaemoglobin (COHb) yang mengurangi kemampuan darah untuk mengirim oksigen ke jaringan tubuh, sehingga terjadi gangguan pada fungsi organ, seperti otak dan jantung.

Baca Juga: Polusi Udara Buruk, Jaga Kesehatan Paru dengan 5 Cara Ini

Pencegahan Risiko Akibat Polusi Udara Buruk

masker polusi-1.jpg

Upaya pencegahan terhadap dampak polusi udara buruk harus dilakukan secara menyeluruh, selain melibatkan pemerintah, namun juga pencegahan dari diri sendiri.

"Cara untuk mencegah berkembangnya penyakit paru yang terpenting adalah dengan menjalani pola hidup sehat agar dapat membangun imunitas tubuh yang optimal," jelas dr. Ademalla.

Ia menyarankan untuk menggunakan moda transportasi umum ketimbang kendaraan pribadi saat bepergian, menggunakan masker yang sesuai sehingga dapat menyaring partikel berbahaya ketika beraktivitas di luar ruangan.

Selain itu, hindari terlalu lama berada di luar ruangan, terutama di area saat kadar polutan sedang tinggi. Moms juga diharapkan aktif menanam pohon di belakang rumah.

"Hindari daerah atau jalan yang tercemar polusi, mengatur waktu aktivitas, seperti lebih sering keluar rumah lebih pagi karena kadar polutan lebih rendah, dibanding keluar ruangan pada siang sampai malam hari," jelasnya.

Baca Juga: Polusi Udara Jakarta Makin Buruk, Lakukan 5 Cara Ini untuk Memperbaikinya

Olahraga setiap akhir pekan di daerah dengan kandungan oksigen tinggi juga penting untuk mengimbangi polutan yang terhirup selama hari kerja. Sehingga dapat meningkatkan kekuatan paru.

"Frekuensi pernapasan lebih cepat ketika berolahraga. Sehingga oksigen yang bersih dapat masuk ke paru," kata dr. Ademalla.

Namun, bila Moms berolahraga di daerah yang mengandung polutan tinggi, maka polutan akan lebih banyak masuk ke dalam tubuh.

Terakhir, Moms bisa melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin dan berkala ke dokter spesialis paru dan pernapasan, setidaknya enam bulan sekali untuk mendeteksi jika ada gangguan pada paru.

Artikel Terkait