PROGRAM HAMIL
16 Agustus 2019

Program Hamil dengan Suami Paruh Baya, Apakah Bisa Berhasil?

Seberapa besar kemungkinan keberhasilannya?
Artikel ditulis oleh Orami
Disunting oleh Intan Aprilia

Menurut para ahli, peluang perempuan untuk dapat hamil akan menurun tajam begitu ia mencapai usia 35 tahun.

Perempuan yang ingin menjalani program hamil di usia paruh baya kemungkinan besar harus melalui prosedur perawatan khusus, seperti misalnya in vitro fertilization (IVF).

Sementara, usia kesuburan pria sedikit lebih panjang dibandingkan perempuan. Faktanya, banyak pria menjalani program hamil di usia paruh baya dan berhasil mempunyai momongan dengan pasangannya, meskipun tanpa mengikuti perawatan khusus seperti IVF.

Hal ini dibenarkan oleh Dr. Mary Samplaski, dokter spesialis kesuburan pria dari Keck Medicine, University of Southern California.

Menurut Dr. Samplaski, data menunjukkan bahwa pria saat ini cenderung mempunyai anak pada usia yang lebih lanjut daripada perempuan.

“Jumlah pria yang memilih langkah tersebut makin banyak dan makin lazim,” kata Dr. Samplaski.

Baca Juga: Dads, Ini 5 Manfaat Bawang Putih untuk Kesuburan Pria yang Perlu Diketahui

Menjalani program hamil dengan suami berusia 45+

Ia menjelaskan, alasannya bisa jadi karena penurunan kesuburan pria tidak terjadi secepat pada perempuan. Pria tetap dapat mempunyai anak secara alami pada saat ia telah mencapai usia lanjut.

Contoh pria-pria yang menjalani program hamil di usia paruh baya antara lain selebriti Hollywood John Stamos (punya bayi di usia 54 tahun), George Clooney (punya bayi di usia 56 tahun), Robert de Niro (punya bayi di usia 68 tahun), dan masih banyak lagi lainnya.

Baca Juga: Yuk, Simak 3 Mitos Soal Kesuburan Pria Ini

Program Hamil dengan Suami Paruh Baya

Menjalani program hamil dengan suami berusia 45+

Para ahli mengatakan, pria yang ingin memiliki keturunan sebaiknya merencanakan untuk punya anak sebelum mencapai usia 35 tahun.

Hasil studi yang diterbitkan di British Medical Journal menemukan bahwa risiko persalinan mulai meningkat pada calon ayah yang berusia 30-an, dan meningkat secara signifikan pada calon ayah yang berusia 45 tahun ke atas.

Risiko yang dimaksud adalah bayi terlahir cacat. Dalam studi tersebut, para peneliti meneliti data lebih dari 40 juta bayi pada periode 2007 dan 2016.

Sementara, dikutip dari situs web The Coverage, berikut besarnya risiko bayi yang dilahirkan dari Dads yang berusia di atas 45 tahun:

  • 14 persen untuk dirawat di IGD
  • 14 persen terlahir secara prematur
  • 18 persen mengalami kejang
  • 14 persen terlahir dengan berat badan rendah.

Baca Juga: Benarkah Sunat Berpengaruh pada Kesuburan Pria?

Menurut Michael Eisenberg, M.D., peneliti utama studi dari Stanford University School of Medicine, risiko bayi terlahir cacat muncul karena seiring dengan pertambahan usia pria, DNA di spermanya mengalami setidaknya dua jenis mutasi.

“Studi ini menunjukkan bahwa kelahiran bayi yang sehat ditentukan oleh perpaduan dari gen sehat calon ibu maupun calon ayah. Dan, usia calon ayah ternyata berperan cukup signifikan terhadap kesehatan bayi,” terang Dr. Eisenberg.

(AN)

Artikel Terkait