KEHAMILAN
3 Agustus 2020

Program Hamil untuk Suami, Ini Semua Hal yang Wajib Diketahui!

Sudahkah Dads mengetahui info seputar program hamil untuk suami di bawah ini?
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Serenata Kedang
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Umumnya, ketika mendengar atau mencari tahu tentang program hamil, pemikiran akan langsung tertuju pada program hamil untuk Moms saja. Padahal, program hamil untuk suami juga tersedia meskipun tidak sering terdengar.

Beberapa manfaat Dads mengikuti program hamil yaitu berkesempatan untuk mencegah penyakit yang belum diketahui, meningkatkan pengetahuan seputar kehamilan dan perencanaan dalam berkeluarga, serta meningkatkan kesehatan reproduksi dan gaya hidup sehat.

Menurut artikel kajian penelitian Men’s Preconception Health, mengajak pria untuk mendatangi pelayanan kesehatan tidaklah mudah walaupun telah menunjukkan secara jelas gejala yang membutuhkan perawatan atau pengobatan.

Padahal, mengikuti program hamil untuk suami memberikan dampak positif pada hubungan suami istri, mempersiapkan diri menjadi ayah yang baik, kepercayaan diri pria, serta kesehatan ayah dan anak secara keseluruhan dan berkelanjutan.

Diagnosis Sebelum Program Hamil untuk Suami

Program hamil untuk suami 1.jpg

Foto: Freepik.com

Dalam survei Preparation for Fatherhood, 573 orang pria menjadi responden dengan rata-rata umur 34 tahun. Sebanyak 46,9 persen di antaranya berusaha mencari informasi tentang kehamilan dari berbagai sumber, termasuk secara online, sebelum pasangannya hamil.

Pria yang merencanakan kehamilan bersama pasangannya lebih mungkin mengurangi kebiasaan merokok, minum alkohol, dan makan lebih sehat untuk mempersiapkan kehamilan daripada yang tidak melakukan perencanaan.

Namun, dari 250 orang yang menjawab terkait pengobatan, hanya 23 persen yang mengonsumsi vitamin khusus kehamilan.

Untuk setiap program, perlu untuk membuat perencanaan dan persiapan yang baik agar mencapai tujuan yang diinginkan, misalnya saja kapan dan berapa anak yang diinginkan.

Rencana ini mungkin akan berbeda pada setiap pasangan suami istri, tergantung pada nilai-nilai yang dianut, tujuan, dan kemampuan masing-masing pasangan.

Baca Juga: Apa Sajakah Persiapan untuk Program Hamil?

Program kehamilan setiap pasangan dapat berbeda sesuai dengan kondisi yang sedang atau akan mereka hadapi. Karena itu, Dads juga harus menjalani beberapa tes untuk mendapatkan diagnosa dari ahli kandungan serta program hamil untuk suami yang tepat untuk dijalani, terutama jika Moms dan Dads memiliki keluhan tertentu.

Setelah itu, mengetahui dan mencegah penyakit menular seksual pada diri sendiri dan pasangan juga perlu dilakukan sebelum memulai program hamil. Akibat dari penyakit menular seksual tidak dapat dianggap remeh, terutama jika Moms telah mengandung, karena dapat mengancam nyawa Moms dan bayi. Pada beberapa kasus, penyakit menular seksual tertentu dapat menyebabkan ketidaksuburan pada Moms.

Sebagai awal, tes yang mungkin akan disarankan oleh dokter yaitu:

  • Pemeriksaan fisik secara keseluruhan termasuk pemeriksaan genital, menanyakan riwayat penyakit genetik dalam keluarga, penyakit kronis, masalah kesehatan, cedera, atau operasi yang dapat berdampak pada kesuburan. Dokter juga mungkin akan menanyakan tentang kehidupan seksual Dads seperti kebiasaan dan perkembangan seksual saat puber. Jika Dads mengetahui adanya penyakit bawaan dari keluarga, Dads juga wajib melaporkannya pada dokter.
  • Analisis semen juga mungkin akan dilakukan dan Dads diminta untuk memberikan sampel semen melalui masturbasi atau ejakulasi saat berhubungan seksual dengan kondom khusus. Sampel semen akan diperiksa untuk mengetahui adanya infeksi atau abnormalitas pada bentuk dan pergerakan sel sperma. Dokter mungkin akan mengumpulkan sampel semen beberapa kali dalam periode tertentu untuk memastikan sperma Dads normal.

Namun, tidak menutup kemungkinan dokter akan meminta tes tambahan apabila diperlukan untuk mengidentifikasi keluhan atau gejala ketidaksuburan yang dialami oleh Dads. Contoh tes tambahan yang akan disarankan adalah:

  • Scrotal Ultrasound, menggunakan teknologi gelombang suara frekuensi tinggi untuk melihat gambaran dalam tubuh, salah satunya dapat digunakan untuk memeriksa area skrotum. Dokter dapat mendeteksi adanya abnormalitas pada pembuluh darah atau gejala lainnya di sekitar testis yang mempengaruhi produksi sperma dan berdampak pada ketidaksuburan pria.
  • Tes hormon untuk mengetahui adanya abnormalitas pada organ dan produksi hormon dalam tubuh. Melalui analisa sampel darah, dapat diketahui level testosterone dan hormon lainnya yang mempengaruhi perkembangan seksual dan produksi sperma dalam tubuh Dads.
  • Post Ejaculation Urinalysis, yaitu pemeriksaan pada urin untuk mendeteksi adanya gejala sperma yang berenang kembali ke dalam tubuh, di mana seharusnya sperma keluar dari penis saat ejakulasi. Gejala ini disebut juga retrograde ejaculation.
  • Genetic Tests, untuk memeriksa adanya penyebab genetik atau keturunan yang menyebabkan konsentrasi sperma sangat rendah. Melalui pemeriksaan darah, dokter dapat mengetahui apabila kromosom Y pada genetik Dads terdapat abnormalitas. Tes ini juga mungkin akan direkomendasikan dokter untuk mendiagnosa adanya gejala bawaan atau keturunan.
  • Testicular Biopsy, tes ini melibatkan pengambilan sampel pada testis menggunakan jarum. Jika produksi sperma pada testis ditemukan normal, kemungkinan masalah Dads terletak pada penyumbatan atau lainnya pada saluran pengangkut sperma.
  • Specialized Sperm Function Tests, yaitu serangkaian tes yang dilakukan untuk memeriksa seberapa lama sperma dapat bertahan setelah ejakulasi, kekuatan sperma menembus sel telur, dan mengidentifikasi apakah ada masalah pada sperma yang tidak dapat menempel pada sel telur. Secara umum tes ini jarang dilakukan dan tidak secara signifikan mengubah rekomendasi dokter untuk program hamil.
  • Transrectal Ultrasound, pemeriksaan dengan memasukkan sebuah tongkat kecil yang dilubrikasi ke dalam rektum. Dokter akan memeriksa prostat dan kemungkinan penyumbatan saluran pembuluh yang membawa semen keluar.

Tips Program Hamil untuk Suami

Setelah mendapatkan hasil pengecekan kesehatan secara keseluruhan dan diagnosa, dokter akan memberikan saran dan rekomendasi untuk Dads yang ingin memiliki anak, terutama jika Dads teridentifikasi memiliki masalah tertentu yang mempengaruhi kesuburan atau yang menghalangi kehamilan.

Biasanya program hamil bagi pria sebagai calon ayah akan disarankan untuk memiliki gaya hidup sehat agar memproduksi kualitas sperma yang baik dan pengobatan bagi yang memiliki masalah dengan ketidaksuburan.

1. Mengubah Gaya Hidup

Program hamil untuk suami 2.jpg

Foto: Freepik.com

Penelitian berjudul Exploring men’s pregnancy-planning behaviour and fertility knowledge dengan 796 partisipan di Swedia, sebanyak 81 persen pria menyatakan telah merencanakan kehamilan dengan pasangan, sebanyak 17 persen di antaranya mengubah gaya hidup sebelum kehamilan untuk meningkatkan kesuburan dan kesehatan. Penyesuaian gaya hidup yang paling sering dilakukan yakni mengurangi atau berhenti merokok, konsumsi alkohol, dan lebih sering olahraga.

Baca Juga: 5 Langkah Sederhana untuk Menjalani Gaya Hidup Sehat

Beberapa pria mengalami masalah pada sperma karena bawaan dari lahir, namun faktor lain seperti penyakit, cedera, dan gaya hidup juga berdampak pada sperma.

Jika Dads memiliki masalah ketidaksuburan, mengubah gaya hidup menjadi lebih sehat akan direkomendasikan oleh dokter, contohnya:

  • Menghindari obesitas, kelebihan berat badan sering dikaitkan dengan masalah produksi sperma. Sebaiknya mempertahankan berat badan yang sehat sesuai dengan bentuk tubuh.
  • Menghentikan ketergantungan pada alkohol, rokok, dan obat-obatan terlarang. Secara umum, masalah ketergantungan pada ketiga benda ini dapat mengganggu fungsi biologis tubuh. Bagaimanapun, segala sesuatu yang berlebihan tidak baik untuk tubuh.
  • Menjaga testis dalam temperatur yang optimal. Sebagai contoh, terlalu sering menggunakan pakaian yang ketat dapat mengganggu aliran sirkulasi darah di area genital dan menaikkan suhu di sekitar testis. Suhu yang lebih tinggi di area testis juga sering dikaitkan dengan ketidaksuburan karena mempengaruhi produksi sperma.
  • Memakan makanan bergizi yang memenuhi kebutuhan nutrisi, zat besi, dan vitamin C untuk membantu produksi sperma yang berkualitas. Dads juga dapat mengonsumsi suplemen tambahan apabila makanan yang dikonsumsi kurang memenuhi kebutuhan gizi harian.
  • Berolahraga untuk meningkatkan imunitas tubuh yang berguna untuk melawan infeksi dan inflamasi, sebab kualitas sperma juga dapat dipengaruhi oleh adanya infeksi dan inflamasi dalam tubuh.

2. Melakukan Perawatan atau Pengobatan

Program hamil untuk suami 3.jpg

Foto: Freepik.com

Secara umum, indikator kesuburan seorang pria terletak pada kualitas dan kuantitas produksi sperma. Jika jumlah dan kualitas sperma terlalu rendah, kemungkinan untuk hamil menjadi rendah pula. Sekitar satu dari dua puluh orang pria memiliki jumlah sperma yang rendah.

Gejalanya hampir tidak terlihat oleh mata telanjang, karena pada umumnya aktivitas seksual, ereksi, ejakulasi, dan semen akan terlihat normal. Jika Dads sudah mencoba berhubungan seks selama setahun dengan frekuensi minimal dua kali seminggu, namun tidak kunjung dikaruniai anak, maka berkonsultasi dengan dokter ahli sangat disarankan.

Untuk Dads yang telah mendapatkan diagnosis dari dokter terkait ketidaksuburan, biasanya akan dilakukan terapi atau pengobatan agar Dads dapat memiliki anak. Tindakan-tindakan yang mungkin dilakukan atau disarankan oleh dokter adalah:

  • Operasi, ketika Dads didiagnosa mengalami pelebaran pembuluh pada sistem reproduksi, kondisi ini dapat ditangani dengan operasi agar berfungsi normal.
  • Mengobati infeksi pada sistem reproduksi dengan antibiotik, namun tidak selalu bekerja untuk mengembalikan kesuburan.
  • Pada kasus disfungsi ereksi atau ejakulasi prematur, terapi dengan konseling atau obat-obatan juga dapat membantu meningkatkan kesuburan.
  • Pengobatan atau terapi hormon akan direkomendasikan dokter jika masalah ketidaksuburan Dads disebabkan oleh tinggi rendahnya hormon tertentu atau masalah yang berkaitan dengan penggunaan hormon dalam tubuh.
  • Assisted Reproductive Technology (ART) yaitu mengambil sperma melalui ejakulasi secara normal, secara operasi, atau dari seorang donor sperma, tergantung dari kasus dan keputusan dari pasangan suami istri itu sendiri. Kemudian sperma yang dikumpulkan akan dimasukkan ke dalam saluran genital Moms, atau digunakan dalam tindakan bayi tabung (ICSI) atau Vitro Fertilization (IVF).

3. Kesehatan Mental

Program hamil untuk suami  4.jpg

Foto: Freepik.com

Kesehatan mental adalah bagaimana kita berpikir, merasakan, dan berperilaku sesuai dengan kondisi yang sedang kita hadapi. Dalam keadaan mental yang sehat, Dads dapat melakukan dan mengambil keputusan dengan lebih baik.

Mendapatkan diagnosa tidak subur dapat menjadi hal yang mengejutkan dan mengecewakan untuk pria. Masalah kesuburan dapat berdampak pada perasaan maskulin, seksualitas, dan potensi pria.

Baca Juga: 8 Jenis Gangguan Kesehatan Mental yang Perlu Kita Kenal

Memberikan reaksi yang emosional pada kabar ini adalah perilaku normal, namun ketika perasaan negatif ini tidak kunjung berlalu dan mengganggu kegiatan sehari-hari, sebaiknya Dads berkonsultasi dengan terapis seksual atau dokter ahli untuk mendapatkan solusi.

Menjaga kesehatan mental Dads cukup penting dalam menjalani program hamil bersama pasangan, terutama dalam memberikan dukungan. Sebagai contoh, selama hamil Moms akan berusaha makan-makanan yang lebih sehat, Dads dapat makan bersama, membantu menyiapkan, atau mengingatkan Moms dalam menyusun menu.

Nah, kira-kira inilah yang harus Dads lalui ketika ingin mengikuti program hamil untuk suami. Program hamil ini tidak selalu berarti Dads tidak subur, namun dapat dimanfaatkan untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan kesejahteraan hidup berkeluarga secara keseluruhan. Selamat mencoba!

Artikel Terkait