PROGRAM HAMIL
23 Maret 2020

Prosedur IVF, Ini Pengertian, Tahapan, Risiko, Tingkat Keberhasilan, dan Biayanya

Keberhasilannya dipengaruhi oleh banyak faktor
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Amelia Puteri
Disunting oleh Dina Vionetta

Bayi tabung, atau in vitro fertilization (IVF), adalah salah satu teknologi untuk program hamil. Biasanya, bayi tabung dilakukan pada pasangan yang ingin memiliki keturunan, tetapi punya masalah dengan kesuburan atau infertilitas

Mengutip Medline Plus, program bayi tabung adalah penyatuan sel telur wanita dan sperma pria dalam laboratorium. Makna kata "in vitro" sendiri berarti "di luar tubuh."

Dalam proses reproduksi alami, sel telur dibuahi oleh sperma di dalam tubuh wanita. Namun dengan IVF, pembuahan terjadi di luar tubuh wanita. Karena itu, proses ini disebut konsepsi non-alami.

Ketahui lebih dalam penjelasan tentang bayi tabung atau in vitro fertilization berikut ini, Moms.

Pengertian Bayi Tabung atau IV

IVF-1

Foto: Orami Photo Stock

Melansir BBC, praktik bayi tabung pertama kali berhasil dilakukan pada pasangan Steptoe dan Edwards. Bayi pertama di dunia yang berhasil dari IVF yaitu bernama Louise Brown, yang lahir pada tanggal 25 Juli 1978, di Rumah Sakit Umum Oldham, Greater Manchester, Inggris.

Menurut National Health Service, dijelaskan bahwa IVF sebaiknya dilakukan pada wanita di bawah usia 43 tahun, yang telah mencoba hamil melalui hubungan seks tanpa kondom selama 2 tahun, atau telah melakukan 12 siklus inseminasi buatan.

Selama dilakukan proses IVF, sel telur dikeluarkan dari ovarium wanita dan dibuahi oleh sperma di laboratorium. Telur yang telah dibuahi (embrio), kemudian dikembalikan ke rahim wanita untuk tumbuh dan berkembang membentuk janin.

Baca Juga: Simak Waktu yang Dibutuhkan Selama Proses Bayi Tabung Berikut Ini

Tahapan Melakukan Program Bayi Tabung atau IVF

IVF-2.jpg

Foto: medicalnewstoday.com

Secara umum, proses bayi tabung atau IVF terdiri dari lima langkah dasar. Mengutip American Pregnancy Association, berikut ini tahapan tersebut:

Langkah 1: Merangsang Produksi Telur

Obat kesuburan diresepkan untuk merangsang produksi telur. Produksi banyak telur dibutuhkan, karena beberapa telur tidak akan tumbuh atau mampu dibuahi setelah diambil.

Dalam langkah IVF ini, ultrasonografi transvaginal digunakan untuk memeriksa ovarium, dan sampel tes darah diambil untuk memeriksa kadar hormon.

Langkah 2: Mengambil Telur dari Rahim

Selanjutnya, telur diambil melalui prosedur bedah kecil. Penggunaan pencitraan ultrasonografi dilakukan untuk memandu jarum suntik menuju rongga panggul, lalu telur pun diangkat.

Dokter memberikan obat untuk mengurangi dan menghilangkan ketidaknyamanan pada langkah ini.

Langkah 3: Pengambilan Sampel Sperma

Usai mengambil telur yang berpotensi untuk dibuahi, langkah IVF selanjutnya yaitu dilakuakn pengambilan sampel sperma, dipilih serta disiapkan untuk digabungkan dengan telur yang sebelumnya sudah diambil.

Langkah 4: Proses Pembuahan Menjadi Embrio

Dalam proses yang disebut inseminasi, sperma dan telur dicampur bersama dan disimpan dalam cawan laboratorium untuk mendorong terjadinya pembuahan.

Dalam beberapa kasus, ada kemungkinan terjadi pembuahan yang lebih rendah, maka dilakukan injeksi sperma intracytoplasmic (ICSI). Melalui prosedur ini, satu sperma disuntikkan langsung ke dalam telur sehingga bisa langsung mencapai pembuahan.

Telur dipantau untuk memastikan bahwa pembuahan dan pembelahan sel sedang terjadi. Setelah ini terjadi, telur yang dibuahi ini dianggap sebagai embrio.

Langkah 5: Embrio Dipindahkan ke Rahim

Embrio ini lalu dipindahkan ke dalam rahim wanita, tiga sampai lima hari setelah pengambilan telur dan terjadi pembuahan. Caranya dilakukan dengan menggunakan sebuah kateter atau tabung kecil, yang dimasukkan ke dalam rahim untuk mentransfer embrio tersebut.

Prosedur ini tidak menimbulkan rasa sakit bagi sebagian besar wanita, meskipun beberapa mungkin bisa mengalami kram ringan. Jika prosedur ini berhasil, implantasi biasanya terjadi sekitar 6-10 hari setelah sel telur diambil.

Keseluruhan proses ini bisa memakan waktu sekitar empat hingga enam minggu untuk menyelesaikan satu siklus IVF.

Baca Juga: Ini Dia 4 Kelebihan Bayi Tabung Dibandingkan dengan Program Hamil Lainnya

Setelah Dilakukan Prosedur Bayi Tabung atau IVF

IVF-3

Foto: Orami Photo Stock

Setelah dilakukan transfer embrio, Moms dapat melanjutkan aktivitas normal sehari-hari. Namun, indung telur mungkin masih membesar. Karena itu, pertimbangkan untuk menghindari aktivitas yang keras, sehingga dapat menyebabkan ketidaknyamanan.

Mengutip Mayo Clinic, efek samping yang umum setelah program bayi tabung ini termasuk:

  • Mengeluarkan sedikit cairan bening atau berdarah sesaat setelah prosedur
  • Payudara terasa lembut karena kadar estrogen yang tinggi
  • Rasa kembung yang ringan
  • Kram ringan
  • Sembelit

Bila mengalami nyeri sedang atau berat setelah transfer embrio, hubungi dokter agar bisa dilakukan evaluasi untuk komplikasi seperti infeksi.

Sekitar 12 hari hingga dua minggu setelah pengambilan sel telur, dokter akan menguji sampel darah untuk mendeteksi apakah Moms hamil.

  • Jika hamil, dokter akan merujukkan Moms ke dokter kandungan atau spesialis kehamilan lain untuk perawatan pranatal.
  • Jika tidak hamil, Moms akan berhenti mengonsumsi progesteron dan kemungkinan akan mengalami menstruasi dalam waktu seminggu. Bila menstruasi atau pendarahannya tidak biasa, hubungi dokter.

Bila tidak hamil dan Moms ingin mencoba siklus bayi tabung lagi, dokter mungkin memberikan langkah-langkah yang dapat diambil untuk meningkatkan peluang hamil melalui IVF.

Baca Juga: Ketahui 8 Kelainan Tabung Saraf yang Bisa Terjadi Pada Bayi

Risiko dan Tingkat Keberhasilan dalam Program Bayi Tabung atau IVF

IVF-4

Foto: Orami Photo Stock

Perlu dipahami, pada program IVF, cara ini tidak 100 persen pasti akan memberikan kehamilan. Selain itu dalam prosesnya, bisa sangat menuntut fisik dan emosional. Karena itu, penting melakukan konseling terlebih dahulu jika ingin melakukan program bayi tabung.

Selain itu, ada juga sejumlah risiko kesehatan dari IVF yang terlibat, termasuk beberapa hal berikut ini:

  • Efek samping obat, adanya efek samping dari obat yang digunakan selama perawatan, seperti sakit kepala
  • Kelahiran ganda, seperti kembar dua atau kembar tiga, dan kondisi ini bisa berbahaya bagi ibu dan anak-anak
  • Kehamilan ektopik, di mana embrio ditanamkan di saluran tuba, bukan di dalam rahim
  • Ovarian Hyperstimulation Syndrome (OHSS), di mana terlalu banyak sel telur berkembang di ovarium

Sementara itu, dalam Medical Journal of Indonesia, disebutkan bahwa semakin tinggi usia istri, semakin rendah tingkat kehamilan. Dengan kata lain, semakin tinggi usia istri, semakin tinggi tingkat keguguran.

Tingkat keberhasilan IVF juga tergantung pada apa yang menjadi penyebab infertilitas. IVF biasanya tidak dianjurkan untuk wanita di atas usia 42 tahun karena angka keberhasilan kehamilan yang terlalu rendah.

Berikut ini besaran persentase perawatan IVF yang menghasilkan kelahiran hidup:

  • 29% untuk wanita di bawah 35 tahun
  • 23% untuk wanita berusia 35 - 37 tahun
  • 15% untuk wanita berusia 38 - 39 tahun
  • 9% untuk wanita berusia 40 - 42 tahun
  • 3% untuk wanita berusia 43 - 44 tahun
  • 2% untuk wanita berusia di atas 44 tahun

Angka-angka ini merupakan wanita yang menggunakan sel telur mereka sendiri dan sperma dari pasangan mereka, menggunakan ukuran yang ditransfer per embrio.

Pada situs American Society for Reproductive Medicine, wanita mungkin merasakan kram ringan ketika kateter yang mengandung embrio dimasukkan melalui serviks.

Selain itu, Moms mungkin memiliki bercak vagina (sedikit pendarahan) sesudahnya. Sangat jarang dapat terjadi infeksi, tetapi hal ini biasanya dapat diobati dengan antibiotik.

Baca Juga: Gagal Bayi Tabung Meningkatkan Risiko Sakit Jantung, Benarkah?

Biaya Program Bayi Tabung atau IVF

IVF-5

Foto: Orami Photo Stock

Besaran biaya program bayi tabung tergantung dari klinik atau rumah sakit. Melansir Sehatq, di Indonesia harga prosedur bayi tabung rata-rata mulai dari 60 hingga 100 juta Rupiah, diluar dari tindakan lain yang dibutuhkan.

Jika Moms ingin melakukan program bayi tabung, sebaiknya tanyakan juga tentang tingkat keberhasilan, dan jangan cepat mudah tergiur dengan harga yang murah tetapi tingkat keberhasilannya rendah.

Tak hanya itu, tanyakan juga rincian biaya lainnya, termasuk biaya obat, dan perawatan yang dibutuhkan di luar prosedur bayi tabung tersebut.

Beberapa klinik atau rumah sakit ada yang memiliki program refund atau pengembalian biaya sebagian, bila program bayi tabung tidak kunjung berhasil dalam jangka waktu tertentu.

Artikel Terkait