PARENTING
17 September 2019

Proses Tumbuh Kembang yang "Beda" dari Anak Kebanyakan, Ini Kisah Saya Menerima Keadaan Ezio

Saya menerima keadaan dalam merawat kondisi Ezio dengan tips yang saya terapkan, yaitu "3 Vitamin+Cinta"
Artikel ditulis oleh Amelia Puteri
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Oleh Nita Juwithafina (31 th), Ibu dari Ezio Alrianta (4.5 th), Member WAG Orami Moms W/ Special Kids

Mempunyai anak adalah hal yang sangat didambakan oleh sebagian besar orang tua. Inilah kisah saya dengan segala keadaan anak saya yang sangat mewarnai hidup saya.

Pada tulisan ini, saya ingin berbagi tentang keadaan anak usia 4,5 tahun saya, bernama Ezio, yang penuh lika-liku, dan sampai saat ini pun masih banyak belajar serta trial and error dalam menghadapi Ezio.

Divonis Hipospadia

Kebesaran hati dalam menerima kenyataan keadaan anak 2.jpg

Foto: Orami/Nita Juwithafina

Saya pun berpikir bahwa putra yang saya lahirkan pasti baik-baik saja, karena ketika hamil dan beberapa kali USG, tidak ada hal aneh-aneh yang disampaikan dokter.

Proses kelahiran berjalan sangat mulus, pemberian ASI dapat dikatakan oke, hingga akhirnya di hari ketiga saya menerima surat lahir Ezio.

Betapa kagetnya saya ketika pada kolom kelainan. Ternyata ada tulisan yang saya pun tidak paham artinya: Hipospadia.

Lalu saya diberikan penjelasan oleh Dokter Urologi tentang Hipospadia:

  • Hipospadia adalah keadaan sesorang yang letak lubang ureter tidak pada tempatnya (seharusnya lubangnya di ujung penis, tetapi penderita hipospadia ada pada bagian bawah penis).
  • Hipospadia ada yang level ringan hingga level berat.
  • Koreksi harus dilakukan dengan cara operasi, operasinya bisa dilakukan 1-3 kali.
  • Jika hipospadia tidak dikoreksi sampai dewasa, maka dapat menyebabkan buang air kecil yang akan merembes ketika posisi berdiri, hingga impotensi.
  • Operasi optimal dan efektif berada pada usia 6-18 bulan.

Baca Juga: Butuh Perjuangan untuk Berdamai dengan Preeklampsia

Operasi yang Berjalan Lancar

Kebesaran hati dalam menerima kenyataan keadaan anak 13.jpg

Foto: Orami/Nita Juwithafina

Alhamdulillah, Ezio mengalami kelainan di level ringan, sehingga operasi koreksi yang dilakukan hanya 1 kali. Operasi saat itu dilakukan selama kurang lebih 5 jam, dengan penggunaan bius total.

Koreksi yang dimaksudkan adalah mengembalikan lubang ureter ke tempat yang benar. Operasi ini sekaligus dengan menyunatkan Ezio.

Saya sangat bersyukur sekali dengan 1 kali tindakan operasi ini, Ezio bisa buang air kecil dengan normal. Operasi koreksi Ezio dilakukan saat ia berusia 18 Bulan.

Recovery dilakukan selama 1 bulan, dengan penggunaan kateter selama pembentukan lubang barunya belum kering.

Baca Juga: Kebahagiaan Ibu PH Survivor dalam Merawat Dua Anak yang Terlahir Prematur

Tumbuh Kembang dengan Kondisi ADHD

Kebesaran hati dalam menerima kenyataan keadaan anak 3.jpg

Foto: Orami/Nita Juwithafina

Setelah drama hipospadia Ezio berakhir manis, kini masuk dalam babak baru yaitu tumbuh kembang Ezio.

Berawal dari Kuisoner Pra Skrining Perkembangan (KPSP) yang saya coba tes pada Ezio dan terjebak pada usia 18 hingga 21 bulan, saya pun menjadi khawatir dan mulai mencari berbagai cara untuk mengembalikan proses tumbuh kembangnya di jalur yang semestinya.

Namun, berbagai stimulus yang saya coba lakukan tidak semulus cerita ibu-ibu di media sosial.

Saya pun memutuskan untuk membawa Ezio ke para ahli yang dapat menjawab kekhawatiran saya. Berikut beberapa pihak yang saya kunjungi demi mendapat jawaban tentang tumbuh kembang Ezio:

  1. Orissa Anggita Rinjani, S.Psi., M.Psi (Psikolog Rumah Dandelion)
  2. Dr. dr. Rini Sekartini, SpA(K) (Dokter Anak RS Bunda Menteng)
  3. Dr Widodo Judarwanto (Dokter Alergi RS Bunda Menteng)
  4. DR. dr. Hardiono D. Pusponegoro, Sp.A(K) (Dokter Anak Klinik Anakku)
  5. Devi Sani Rezki, S.Psi, M.Psi (Psikolog Rainbow Castle)
  6. Pakar Terapi Anak di Klinik Tumbang Sapta Mitra
  7. Pakar Terapi Anak di Klinik Anakku
  8. Pakar Terapi Anak di Sekolah Aluna
  9. Pakar Terapi Anak di Satria Kids Center
  10. dr. Gitayanti Hadisukanto, Sp.KJ(K) (Psikiatri Anak RSPI)
  11. Prof. DR. Dr. Irawati Marsubrin M. Epid, Sp.KJ(K) (Psikiatri Anak RSCM)

Mengapa begitu banyak pihak yang saya kunjungi?

Karena saya tipe orang tua yang tidak gampang percaya, dan juga tidak cepat puas sehingga saya memutuskan untuk mencari pembanding ke banyak ahli.

Hasilnya pun menunjukkan hal yang serupa untuk Ezio, yaitu:

  • Gangguan proses sensori
  • Ketidakseimbangan emosi
  • Permasalah pada fokus dan konsentrasi
  • Speech delay
  • ADHD / GPPH ( Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas)

Penegakan diagnosa ADHD/GPPH ini sudah melalui proses observasi dalam rentan waktu yang tidak sebentar, karena hanya dapat dinyatakan oleh dokter.

Untuk Ezio, butuh waktu kurang lebih 2 tahun untuk dapat dinyatakan bahwa dia mengalami ADHD.

Baca Juga: Sempat Panik saat Mati Listrik, Ini Pengalaman dan Tips Menjaga ASIP Agar Tetap Sip

Menerima Kondisi Ezio dengan "3 Vitamin + Cinta"

Kebesaran hati dalam menerima kenyataan keadaan anak 4-2.jpg

Foto: Orami/Nita Juwithafina

Ezio pun sudah di terapi sejak usia 2 tahun. Terapi yang dilakukan hingga kini adalah Sensori Integrasi, Wicara, dan Okupasi. Tentu keadaan ini sangat berdampak di lingkungan Ezio.

Hal-hal yang saya rasakan dan lihat adalah:

Sebagai ibu dan orang tua Ezio, pada awalnya saya merasa sangat sedih terhadap penolakan yang ada, tetapi alhamdulillah saya mendapatkan komunitas yang mana saling menguatkan.

Ada tips dari Prof. Dr. Juke R. Siregar, Psikolog Praktisi di Psikologis Klinis Anak & Remaja, yang saya terapkan yaitu "3 Vitamin + Cinta".

3 Vitamin, yakni Acceptance (menerima anak dengan kondisi yang ada); Affection (menumbuhkan rasa sayang dengan menerima anak apa adanya); Achievement (mendukung anak ADHD untuk berprestasi) ditambah Cinta.

Cintailah mereka, karena sesungguhnya mereka adalah titipan Tuhan, yang artinya kita orang tua terpilih yang dipercaya mampu untuk menangani anak-anak spesial ini.

Artikel Terkait