BALITA DAN ANAK
8 Oktober 2019

Psikolog Jelaskan Alasan Film "Joker" Bukan Tontonan untuk Anak

Adanya kekerasan verbal dan fisik yang menjadikan film ini bukan tontonan tepat untuk anak
placeholder

Foto: Mcarthuradvertiser.com.au

placeholder
Artikel ditulis oleh Amelia Puteri
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Film "Joker" yang tayang pada 2 Oktober 2019 kemarin langsung menyita perhatian publik.

Aktor Joaquin Phoenix, yang memerankan Arthur Fleck/Joker, mendapat pujian dari para penonton dan kritikus atas kepiawaiannya dalam berakting.

Film ini mendapatkan skor 70 persen di Rotten Tomatoes, dan 58 persen pada situs agregator Metacritic.

Film Joker memiliki rate usia penonton untuk 17 tahun ke atas, dan karenanya orang tua disarankan agar tidak mengajak anak-anak menonton film ini.

Baca Juga: 5 Film Akhir Tahun Wajib Tonton Bersama Keluarga

Alasan Film "Joker" Kurang Disarankan untuk Anak

joker-1.jpg

Foto: aftercredits.com

Jane Cindy Linardi, M.Psi, P.si, CGA, psikolog di RS Pondok Indah - Bintaro Jaya, mengatakan film Joker tidak cocok ditonton anak-anak karena banyak adegan kekerasan.

"Banyak adegan yang menunjukkan kekerasan. Seperti adegan pukul-memukul, karakter Joker menembak orang saat di kereta, ia yang ditendang dan diejek secara verbal," jelas Jane.

Selain itu, ada juga adegan di mana Joker membalaskan dendam pada orang yang menyakitinya dengan membunuhnya, sebagai bentuk "perlindungan diri".

"Intinya, adegan kekerasan fisik, kekerasan verbal, dan bahkan pembunuhan yang ditunjukkan dengan gamblang, itu yang membuat film Joker tidak cocok untuk anak-anak," lanjutnya.

Tak hanya itu, film ini juga mengangkat tentang cerita mengapa seseorang bisa mengalami gangguan mental, dan halusinasi. Bagi anak, ini adalah konsep yang masih abstrak untuk mereka.

"Untuk anak, konsep-konsep tersebut terlalu sulit dicerna, karena harus memakai penalaran yang abstrak untuk memahami konsep-konsep tersebut," terang Jane.

Baca Juga: Yuk, Ajak Si Kecil Tonton Bersama 5 Rekomendasi Film Anak Di Netflix Ini

Dampak Orang Tua 'Bandel' Membawa Anak Menonton "Joker"

joker-2.jpg

Foto: baldmove.com

Sayangnya, masih ada beberapa orang tua yang nekat membawa anaknya menonton Joker, terlepas rate yang sudah diberitahu bahwa film ini diperuntukkan bagi penonton usia 17 tahun ke atas.

Lalu, dampak apa yang terjadi jika anak menonton film Joker?

"Anak-anak itu masih dalam tahap observational learner, mereka akan cepat meniru dengan apa yang dilihat atau didengar," ungkap Jane.

Meskipun tidak semua anak akan langsung meniru dari apa yang ia tangkap lewat panca inderanya, tetapi Jane tetap menyarankan agar orang tua mencegah anak dari tontonan yang mengandung kekerasan.

"Walaupun tidak semua anak yang menonton pasti akan meniru, tapi sebaiknya cegah dengan tidak memperlihatkan adegan-adegan kekerasan pada anak, yang menurut saya cukup brutal di film Joker, terutama adegan pembunuhannya," terang Jane.

Baca Juga: 4 Hal yang Terjadi Jika Balita Sering Menonton Tayangan Kekerasan

Dianggap Memicu Mental Para Penonton Dewasa

IMG_20191007_203709.jpg

Foto: twitter.com/Adriandhy

Film Joker juga menjadi pembicaraan di kalangan warganet, karena dianggap memicu (trigger) penonton lewat adegan yang diperlihatkan.

Dalam sebuah cuitan di Twitter oleh akun @Adriandhy, disebutkan bahwa beberapa melaporkan film Joker memberikan efek samping yang dapat men-trigger mental penonton.

Disebutkan beberapa penontonnya merasa tidak bisa bernapas, lemas, pusing, tangan yang bergetar, hingga jantung yang berdegup kencang.

Namun, Jane menjelaskan bahwa hal ini membutuhkan kajian yang lebih lanjut lagi.

"(Mereka yang merasakan gejala tersebut) harus dicek lebih lanjut, dan tidak bisa diasumsikan," katanya.

"Tetapi, kalau individu secara medis kondisinya sehat, dan secara psikologis oke, harusnya tidak mengalami efek seperti itu," tutup Jane.

Nah, karena itu, yuk Moms jadi orang tua yang bijak dengan mengajak Si Kecil menonton tontonan yang sesuai dengan rate usia.

Artikel Terkait