PARENTING
4 Juli 2019

Belum Rela Titip Anak di Daycare, Suami Pilih Jadi Bapak Rumah Tangga

Membangun keluarga di tanah rantau ternyata tidak mudah
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Andra Nur
Disunting oleh Andra Nur

Hai! Nama saya Andra Nur Oktaviani. Saya ibu dari Jersey Orianna Atharrizqi (3 tahun). Saat ini, saya bekerja sebagai editor konten di Orami Parenting.

Berkeluarga di tanah rantau bukan perkara mudah ya Moms? Terlebih untuk ibu bekerja seperti saya. Saya merasakannya sendiri. Saya lahir dan besar di Bandung lalu pindah ke Jakarta untuk mengadu nasib sampai akhirnya menikah dan punya anak.

Suami saya tidak jauh beda. Dia lahir di Sragen dan besar di Solo. Lalu hijrah ke ibukota, menikah dan punya anak. Kondisi ini membuat kami tinggal jauh dari orang tua.

Di awal pernikahan sampai hamil, tidak ada kesulitan berarti yang kami rasakan meskipun tinggal jauh dari orang tua. Sebaliknya, kami justru menikmati proses kemandirian.

Begitu Atha, panggilan Jersey Orianna Atharrizqi, lahir, kehidupan saya dan suami berubah drastis. Selain tentunya mendatangkan kebahagiaan, kehadiran Atha juga membuat saya dan suami harus berpikir keras bagaimana nasib Atha setelah saya masuk kerja lagi.

Suami jadi Freelance Agar Saya Tetap Bekerja

13561804_518511491673696_1274318130_n.jpg

Jujur, saya cukup berat meninggalkan pekerjaan ketika itu. Status karyawan tetap dengan gaji yang lumayan rasanya masih kami butuhkan untuk menyambung hidup.

Di sisi lain, perusahaan tempat suami saya bekerja perlahan menunjukkan kondisi yang kian memburuk. Alih-alih mencari pekerjaan baru, suami saya mengambil keputusan besar untuk menjadi freelancer.

Tujuannya agar saya tetap bisa bekerja dan Atha ada yang jaga di rumah. Suami pun sepertinya masih merasa keberatan jika harus menitipkan Atha di daycare sejak usia bayi. Rasanya belum tega membiarkan Atha yang masih bayi dirawat oleh orang lain.

Karena tidak mungkin selalu memanggil orang tua untuk datang dan mengurus Atha, suami pun akhirnya mantap menjadi freelancer. Meskipun sesekali mereka datang untuk membantu menjaga. Tapi tidak bisa selalu hadir.

Keputusan besar yang cukup mengejutkan mengingat ini akan sangat memengaruhi ekonomi keluarga kami. Alhamdulillah, selama freelance, suami saya cukup banyak dapat proyek. Mulai dari menulis buku, laporan, event, dan yang lainnya.

Menjadi freelancer tentu bukan hal mudah juga untuk orang yang sudah terbiasa menerima gaji bulanan. Jumlahnya pun tidak stabil. Ini membuat kami sepakat untuk tidak mengambil cicilan apapun demi kelangsungan hidup.

Gaji bulanan hanya berasal dari pekerjaan saya. Pengeluaran sehari-hari, pengeluaran rumah tangga, dan kebutuhan Atha bayi dipenuhi dari gaji bulanan ini.

Pengeluaran juga jadi membengkak ketika ASI saya mulai seret di usia Atha yang ke-3 bulan. Agar kebutuhan nutrisinya terpenuhi, Atha mulai mengonsumsi formula. Ketika bekerja, saya tetap pumping dan bawa "oleh-oleh" ke rumah meskipun jumlahnya tidak memenuhi kebutuhan susu Atha dalam sehari.

Ketika saya bekerja, suami saya menghabiskan waktunya untuk menjaga dan mengurus Atha. Mulai dari memandikan, memakaikan baju, menyiapkan ASI dan formula, mengganti popok, membersihkan kotoran, menidurkan, dan yang lainnya.

Bagi seseorang yang sangat patriarki seperti suami saya, melakukan hal-hal itu adalah sesuatu yang luar biasa. Saya pun sampai tidak percaya. Mungkin ini yang dinamakan cinta itu buta. Cinta pada anak membuatnya mau melakukan hal-hal yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya.

Tantangan MengASIhi sebagai Jurnalis Lapangan

17596706_388397098213913_4753595130911391744_n.jpg

Oiya, ketika itu, saya masih bekerja sebagai jurnalis di koran Jawa Pos. Saya bekerja di lapangan. Ini juga menjadi tantangan saya dalam mengASIhi. Saya sulit menemukan tempat yang proper untuk pumping.

Tidak jarang saya pumping di KRL, di lokasi konferensi pers dengan teman-teman pria di hadapan saya, di toilet di kantor, di ruang meeting, dan tempat-tempat tidak proper lainnya.

Saya paling senang jika dapat agenda liputan di mal yang punya ruang menyusui. Sayangnya, ini tidak selalu terjadi. Belum lagi jam kerja yang tidak menentu. Pernah saya berangkat kerja pukul 05.00 pagi dan baru bisa pulang 01.00 pagi keesokan harinya.

Saya pun pernah harus berpisah dengan Atha selama setengah bulan karena bertugas di Malaysia. Awalnya, saya hanya akan berada di Malaysia selama 3 hari untuk melakukan liputan mendalam mengenai tenaga kerja Indonesia (TKI) ilegal di sana.

Namun, baru dua hari berada di Malaysia, kabar mengejutkan datang. Seorang perempuan WNI ditangkap pihak kepolisian Malaysia karena diduga melakukan pembunuhan terhadap Kim Jong-nam, kakak pemimpin Korea Utara Kim Jong-un.

Rencana awal saya liputan TKI pun buyar. Kantor menugaskan saya untuk mengawal kasus pembunuhan Kim Jong-un. Selama lebih dari setengah bulan saya habiskan di Malaysia. Ketika itu, Atha berusia 11 bulan.

Saat berangkat ke Malaysia, saya hanya menyiapkan makanan Atha untuk tiga hari ke depan. Namun, karena harus terus extend, makanan Atha pun habis. Saya pun mencari-cari katering makanan bayi yang bisa diantar ke rumah agar Atha bisa tetap terpenuhi nutrisinya.

Saat saya pergi ke Malaysia, Atha baru bisa jalan merambat. Dan ketika saya pulang, Atha sudah bisa berjalan. Di satu sisi, saya bahagia Atha sudah melewati milestone itu. Tapi di sisi lain, saya sedih karena tidak bisa menyaksikan langsung langkah pertamanya.

DI kesempatan lain, ketika suami harus ke luar rumah dan saya tidak bisa cuti, saya beberapa kali mengajak Atha liputan. Saya ingat betul bagaimana saya harus berlari mengejar Menkumham Yasonna Laoly di Gedung DPR RI untuk wawancara sambil menggendong Atha. Pengalaman yang tidak terlupakan.

Atha juga pernah saya ajak liputan ke luar kota, yakni ke Bandung, Jogja, dan Solo. Saya berani membawa Atha liputan ke tiga kota itu karena ada orang tua dan banyak saudara di sana.

Bekerja menjadi jurnalis lapangan itu tidak mudah, terlebih untuk seorang ibu baru. Tapi, suami saya sudah memilih untuk menjadi freelancer. Saya harus tetap bertahan demi terpenuhinya kebutuhan bulanan.

Namun, rasanya berat sekali harus bekerja dengan jam kerja yang tidak biasa. Seringkali saya telat menjemput Atha. Pernah juga saya menjemput Atha terlalu malam sampai-sampai Atha dan miss yang bertugas menjaga Atha sudah tidur. Duh, rasanya tidak tega membangunkan Atha untuk pulang dan miss yang telah menjaga Atha seharian.

Belum lagi tugas jurnalis lapangan yang tidak mengenal tanggal merah. Saya pun hanya diberi libur satu hari dalam seminggu. Saya pun mulai memikirkan untuk mencari tempat kerja baru yang jam kerjanya wajar dan libur di tanggal merah. Dan kalau bisa, lokasinya dekat rumah dan daycare Atha.

Alhamdulillah, saya berkesempatan untuk bekerja dengan jam kantor wajar dan lokasi kerjanya dekat dengan rumah dan daycare Atha. Tanpa pikir panjang, saya pun mantap pindah kerja.

Ya, meskipun bertepatan dengan tanggal pengunduran diri saya, saya mendapat kabar dari Kedutaan Jerman bahwa saya lolos seleksi untuk mengikuti program kunjungan bersama jurnalis dari berbagai negara ke Jerman mewakili jurnalis dari Indonesia.

Tapi, rasanya pindah kerja ke tempat yang lebih friendly dampaknya akan lebih besar untuk kehidupan saya dan keluarga.

Atha Masuk Sekolah dan Daycare

23735445_328654024267402_5018999791699361792_n.jpg

Saat memutuskan untuk menjadi freelancer, saya dan suami belum memikirkan akan sampai kapan. Yang jelas, kami menunggu Atha siap untuk keluar dari zona nyaman rumah dan dititipkan di daycare.

Ketika Atha berusia 1,5 tahun, saya dan suami memutuskan untuk mendaftarkan Atha ke Rockstar Gym. Tujuannya tentu untuk stimulasi dan sosialisasi. Ini juga sebagai bagian persiapan untuk masuk daycare.

Ketika itu, suami saya sudah mulai mengirimkan lamaran-lamaran pekerjaan. Dan ketika sudah diterima kerja dan menunggu jadwal masuk kerja, saya intens mencari daycare dekat rumah untuk Atha.

Ada satu daycare yang saya temukan lewat internet. Saya pun coba mendatanginya bersama Atha. Sayangnya, usia Atha masih terlalu muda untuk masuk daycare tersebut.

Tapi saya tidak kecewa. Saya malah merasa beruntung Atha tidak bisa masuk daycare itu. Bukan tanpa alasan, anak-anak di daycare itu cukup “liar” sementara gurunya malah membiarkan.

Biaya di sana pun fantastis. Untuk masuknya, saya harus membayar sekitar Rp7 juta kontan. Itu termasuk uang sekolah, daycare, makan, dan kegiatan. Wow. Gaji saya saja tidak sampai angka itu.

Pulang dari daycare tadi, saya melewati sebuah sekolah yang ternyata menerima penitipan anak. Sayangnya, sekolah tersebut sudah tutup. Maklum, saya ke sana sekitar pukul 14.00. Tapi, di depan sekolah ada nomor kontak yang bisa saya hubungi.

Dengan sigap, saya pun mencatat dan menghubungi nomor tersebut. Keesokan harinya saya datang ke sekolah dan bertanya langsung. Saya melihat anak-anak di sekolah tersebut ramah dan menyambut Atha dengan baik.

Biayanya pun sangat reasonable. Sekolah pun menerima Atha meskipun usianya ketika itu baru 1 tahun 8 bulan. Besoknya, Atha sudah boleh sekolah. Hari pertamanya berjalan lancar. Atha tidak drama ketika saya harus pergi bekerja setelah mengantarnya.

Karena tergabung dengan sekolah, pagi harinya Atha sekolah di kelas KB (Kelompok Bermain). Siang sampai pulang sudah masuk kegiatan daycare, seperti makan siang, tidur siang, bermain, membaca buku, belajar, dan mandi sore.

Pukul 19.00, saya menjemput Atha. Saya dan suami pun jadi tenang meninggalkan Atha di daycare tersebut. Hingga sekarang, usia Atha 3 tahun, dia masih di daycare tersebut.

Banyak kontroversi di luar sana tentang menyekolahkan anak di usia yang terlalu dini dan menitipkan anak di daycare. Ada yang bilang kasihan lah. Ada juga yang bilang tega lah. Tapi, saya berusaha menutup mata dan telinga.

Saya dan suami adalah orang yang paling memahami kebutuhan dan kemampuan keluarga kami. Jadi, sudah sewajarnya kami yang mengambil keputusan terkait keluarga kami, bukan mereka.

Saya selalu menanamkan pemahaman itu agar tidak down dan stres sendiri.

Beruntung, tempat saya bekerja sekarang tidak lama lagi akan membuka daycare. Karyawan dianjurkan untuk menitipkan anaknya di daycare tersebut. Meskipun bekerja, saya tetap bisa dekat dengan anak.

Inilah cerita merantau keluarga saya dengan segala dramanya. Bagaimana dengan kisah Moms? Share yuk!

Artikel Terkait