PROGRAM HAMIL
11 April 2019

Puting Payudara Tak Tunjukkan Tanda ASI Keluar saat Hamil, Normalkah?

Ketika masa kehamilan, puting payudara tak menunjukkan tanda ASI akan segera keluar. Normalkah?
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Dina
Disunting oleh Dina

Saat masa kehamilan, umumnya seorang ibu mengandung akan mengalami perubahan pada tubuhnya, seperti berat badan yang bertambah, sering terasa sakit punggung atau kram kaki, perubahan kulit seperti muncul stretch mark, dan yang paling sering terjadi adalah perubahan pada payudara.

Ketika mengandung, payudara ibu akan membesar dan kadang menimbulkan rasa nyeri.

Mendekati waktu melahirkan, puting juga akan mengeluarkan cairan warna kekuningan dan bening yang disebut kolostrum.

Kolostrum berfungsi melembapkan areola dan puting sehingga tidak mudah lecet pada bayi saat awal-awal lahir dan menyusui.

Segala perubahan tersebut umum terjadi pada ibu hamil.

Namun, bagaimana jika seorang ibu tidak mengalami perubahan di atas?

Tidak ada perubahan ukuran payudara yang signifikan, tidak timbul rasa sakit atau nyeri pada payudara, dan juga belum ada tanda ASI akan keluar.

Baca Juga: Tak Sekadar untuk Bayi, Ini Dia 6 Manfaat ASI untuk Ibu

Apakah hal tersebut akan memengaruhi produksi ASI ketika bayi sudah lahir nanti?

Kekhawatiran ibu ini sangat dimaklumi karena setiap ibu pastinya ingin yang terbaik untuk anaknya.

Asupan ASI adalah komponen pertama dan utama untuk bayi yang baru lahir dan dapat berguna untuk kehidupannya di masa mendatang.

Jadi, pasti ibu ingin agar bisa menghasilkan ASI yang optimal, ya, Moms.

Perubahan Payudara pada Setiap Ibu Hamil Berbeda

Foto: medicalnewstoday.com

Menurut dr. Aini, seorang konselor laktasi yang praktik di RSIA Permata Bekasi mengungkapkan, setiap ibu hamil memiliki perubahan bentuk payudara yang berbeda-beda sehingga tidak perlu muncul rasa khawatir ketika ukuran payudara tidak berubah banyak.

“Jika menginginkan pengeluaran ASI yang segera, dapat dilakukan Inisiasi Menyusu Dini (IMD) selama full 2 jam murni tanpa ada pemisahan pada ibu dan bayi, dengan catatan keduanya dalam kondisi sehat dan bugar. Setelah itu, lanjutkan dengan skin to skin selama 24 jam sampai usia bayi 3 hari,” ujar dr. Aini lewat bincang-bincangnya di Kulwap Orami Community pada Kamis (19/2) lalu.

IMD memang menjadi salah satu cara agar ibu dapat melakukan proses menyusui yang tepat untuk mencegah terhambatnya produksi ASI.

Adapun proses menyusui tidak boleh ditunda selama lebih dari 6 jam setelah melahirkan.

Waktu menyusui bayi biasanya setiap 2-3 jam, dengan durasi 10-45 menit.

Perlu diketahui bahwa bayi menjadi komandan dalam proses menyusui.

Baca Juga: Yuk, Perhatikan 3 Faktor Penting Ini Saat Menyusui Bayi Prematur

Bagaimana Persiapan ASI Saat Hamil?

Foto: verywellfamily.com

Lalu, bagaimana persiapan ASI yang tepat ketika masa kehamilan?

Hal yang pasti, Moms, jauhkan anggapan kalau mengonsumsi booster ASI selama hamil itu dapat meningkatkan produksi ASI.

Hindari juga memijat payudara atau puting payudara selama masa kehamilan.

Menurut dr. Aini, konsumsi booster ASI selama hamil tidak diperlukan karena cukup melengkapi ilmu tentang ASI selama masa kehamilan.

Merangsang puting payudara dengan pijatan juga dapat menimbulkan kontraksi rahim. Jadi, tak boleh sembarangan, ya, Moms!

“Cadangan lemak bayi dapat membantu mencukupi sampai bayi berusia 3 hari, untuk itu proses skin to skin sangat dibutuhkan sejak bayi lahir. Selain itu, yang diperlukan saat hamil agar produksi ASI optimal adalah konseling pada dokter laktasi sebanyak 2 kali saat hamil agar ibu benar-benar siap pada bayi lahir untuk menyusui bayinya sampai usia 2 tahun,” ujar dr. Aini.

Baca Juga: 5 Tips untuk Mengatur Jadwal MPASI dan Menyusui Bayi

Selain itu, tentunya dukungan dan semangat dari orang-orang terdekat seperti suami, ibu, dan keluarga dibutuhkan untuk keberhasilan proses menyusui.

Jadi, jangan langsung khawatir ketika kondisi Moms tidak sama dengan ibu lainnya, ya. Setiap ibu memiliki proses masing-masing menuju proses menyusui.

(DG)

Artikel Terkait