KEHAMILAN
7 September 2020

Rabies pada Ibu Hamil, Ini Hal yang Perlu Moms Ketahui

Banyak pertimbangan dalam memelihara hewan saat hamil, salah satunya adalah menghindari gigitan hewan yang bisa menyebabkan rabies saat hamil
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Phanie Fauziah
Disunting oleh Dina Vionetta

Memelihara hewan saat hamil memang perlu dipertimbangkan.

Beberapa risiko yang dialami perlu diwaspadai, salah satunya adalah rabies saat hamil.

Berikut ini beberapa informasi mengenai rabies saat hamil yang perlu diketahui.

Baca Juga: Mencegah Rabies pada Anak-anak, Ini Penjelasannya

Apa itu Rabies?

Rabies saat hamil 2.jpg

Foto: singaporemotherhood.com/

WHO mengungkapkan rabies merupakan penyakit zoonosis (penyakit yang ditularkan dari hewan ke manusia) yang disebabkan oleh virus rabies dari genus Lyssavirus, dalam famili Rhabdoviridae.

Anjing peliharan adalah reservoir virus yang paling umum, dengan lebih dari 99% kematian manusia disebabkan oleh rabies yang dimediasi anjing.

Virus ini ditransmisikan dalam saliva hewan rabies dan umumnya memasuki tubuh melalui infiltrasi saliva yang sarat virus dari hewan rabies ke dalam luka (misalnya goresan) atau dengan paparan langsung permukaan mukosa ke saliva dari hewan yang terinfeksi (misalnya gigitan).

Virus tidak dapat menyusup ke kulit yang utuh.

Setelah virus mencapai otak, virus itu bereplikasi lebih lanjut, menghasilkan tanda-tanda klinis dari pasien.

Rabies adalah penyakit yang dapat dicegah vaksin 100%.

Baca Juga: Anak Digigit Anjing? Ini Cara Menangani Rabies pada Anak

Rabies dan Kehamilan

Rabies saat hamil 3.jpg

Foto: sweetbeats.com.au

NCBI mengungkapkan rabies dikaitkan dengan tingkat kematian 100% di antara semua penyakit menular dan membuat risiko kematian ibu dan risiko tak tentu bagi janin.

Meskipun paparan rabies selama kehamilan jarang terjadi, ibu hamil tetap harus menjaga dan mendapatkan perawatan selama kehamilan.

Rabies dapat ditularkan melalui air liur hewan yang terkena virus rabies seperti anjing, rakun, atau bahkan kelelawar.

Ibu hamil yang mengalami kondisi seperti ini biasanya ditandai dengan gejala demam, menggigil, dan otot melemah.

Kondisi seperti itu akan memengaruhi otak dan menyebabkan kegelisahan, sulit tidur, dan kebingungan.

Apabila ibu hamil memiliki hewan yang tidak sehat dan belum pernah mendapatkan vaksin risiko tertular rabies akan semakin tinggi.

Sejauh ini belum ada kasus bahwa rabies membahayakan janin.

Namun, bukan berarti baik-baik saja, ibu hamil tetap harus waspada.

Apalagi virus ini diyakinkan dapat menyebabkan kematian, jika tidak ditangani dengan tepat.

Baca Juga: Ciri-ciri Anak dan Hewan yang Terkena Rabies

Vaksin Rabies Pada Ibu Hamil

Rabies saat hamil.jpg

Foto: unicare.com

Vaksin rabies terbilang memiliki sifat aman dan tidak berbahaya bagi ibu dan janin dalam kandungan.

Virus rabies yang masuk ke dalam tubuh memiliki masa inkubasi sekitar 10 hari hingga 3 bulan sebelum berhasil mencapai sumsum tulang belakang dan otak hingga memunculkan gejala-gejalanya.

Jika virus ini disebabkan melalui gigitan, segera untuk mensterilkan luka bekas gigitan.

Setelah itu, ibu hamil perlu mendapatkan vaksin anti rabies (VAR) atau serum anti rabies (SAR).

Sebelum menggunakan vaksin, pastikan luka benar-benar bersih, jika perlu gunakan sabun deterjen dan bilas dengan air mengalir selama 15 menit.

Sterilkan luka dengan alkohol atau povidone iodine atau obat merah. Lalu segerakan untuk mendapat suntikan vaksin atau serum.

Vaksin rabies mengandung virus yang telah dimatikan yang berfungsi memperkuat sistem imun tubuh.

Medi-Call mengatakan vaksin rabies pada kehamilan aman dan tidak menyebabkan kerusakan pada ibu atau janin dalam kandungan.

Saat berkonsultasi ke dokter, setidaknya ibu hamil disarankan untuk memberi suntikan vaksin 4 kali pada ibu hamil.

Bagi yang pertama mendapatkan vaksin rabies, ibu juga akan direkomendasikan serum anti rabies untuk memperkuat efeknya.

Serum ini disebut dengan imunoglobulin rabies yang dibuat dari antibodi yang diberikan jika seseorang mendapatkan gigitan lebih dari satu atau jika gigitan berada di area wajah.

Jika gigitan itu berada di daerah kepala, maka virus akan lebih cepat menjangkau otak.

Vaksin yang diberikan biasanya akan memunculkan beberapa efek samping seperti pusing, lemas, dan demam.

Baca Juga: Gara-Gara Memegang dan Tercakar Kelelawar Rabies, Bocah 6 Tahun Meninggal Dunia

Artikel Terkait