KESEHATAN
8 November 2020

Radang Vagina, Ketahui Gejala, Penyebab, dan Cara Mencegahnya

Radang vagina adalah hal yang biasa dialami oleh wanita. Ini tidak berbahaya, tetapi mengenalnya lebih dalam tentu juga bukan hal yang buruk
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Ria Indhryani
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Menurut American College of Obstetricians and Gynecologists, setidaknya sepertiga wanita menunjukkan gejala vaginitis atau radang vagina di beberapa titik selama hidup mereka.

Radang vagina adalah infeksi yang menyerang orang-orang dari segala usia, meskipun paling sering terjadi selama tahun-tahun reproduksi mereka.

Karena prevalensi radang vagina pada wanita sangat tinggi, penting untuk mengetahui tanda-tanda untuk mengetahuinya dan mengobatinya sebelum terlambat.

Radang vagina menggambarkan beberapa kondisi yang dapat menyebabkan infeksi atau peradangan pada vagina seorang wanita.

Radang Vagina

Radang vagina atau vaginitis adalah kondisi di mana terjadi ketidakseimbangan jamur dan bakteri yang biasanya hidup di vagina. Seiring dengan ketidaknyamanan, wanita mungkin memperhatikan ada bau yang berbeda dari biasanya.

Seorang wanita mungkin mengalami radang vagina yang disebabkan oleh bakteri, jamur, atau virus. Bahan kimia dalam sabun, semprotan, atau bahkan pakaian yang bersentuhan dengan area bakteri sehingga dapat mengiritasi kulit dan jaringan halus.

Namun, tidak selalu mudah untuk mengetahui apa yang sedang terjadi. Oleh karena itu, dibutuhkan bantuan dokter untuk menyelesaikannya dan memilih perawatan yang tepat.

Baca Juga: Mengungkap 10 Faktor Pemicu Kanker Serviks pada Wanita

Tipe dan Gejala Radang Vagina

6 Penyebab Vagina Berdarah saat Berhubungan Seks

Foto: Orami Photo Stock

Dikutip dari WebMD, dokter menyebutkan terdapat beberapa kondisi yang menyebabkan infeksi atau radang vagina. Beberapa jenis yang paling umum antara lain:

Vagina wanita biasanya akan mengeluarkan cairan yang biasanya bening atau sedikit keruh. Pada sebagian besar wanita, begitulah cara vagina membersihkan dirinya sendiri.

Vagina juga tidak benar-benar mengeluarkan cairan yang berbau atau menimbulkan rasa gatal. Seberapa banyak dan seperti apa bentuknya serta rasanya, akan sangat bervariasi selama siklus menstruasi tetap normal.

Namun pada satu titik tertentu, wanita mungkin hanya memiliki sedikit cairan yang sangat encer. Sementara pada waktu lain dalam sebulan, cairan itu bisa lebih kental dan masih banyak lagi. Itu semua normal terjadi.

Akan tetapi, ketika kotoran wanita memiliki bau yang sangat mencolok atau merasa ada luka bakar serta gatal. Maka itu mungkin menjadi masalah dan salah satunya adalah tanda sedang mengalami radang vagina.

Penderita radang vagina mungkin merasakan iritasi kapan saja dalam waktu sepanjang hari, tetapi biasanya itu akan benar-benar mengganggu di malam hari. Tidak hanya itu, berhubungan seks juga dapat memperburuk beberapa gejala.

Seorang wanita yang mengalami radang vagina, dianjurkan menghubungi dokter pada saat:

  1. Keputihan berubah warna, lebih menyengat atau baunya berbeda
  2. Merasa gatal, terbakar, bengkak, atau nyeri di sekitar atau di luar vagina
  3. Area kemaluan atau vagina seperti terbakar saat buang air kecil
  4. Seks menjadi tidak nyaman

Baca Juga: Mengenal Gejala dan Penyebab Vulvovaginitis, Infeksi Vagina Pada Balita

Penyebab Radang Vagina

Vagina Bisa Mengalami Depresi? Ini Penjelasan Tentang Vulvodynia

Foto: Orami Photo Stock

Penyebab radang vagina akan tergantung pada jenis peradangan yang dialami:

1. Radang Vagina Bakterialis

Penyebab paling umum dari radang vagina ini adalah perubahan bakteri normal yang ditemukan di vagina seseorang, sehingga pertumbuhannya menjadi berlebih dari salah satu organisme lain. Bakteri yang biasanya ditemukan di vagina (lactobacilli) kalah jumlah dengan bakteri lain (anaerob) di vagina.

Jika bakteri anaerob menjadi terlalu banyak, mereka mengganggu keseimbangan dan menyebabkan radang vagina bakterialis.

Jenis vaginitis ini tampaknya terkait dengan hubungan seksual - terutama jika Anda memiliki banyak pasangan seks atau pasangan seks baru, tetapi juga terjadi pada wanita yang tidak aktif secara seksual.

2. Infeksi jamur

Ini terjadi ketika ada pertumbuhan berlebih dari organisme jamur yaitu biasanya C. albicans di vagina seseorang. C. albicans juga menyebabkan infeksi di area lembab lainnya pada tubuh, seperti di mulut (sariawan), lipatan kulit, dan bantalan kuku. C. albians biasanya juga bisa menyebabkan ruam popok.

3. Trikomoniasis

Infeksi menular seksual yang umum ini disebabkan oleh parasit bersel satu mikroskopis yang disebut Trichomonas vaginalis. Organisme ini menyebar selama hubungan seksual dengan seseorang yang terinfeksi.

Pada pria, organisme ini biasanya menginfeksi saluran kemih, tetapi seringkali tidak menimbulkan gejala. Pada wanita, trikomoniasis biasanya menginfeksi vagina dan dapat menyebabkan gejala.  Ini juga meningkatkan risiko wanita terkena infeksi menular seksual lainnya.

4. Radang Vagina Tidak Menular

Alat semprotan vagina, sabun beraroma, deterjen beraroma, dan produk spermisida dapat menyebabkan reaksi alergi atau mengiritasi jaringan vulva dan vagina. Benda asing, seperti kertas tisu atau tampon yang terlupa di dalam vagina juga dapat mengiritasi jaringan vagina.

5. Sindrom Menopause Genitourinari (Atrofi Vagina)

Kadar estrogen yang berkurang setelah menopause atau operasi pengangkatan ovarium dapat menyebabkan lapisan vagina menipis, terkadang mengakibatkan iritasi, rasa terbakar, dan kekeringan pada vagina.

Baca Juga: Vagina Nyeri Saat Keputihan, Apa Penyebabnya?

Diagnosis Radang Vagina

2 Didiagnosa Kanker.jpg

Foto: Orami Photo Stock

Untuk mendiagnosa radang vagina pada seseorang, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menanyakan riwayat kesehatan, khususnya infeksi menular seksual yang mungkin sudah dialami sebelumnya.

Dokter mungkin melakukan pemeriksaan panggul untuk memeriksa di dalam vagina apakah ada peradangan dan cairan berlebih. Sampel cairan terkadang diambil dalam upaya untuk menentukan penyebab peradangan.

Penyebab radang vagina dapat didiagnosis dengan memeriksa penampakan cairan vagina, kadar pH vagina, adanya amina yang mudah menguap (gas yang menyebabkan bau tidak sedap), dan deteksi mikroskopis dari sel-sel tertentu.

Baca Juga: Ini Alasan Otot dan Kulit Vagina Harus Digunting Saat Persalinan Normal

Pengobatan Radang Vagina

obat program hamil 5.jpg

Perawatan radang vagina yang harus diambil, akan tergantung pada penyebab dari penyakit tersebut. Pengobatan ini mungkin termasuk penggunaan steroid topikal tingkat rendah yang dioleskan ke kulit, antibiotik topikal atau oral, antijamur atau krim antibakteri.

Bakteri vaginitis (BV) atau Radang Vagina Bakterialis biasanya diobati dengan antibiotik, seperti metronidazole (Flagyl) atau klindamisin. Sementara obat yang digunakan untuk mengobati infeksi jamur, biasanya adalah butokonazol dan klotrimazol.

Pilihan lainnya pengobatan radang vagina ini, yaitu:

  • Krim kortison untuk mengatasi iritasi parah
  • Antihistamin jika peradangan tampak berasal dari reaksi alergi
  • Krim estrogen topikal, jika vaginitis disebabkan oleh kadar estrogen yang rendah

Perawatan untuk radang vagina umumnya akan sangat efektif. Diagnosis yang tepat akan membantu memastikan bahwa seseorang menerima perawatan yang tepat.

Jika seseorang memiliki gejala baru atau yang mengkhawatirkan, jangan ragu untuk berbicara dengan dokter agar mendapatkan perawatan yang tepat dan pasti.

Selain itu, jika seorang wanita hamil mengalami gejala radang vagina, dia harus memastikan bahwa dokternya tahu akan hal tersebut. Ini karena radang vagina dapat mempengaruhi janin dan karena beberapa pilihan pengobatan mungkin tidak sesuai dengan kondisi kehamilan yang dialami masing-masing wanita.

Baca Juga: Benarkah Memakai Cairan Pembersih Kewanitaan Setiap Hari Membuat Vagina Kering?

Mencegah Radang Vagina

cara menggunakan kondom

Foto: Orami Photo Stock

Perlu diketahui bahwa tidak semua radang vagina bisa dicegah. Menggunakan kondom selama hubungan seksual akan membantu mencegah penyebaran IMS. Ini juga akan menurunkan risiko kedua pasangan saling menularkan penyakit kelamin.

Menjaga kebersihan yang tepat juga dapat membantu mencegah beberapa radang vagina. Kebersihan yang baik dapat mencegah beberapa jenis radang vagina berulang dan dapat meredakan beberapa gejala radang. Upaya tersebut yaitu:

  • Hindari mandi di hot tub dan spa pusaran air
  • Hindari sumber iritasi termasuk tampon beraroma, pembalut, douche dan sabun beraroma. Bilas sabun pada area luar genital setelah mandi dan keringkan area tersebut dengan baik untuk mencegah iritasi. Jangan gunakan sabun yang keras, seperti sabun yang mengandung deodoran, antibakteri atau mandi busa.
  • Lap atau bersihkan toilet duduk yang akan digunakan dari depan ke belakang, begitupul setelah menggunakannya. Melakukannya mencegah penyebaran bakteri tinja ke vagina.
  • Jangan gunakan douche karena vagina tidak membutuhkan pembersihan selain mandi biasa. Pencucian berulang mengganggu organisme normal yang berada di dalam vagina dan sebenarnya dapat meningkatkan risiko radang vagina. Douching tidak akan menghilangkan 
  • Kenakan pakaian dalam dan pantyhose berbahan katun. Jika merasa nyaman tanpanya, maka seseorang boleh tidur tanpa mengenakan pakaian dalam. Perlu diketahui bahwa ragi senang tumbuh dalam tempat yang lembab.

Baca Juga: 7 Makanan Ini Tidak Baik untuk Vagina, Lebih Baik Hindari Ya!

Nah, itulah beberapa hal yang perlu Moms ketahui tentang radang vagina. Jika mengalami gejalanya, segera konsultasikan dengan dokter ya Moms. Jangan ditunda-tunda.

Artikel Terkait