NEWBORN
4 Februari 2019

Kenali Responsive Feeding, Rahasia Sukses Memberi MPASI untuk Bayi

Responsive feeding akan mencegah bayi makan berlebihan
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Intan
Disunting oleh Intan

Responsive feeding adalah proses mengenali tanda-tanda lapar dan kenyang yang ditunjukkan oleh bayi serta bagaimana Moms menanggapinya dengan tepat (memberi makan atau berhenti).

Ini merupakan proses yang bersifat interaktif dan aktif. Moms secara aktif memperhatikan Si Kecil saat makan, membaca isyarat yang ditunjukkan, dan memberikan feedback.

Pada waktu yang sama, buah hati akan berkomunikasi dengan Moms melalui minat yang ditunjukkan untuk makan atau sebaliknya. Mari kenali lebih lanjut tentang responsive feeding!

Mengapa Responsive Feeding Penting Bagi Bayi?

- Responsive feeding memungkinkan bayi makan sesuai dengan keinginan dan kebutuhan fisiologisnya sendiri dan dapat mencegah terjadinya overfeeding alias makan berlebihan.

- Dalam responsive feeding, orang tua atau pengasuh akan mengenali tanda-tanda overfeeding dan melakukan tindakan berdasarkan isyarat awal rasa lapar bayi dan isyarat kekenyangan di akhir sesi makan.

- Makanan diberikan saat bayi lapar, bukan memaksa bayi untuk makan.

- Diperkirakan bahwa tidak mengenali atau memahami isyarat kenyang pada bayi dapat berkontribusi pada pemberian makan berlebih selama tahun-tahun awal kehidupan anak.

- Pertumbuhan yang cepat pada usia di bawah 1 tahun dapat berkontribusi pada risiko obesitas di kemudian hari.

- Responsive feeding memungkinkan bayi mengatur nafsu makan dan pola makannya sendiri, yang dikaitkan dengan status berat badan ideal yang sehat.

- Manfaat responsive feeding diakui oleh UNICEF, WO, NHS3 dan RCN4.

Baca Juga: 5 Ide Menu MPASI Agar Anak Tumbuh Tinggi, Yuk Dicoba!

Tips Sukses Responsive Feeding

Langkah pertama melakukan responsive feeding adalah mengenali isyarat lapar dan kenyang dari Si Kecil.

Penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar orang tua cukup pandai dalam mengenali tanda-tanda lapar yang ditunjukkan bayinya, tetapi tidak dengan tanda kenyang.

Bahkan, kebanyakan orang tua akan terus menyuapi buah hatinya padahal si anak sudah memberikan isyarat kenyang.

Beberapa orang tua juga cenderung memaksakan buah hatinya untuk menghabiskan makanannya.

Padahal, dengan memaksakan anak makan yang tidak sesuai keinginan dan kebutuhannya sama saja dengan mengabaikan naluri alaminya untuk makan atau berhenti makan.

Dalam jangka panjang, pemberian makan berlebih pada bayi dapat meningkatkan risiko masalah makan berlebihan dan obesitas.

Baca Juga: Begini Cara Membuat dan Menyimpan Kaldu untuk MPASI

Tanda Bayi Lapar dan Kenyang

Berikut ini merupakan beberapa tanda umum yang ditunjukkan bayi saat merasa lapar dan kenyang:

1. Lapar:

  • Merengek, berkeringat atau mudah menangis
  • Memasukkan tangan, jari atau jempol ke dalam mulut
  • Bagi bayi yang masih menyusu juga akan menunjukkan tanda-tanda rooting

2. Kenyang:

  • Menggeser atau menjauhkan sesuatu yang berhubungan dengan makanannya (peralatan makan, botol susu, dll)
  • Berpaling dari sendok yang coba Moms suapkan
  • Membuang atau menumpahkan makanannya
  • Menggelengkan kepala untuk mengisyaratkan tidak mau

Setiap anak memiliki isyarat sendiri untuk menunjukkan rasa lapar dan kenyang, kenali isyarat tersebut sejak dini.

Responsive feeding mendorong Moms dan Si Kecil untuk terhubiung pada waktu makan, sementara si kecil belajar mengatur nafsu makannya sendiri.

Responsive feeding memang lebih dikenal berjalan sukses untuk bayi yang masih menyusu eksklusif.

Tetapi saat bayi mulai makan MPASI, responsive feeding akan mengajarinya untuk memutuskan apakah ia akan makan dari apa yang Moms tawarkan dan berapa banyak yang akan ia makan.

Moms dan pengasuh memiliki peran untuk memutuskan makanan apa yang akan ditawarkan dan kapan makanan tersebut akan ditawarkan pada anak. Sementara Si Kecil fokus pada kebutuhan makan sesuai seleranya.

(RGW)

Artikel Terkait