PARENTING
20 April 2020

Saya Berjuang di Tengah Pandemi CoVID-19 di Malaysia dengan Kondisi Hamil Tua dan LDR dengan Suami

Tidak mudah hamil di tanah rantau dan jauh dari suami saat pandemi
placeholder

Foto: Dokumentasi Pribadi

placeholder
Artikel ditulis oleh Adeline Wahyu
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Oleh Fitri Indira Ramadhani, tengah hamil 32 minggu (8 bulan). Bekerja sebagai Content Review Analyst for Native Indonesia di perusahaan bidang IT di Kuala Lumpur, Malaysia.

Hidup berjauhan dari keluarga memang tidak pernah mudah, apalagi berjauhan dengan suami. Terlebih lagi jika posisi kita ada sebagai perantau di negeri orang. Dalam kondisi normal saja cukup sulit, apalagi di tengah pandemi virus corona (COVID-19) di seluruh dunia.

Hidup Berbeda Negara dengan Suami

kisah hamil di kuala lumpur saat covid-19

Foto: Dokumentasi Pribadi

Saya dan suami bekerja di tempat yang berbeda, bahkan di negara yang berbeda. Bisa dibayangkan bagaimana rasanya? Agaknya cukup berat bagi saya yang mengalaminya.

Suami saya bekerja di Taiwan, yang mana berdekatan dengan China. Seperti yang kita ketahui, virus corona (COVID-19) awal mulanya ditemukan di China.

Perasaan khawatir dan takut luar biasa muncul karena memikirkan suami. Apalagi cuaca di Taiwan pada saat itu musim dingin, ditambah suami saya sempat mengalami batuk, pilek dan demam yang untungnya karena cuaca bukan COVID-19.

Namun, suami menenangkan saya dengan menjelaskan bahwa pemerintah Taiwan, pada saat mendengar COVID-19 muncul, langsung mengambil langkah lockdown (hanya perbatasan).

Misalnya penerbangan dari negara China tidak diperbolehkan masuk dan untuk negara lain yang masuk langsung di karantina selama 14 hari lebih untuk mencegah terinfeksi COVID-19. Dan alhamdulillah saat ini di Taiwan kasusnya cuma sekitar 50-an dan tidak ada lagi.

Di tengah kondisi ini, saya pastinya kangen banget sama suami, apalagi tengah hamil tua. Tapi alhamdulillah teknologi semakin canggih dan setiap hari setelah dia pulang kerja, kita melakukan video call untuk melepas kangen.

Saya juga sekarang sudah lebih tenang dengan kondisi suami di sana. Karena suami bekerja di pabrik jadi setiap masuk pabrik dan asrama (walau masih 1 area) ada security yang mengecek suhu tubuh.

Namun, COVID-19 ini berimbas langsung pada pendapatan suami yang jadi menurun. Jika biasanya ada pekerjaan lembur yang honornya lumayan, sekarang tidak ada karena hasil produksi sementara distop ke China. Saat ini, suami masih bekerja seperti jadwal biasa tanpa adanya lemburan.

Baca Juga: Pandemi Covid-19, Ini yang Keluarga Kami Lewati di Negeri Jiran Malaysia

Semua Serba Sepi, Kecuali Tempat untuk Belanja

kisah hamil di kuala lumpur saat covid-19

Foto: Dokumentasi Pribadi

Di Malaysia sendiri kondisinya tidak jauh berbeda. Sejak dikeluarkan perintah Perdana Menteri pada 16 Maret 2020 tentang Malaysia yang akan melakukan lockdown, semua perniagaan dan perkantoran di tutup.

Hanya supermarket, farmasi, pasar tradisional, dan restoran, yang diperbolehkan buka.

Kebersihan supermarket dan pasar tradisional Kuala Lumpur pun tetap dijaga. Jika belanja di supermarket dalam mal, pengunjung harus memakai masker dan pintu akses yang bisa dilewati hanya 1 saja, di lobi utama. Pintu masuk lain ditutup.

Dilakukan pengecekan suhu tubuh dan disediakan hand sanitizer. Jika tidak memakai masker tidak boleh masuk. Begitu mau masuk supermarketnya pun diberikan garis antrean masuk, lalu di depan mesin kasir diberikan garis antrian dengan tulisan minimal jarak per orang adalah 1 meter.

Di beberapa supermarket bahan diberikan sarung tangan plastik di pintu masuk supermarket.

Sedangkan jika berbelanja di pasar tradisional, awal diterapkan lockdown belum diberlakukan garis pembatas dan garis antrian masuk pasar, begitu juga terkait pintu masuk dan keluar. Baru 2 hari kemudian, pasar memberikan garis batas dan antrean masuk.

Untungnya karena tinggal dengan teman-teman dari Indonesia, kita belanja setiap 2 minggu sekali, untuk kebutuhan 4 orang bersama-sama. Untuk bahan pangan masing-masing, kami bisa belanja 1 minggu sekali atau 2 minggu.

Ibu hamil seperti saya juga tidak disarankan untuk keluar rumah. Saat berbelanja kebutuhan di pasar, petugas keamanan menghampiri saya dan sedikit memarahi saya dan meminta saya untuk segera pulang karena sedang hamil.

Alhamdulillah juga di sini tidak terjadi panic buying seperti di negara-negara lainnya. Pemerintah juga memastikan bahwa ketersediaan bahan pangan tercukupi, sehingga masyarakatnya membeli dalam batas wajar.

Saat ini, jika keluar rumah pun tidak bisa terlalu lama. Ada batas maksimal jam 8 malam harus sudah kembali ke dalam rumah. Restoran-restoran pun tutup, jadi kalau mau pesan makan, ya kita delivery.

Saya kan tinggalnya di apartemen, manajemen apartemen juga memberlakukan untuk delivery order makanan dan paket hanya boleh sampai lobi, tidak diantarkan ke depan pintu unit apartemen.

Jarak antar orang di dalam lift pun diatur dengan memberikan garis untuk posisi berdiri orang dan membatasi dalam 1 lift hanya boleh maksimal 4 orang. Bahkan di taman kolam apartemen, diberikan garis (semacam police line) agar penghuni tidak berkumpul di area tersebut. Ditambah seluruh fasilitas apartemen pun ditutup.

Selain itu, nonpenduduk yang tiba-tiba datang juga tidak diijinkan masuk ke dalam lingkungan apartemen karena apartemen juga lockdown.

Baca Juga: Menkes Tetapkan Status PSBB di DKI Jakarta, Ini Perbedaan PSBB dan Lockdown

Work From Home: Ada Enaknya, Ada Enggak Enaknya Juga

hamil di kuala lumpur dan jauh dari suami

Foto: Freepik.com

Untuk pekerjaan sendiri, perusahaan tempat saya bekerja juga sudah menerapkan WFH sejak 18 Maret 2020. Sebenarnya sebelum di lockdown, saya masih bekerja seperti biasa, namun tetap ada yang berjaga-jaga juga dengan menggunakan masker.

Anjuran WFH di saat seperti ini menurut saya sangat penting. Dan alhamdulillahnya kantor support banget memberikan laptop beserta wifi portable, bahkan salah satu housemate saya diantarkan seperangkat PC ke apartemen.

Tapi enggak enaknya, jaringan internetnya agak lama jadi mempengaruhi pekerjaan. Kalau di kantor biasanya menggunakan jaringan internet yang super cepat di kantor, jadi gampang. Namun, kami tetap berusaha melakukan penyesuaian demua memutus rantai penyebaran COVID-19.

Kekurangan lainnya juga berpengaruh sama kenyamanan kerja kita. Kalau WFH kan pasti duduk di sofa, nah ini kadang membuat malas dan ngantuk. Sedangkan kalau duduk tegak di lantai, punggung dan tulang pinggul cepat pegal dan sakit-sakit. Serba salah kan.

Plusnya kita bisa makan sambil kerja dan tidak memerlukan waktu istirahat yang banyak. Kalau untuk produktif atau sebaliknya sama aja sih target kerja tercapai.

Kondisi Kehamilan Tetap Terjaga dengan Sehat

kisah hamil di kuala lumpur saat covid-19

Foto: Dokumentasi Pribadi

Walaupun semua perniagaan, perkantoran, dan banyak tempat publik tutup, alhamdulillah kontrol kehamilan tidak terganggu. Hanya saja prosedur masuk rumah sakitnya agak lebih ketat ya.

Di lobi rumah sakit misalnya ada 1 tenda di mana 2 petugas medis berpakaian lengkap (APD), pakai masker muka, pakai topi kaca, dan berpakaian tertutup. Tugasnya bertanya tujuan ke rumah sakit dan sudah ada temu janji atau belum.

Jika sudah ada janji temu, harus membuktikan kartu schedule kepada petugas. Lalu mengisi formulir berisikan beberapa pertanyaan seputar COVID-19.

Baca Juga: Kontroversi Presiden Jokowi Sebut Tak Ada Larangan Mudik Saat Pandemi COVID-19

Seperti apakah sanak keluarga ada yang terpapar, pernah mengikuti pengajian atau tabligh akbar tidak, kondisi badan dalam waktu dekat ini. Lalu jika pasien diantar oleh keluarga dibatasi hanya diperbolehkan 1 orang saja yang menemani.

Yang paling penting dalam rumah sakitnya pun semua steril. Dokter juga mengingatkan saya untuk tetap menjaga kebersihan dan langsung kembali ke rumah.

Dokter juga mengingatkan saya untuk selalu menjaga diri dan si buah hati. Dia memberikan beberapa tips yang bisa dilakukan juga oleh para Moms yang sedang hamil.

  1. Selalu pakai masker ke mana pun walau sesak dan ibu hamil kan nafasnya lebih pendek karena beban.
  2. Selalu cuci tangan dan membawa hand sanitizer ke mana pun.
  3. Setelah pergi keluar rumah entah untuk ambil paket, beli makanan di kedai sebelah apartemen, ataupun dari pasar/supermarket, baju langsung disimpan di tempat baju kotor dan mandi.
  4. Ketika ambil paket belanja online dari kurirnya, sisi luar paket di beri hand sanitizer sedikit secara merata.
  5. Ketika menggunakan lift, tekan tombol menggunakan siku.
  6. Minum vitamin C dan vitamin kehamilan yang dari dokter.
  7. Perbanyak buah dan sayur.

Semuanya memang tidak seperti biasa di tengah pandemi COVID-19 ini. Untungnya kebutuhan-kebutuhan terpenting saya masih bisa terpenuhi, dan kehamilan saya bisa terjaga dengan sehat.

Semoga pandemi COVID-19 ini segera berakhir sehingga saya bisa melahirkan dengan tenang dan berkumpul kembali bersama suami.

Artikel Terkait