PARENTING
21 September 2020

Saya Positif COVID-19, Kami Sekeluarga Jalani Karantina Mandiri

Beruntung keluarga dan tetangga membantu mengirimkan vitamin dan makanan untuk kami
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Adeline Wahyu
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Oleh Rooslain Wiharyanti (40), Penulis/Editor, Ibu dari Deru (10) dan Bara (6)

Saat tulisan ini dibuat, kasus Coronavirus disease 2019 atau COVID-19 yang disebabkan virus SARS-COV2 di Indonesia sedang tinggi-tingginya. Beberapa hari lalu, pada 28 Agustus 2020, rekor penambahan kasus positif COVID-19 dalam sehari mencapai rekor 3.003 kasus.

Dua hari kemudian, pada Minggu, 30 Agustus giliran DKI Jakarta yang mencatatkan rekor harian dengan penambahan 1.114 kasus dalam sehari.

Tiap sore saya selalu menyimak angka-angka tersebut sejak pertama kali tercatat kasus positif pertama pada 2 Maret 2020. Semua berita saya baca. Setiap ada kabar baru terkait COVID-19, saya menyimak, mencoba mengerti dan memahaminya.

Bukan hanya karena berkaitan dengan pekerjaan sebagai editor situs berita kawasan, tapi juga karena saya memang peduli dan mau tahu banyak tentang penyakit baru yang sudah menjadi pandemi dunia ini.

Baca Juga: Pentingnya Tingkatkan Imunitas Tubuh dari Infeksi Virus Corona Novel (COVID-19), Berikut Tipsnya

Namun, tidak semua yang bekerja di media mau peduli dengan pandemi ini. Banyak yang pilih tutup mata-tutup telinga. Katanya banyak tahu hanya akan membuat kita semakin stres. Bahkan, saya sering disindir jika membagikan tautan berita tentang COVID-19.

"Jangan terlalu parno," katanya.

"Jaga kesehatan, minum vitamin dan olahraga," mereka menambahkan.

Apa yang saya alami kemudian membuktikan, menjaga imunitas tubuh tidak cukup menjauhkan kita dari virus. Tahu segala tentang COVID-19 dan cara mencegahnya juga tidak membuat kita kebal juga. Kalau Moms masih ke luar rumah dan bertemu banyak orang, pada akhirnya tidak akan menutup kemungkinan untuk positif juga.

Dari Optimistis, Berubah Menyerah

cerita di tengah covid-19

Foto: dok. Rooslain Wiharyanti

Awalnya saya masih bertahan dan optimistis, tapi akhirnya menyerah dan mulai menerima kenyataan kalau pada akhirnya semua akan positif pada waktunya. Apalagi setelah berbulan-bulan mengikuti bagaimana cara pemerintah Indonesia dalam menangani COVID-19.

Akibat kebijakan-kebijakan mereka yang terus meleset dalam penanganan pandemi, akhirnya pada pertengahan Juni saya diminta kembali bekerja di kantor setelah hampir dua bulan bekerja dari rumah.

Saat itu, saya sudah tinggal menunggu kapan virus itu akan masuk saluran pernapasan. Rekan kantor yang hanya taat pakai masker di hari pertama dan di satu jam awal jam kerja di hari-hari selanjutnya menambah keyakinan saya.

Akhirnya, dua minggu setelah masuk kantor saya sakit. Gejalanya ringan, demam, batuk, pilek. Tadinya saya mau langsung tes COVID-19 supaya bisa menyudahi penantian itu dan langsung bertarung satu lawan satu dengan virus corona ini.

Namun, sebagai karyawan yang gajinya sudah dipotong, biaya tes itu tidak terjangkau. Saya pun hanya ke dokter dengan bekal kartu BPJS untuk mendapatkan surat sakit dan obat flu biasa.

Baca Juga: Mengenal Penyebab Flu pada Bayi agar Bisa Mencegahnya

Lalu, seminggu kemudian, orang tua dari asisten rumah tangga yang pulang hari meninggal dunia. Saya langsung merasa bersalah. Takut menularkan penyakit itu ke anaknya dan dari anak ke bapaknya yang sudah lama sakit-sakitan. Tepat seminggu sesudahnya, ibu dari ART yang sama menyusul meninggal. Meskipun keduanya meninggal di rumah, tanpa dinyatakan suspek atau dikubur dengan protokol COVID-19, rasa bersalah saya makin besar.

Saya sudah gajian saat itu. Gaji yang tak seberapa saya gunakan untuk test swab. Saya tidak mau rapid karena hanya akan memberikan rasa aman palsu dan tetap tidak ada kepastian.

Alasannya, swab hasilnya jauh lebih akurat. Sedangkan, rapid kurang mumpuni mendeteksi orang yang sudah positif COVID-19, tetapi tanpa gejala.

Hasilnya? Benar, saya positif COVID-19. Setelah terima hasil via surel, saya langsung datang ke RS untuk konsultasi dengan dokter spesialis paru. Saya dinyatakan positif dengan gejala ringan (hanya tidak enak badan, tanpa demam dan batuk-pilek).

Kata dokter, kalau saya positif, meskipun tidak dites, semua penghuni rumah terhitung positif. Semua harus karantina mandiri.

Kami berempat pun menjalani karantina mandiri. Saya dan suami masih bekerja dari rumah. Kira-kira mulai akhir Juli dan selama Agustus saya WFH hampir sebulan. Akhir Agustus saya baru kembali bekerja, bertepatan dengan kenaikan tajam kasus positif di Indonesia, Jakarta, dan sekitarnya.

Ada sedikit rasa lega. Setelah dinyatakan positif, ada kemungkinan saya telah memiliki antibodi melawan virus ini. Jadi, meskipun kasus terus bertambah dan berlipat ganda, saya bisa sedikit tenang.

Namun, masih banyak ketakutan lain atas pertanyaan-pertanyaan yang para ahli pun belum bisa memastikannya. Apakah orang yang pernah kena bisa kebal dan tidak kena COVID-19 lagi? Jika sudah kebal, apakah dirinya menjadi carirer virus atau tidak?

Oiya, untuk harga test swabnya, adalah Rp1,675 jt. Itu hanya untuk tes tanpa konsultasi dokter ya Moms. Jika ingin konsultasi, harganya tentu berbeda lagi.

Keluarga Lain Tidak Terlalu Khawatir

Hasil tes kami yang positif langsung dilaporkan ke gugus tugas dan petugas di tingkat RT pun langsung mengontak kami keesokan harinya. Mereka menanyakan apa yang bisa dibantu dan mengirimkan vitamin dan madu ke rumah.

Lalu keluarga lainnya, karena tahu kami sekeluarga sehat-sehat saja, mereka tidak terlalu khawatir. Keluarga pun membantu dengan mengirimkan makanan dan hal-hal yang kami butuhkan seperti mainan dan camilan untuk anak-anak supaya tidak bosan.

Kebijakan dari gugus tugas, kalau dalam masa isolasi mandiri 14 hari tidak ada keluhan atau gejala apapun, mereka tidak tes ulang. Ini sesuai aturan baru yang ditetapkan Kementerian Kesehatan.

Mereka memberikan surat sehat setelah lewat masa isolasi dan saya mengambil di Puskesmas, jadi tidak ada petugas yang ke rumah.

Kami kemarin memutuskan hanya rapid tes untuk kebutuhan administrasi di kantor. Dana untuk tes ulang kami simpan dulu karena rencananya sekeluarga akan tes PCR rutin, bergantian. Kemungkinan akhir tahun akan tes. Ini berdasarkan penelitian yang mengatakan imunitas tubuh pasien yang pernah positif COVID-19 akan menurun setelah 3-4 bulan.

Semakin Repot karena Tidak Ada Asisten Rumah Tangga

cerita di tengah covid-19

Foto: dok. Rooslain Wiharyanti

Mungkin Moms bertanya-tanya, apa yang saya lakukan di rumah selama karantina mandiri? Apa kegiatan saya? Jawabannya adalah selama karantina saya dan suami tentunya masih bekerja WFH dan anak-anak saya tetap melakukan Pendidikan Jarak Jauh (PJJ). Ya, kami karantina satu keluarga.

Jika berpikir "wah berarti bisa istirahat selama di rumah ya mba? Jawabannya tidak! Justru saya tambah repot karena mbak yang pulang hari tidak bisa bantu saya beres-beres dan cuci-setrika.

Jadi sebenernya saya tidak bisa istirahat juga, malah merasa tambah capek, karena harus mengurus semuanya sendiri.

Untuk sarapan biasanya saya pilih yang praktis seperti roti panggang, sereal, atau masak makanan beku seperti kebab. Sedangkan makan siang dan malam bisa pesan online. Banyak juga keluarga dan teman yang mengirimkan makanan. Hampir setiap hari ada saja yang kirim, jadi kami sangat terbantu juga.

Makanya, Moms dan keluarga di rumah harus tetap sehat ya. Karena sebenarnya karantina itu enggak enak. Kita jadi enggak leluasa dan tambah capek.

Nah, untuk menjaga kesehatan saya dan keluarga, kami rajin mengonsumi multivitamin dan istirahat yang cukup. Saya sendiri minum madu ditambah dengan potongan lemon tiap hari untuk daya tahan tubuh.

Virus Bisa Datang Tanpa Permisi dan Tanpa Kita Ketahui

Tentang dari mana saya dapat virus itu, jawabannya juga tidak pernah bisa ditemukan. Bisa jadi dari kantor atau mungkin malah dari ART yang juga bekerja di tempat lain? Bahkan, kemungkinannya bisa lebih dari dua itu.

Selama penanganan pemerintah masih sangat longgar dalam hal tracing dan tidak mau mengusahakan tes murah untuk semua, tidak ada yang bisa tahu pasti siapa yang menularkan siapa.

Baca Juga: 5 Aktivitas di Dalam Rumah Saat Pandemi Corona, Anti Bosan!

Dengan menceritakan semua ini, saya berharap supaya Moms semua punya pemahaman yang sama seperti saya: semua akan positif pada waktunya.

Harapannya, dengan kesadaran itu kita bisa lebih waspada. Tidak hanya berpikir tentang diri sendiri dengan terus-menerus menjaga imunitas tubuh.

Ini pandemi, Moms. Masalah utama bukan pada bisa sembuh atau tidak dari penyakitnya, tapi ada pada penularannya yang tidak dapat terkontrol. Moms bisa tetap sehat-bahagia, pergi ke mana-mana membawa virus dan menularkannya ke orang-orang yang akhirnya akan jatuh sakit, atau lebih parah: meninggal!

Bukan hanya menjaga supaya tidak sakit, cobalah pikirkan bagaimana supaya penyakit itu tidak menular lebih jauh ke orang-orang di sekitar kita. Jika punya uang lebih, coba swab test, cek apakah Moms yang sehat itu diam-diam membagi-bagikan virus.

Lakukan rutin dan bergantian dengan anggota keluarga atau teman-teman kantor kita. Jika pemerintah tidak bisa atau tidak mau melakukan apa-apa selain menjaga ekonomi negara, yuk kita-kita aja yang saling jaga.

Artikel Terkait