KELUARGA
4 Juli 2019

Sebagai Pejuang Program IVF, Saya Bangga Karena Bisa Punya Hati yang Penuh Sabar

Modal buat program bayi tabung tak hanya tekad dan biaya, tapi wajib punya kesabaran yang luar biasa.
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Orami
Disunting oleh Prita Apresianti

Oleh : Amelia Meliala, Pejuang Program Bayi Tabung, Pemenang Kompetisi Sharing Story Orami Program Hamil dalam Rangka Orami 6th Anniversary

Jadi ceritanya, saya dan suami sudah menikah selama 9 tahun. Dalam perjalanan pernikahan, kami adalah pasangan yang tidak terlalu pusing soal kehadiran anak dalam keluarga kami. Mungkin karena profesi saya adalah guru TK sehingga tiap hari dikelilingi oleh anak-anak yang menggemaskan. Tetapi ketika usia menginjak 36 tahun, tiba-tiba saya tersadar. Saya pernah membaca sebuah penelitian bahwa kualitas sel telur ibu menurun setiap bertambahnya usia ibu. Duh! Bagaimana ini?

Berkelana Mencari Program Terbaik

AmeSmDOkter.jpg

Perjalanan pun dimulai ketika saya memutuskan untuk berhenti bekerja sebagai guru TK dan fokus pada program hamil. Frustasi juga ketika harus memilih dokter Obgyn mana yang dituju. Banyak teman-teman dan keluarga yang menyarankan pergi ke dokter A, dokter B, dan la la la sampai harus makan minum A sampai Z. Pusing amat! Saya pun mencoba saran mereka, tapi kok nihil ya? Saya sempat ke dokter senior di bilangan Menteng Jakarta, dengan antrian yang super lama, tapi rasanya tidak cocok dengan metode yang disarankan. Kemudian saya pindah dokter ke daerah Pulo Mas dan sempat melakukan inseminasi 1 kali. Tapi itu pun gagal! Saya dan suami punya komitmen kalau mencoba inseminasi hanya satu kali saja. Karena percaya bahwa anak itu anugerah dari Tuhan, mau 1000 kali mencoba kalau tidak diijinkan oleh Yang Kuasa, hasilnya pasti nihil.

Kemudian kami pun mulai mempertimbangkan program IVF (In Vitro Fertilization) atau yang akrab dikenal dengan Bayi Tabung. Tahun 2017 kami memantapkan hati untuk fokus menjalankan program IVF. Karena saya sudah berhenti bekerja maka soal waktu tidak akan menjadi masalah. Kami langsung bergerilya. Cari tahu soal program IVF di berbagai rumah sakit dan dokter mana yang “jago” melakukan praktek ini. Setelah browsing sana-sini kami memilih Penang. Mengapa Penang? Pertama dari segi biaya tidak jauh berbeda dengan di Indonesia. Kedua, beberapa teman seperjuangan kami berhasil mendapatkan buah hati di Penang sehingga tingkat kepercayaan kami pada dokter di sana cukup kuat. Ketiga, saya mempunyai tante yang tinggal di Penang jadi kendala akomodasi tidak terlalu menyusahkan. Terakhir, saya kurang sreg dengan praktek dokter disini karena sistem antrian yang lama dan tidak efektif. Pilihan pun jatuh di rumah sakit Loh Guan Lye dengan dokter Sim Seng Keat.

Pertama kali bertemu dengan dokter Sim, saya langsung jatuh cinta. Dia menjelaskan dengan detail setiap pertanyaan yang saya lontarkan. Dia pun membuat saya tenang dan tidak takut untuk memulai program ini. Seakan-akan ini hal yang mudah sekali dilakukan. Pertama, dokter meminta saya untuk USG dan cek darah sedangkan suami diminta untuk cek sperma. Hasil pun didapatkan, ternyata saya mempunyai polip dan harus dioperasi sebelum memulai program IVF. Dokter menyatakan apabila ada masalah dalam kandungan harus diselesaikan sebelum program dimulai agar hasil maksimal. Saya sepakat langsung melakukan operasi 2 hari kemudian. Setelah operasi maka saya harus menunggu 3 bulan kemudian untuk check up dan memulai program. Hasil sperma suami saya juga tidak terlalu baik. Jadi kami berdua punya masalah yang sama.

Memulai Program IVF

image3.jpeg

Di bulan Desember 2018 akhirnya kami menjalankan siklus IVF pertama saya. Saya diberi obat hormon suntik yang harus saya suntik sendiri di sekitar perut selama 16 hari lamanya. Suntikan ini fungsinya memperbanyak telur dan membuat ukuran sesuai dengan yang dibutuhkan. Selama suntik menyuntik ini saya sangat gugup, maklum belum pengalaman. Terkadang ada bekas memar di perut akibat suntikan ini. Ternyata itu normal terjadi bagi para pejuang IVF. Saat itu saya hanya pasrah, berdoa dan berserah sepenuhnya pada Tuhan. Setiap 3 hari sekali saya harus cek ke dokter untuk memastikan ukuran dan jumlah apakah sudah sesuai belum. Setelah itu saya melakukan Ovum Pick Up. Ini prosedur operasi, di mana saya dibius dan diambil sel telurnya. Saya sih tidak merasakan sakit yang berarti selama dan setelah operasi. Bahkan setelah operasi saya bisa berjalan normal dan boleh kembali ke rumah tidak perlu menginap di rumah sakit. Selagi saya operasi, suami pun melakukan Sperm Collection.

Terjadilah pertemuan antara sperma suami dan telur saya di lab dengan bantuan Embriologist. Ternyata, Embriologist mempertemukannya dengan metode ICSI (Intracytoplasmic Sperm Injection). Jadi sperma langsung disuntikan ke telur dengan alat bantu. Dua hari setelah itu, kami mendapatkan informasi berapa banyak embrio yang didapatkan. Puji Tuhan ada 8 embrio dengan kualitas baik yang didapatkan. Rasanya bahagia, lega dan bersyukur sekali saya mendapatkan embrio tersebut. Mengingat proses panjang dan perjuangan yang sudah kami lakukan. Dokter pun mengatakan bahwa jumlah embrio ini diatas rata-rata pasien yang melakukan program IVF. Saya teramat girang.

Kami tidak langsung menransfer embrio yang didapatkan ke dalam rahim. Jadi embrio-embrio tersebut di bekukan di rumah sakit. Kami harus membayar biaya penyimpanan per tahun. Penyimpanan ini bebas dilakukan selama kita membayar biayanya. Saya baca bahkan ada pasien berhasil hamil dari embrio yang telah dibekukan selama 24 tahun. Wow! Menurut dokter hal ini dilakukan agar rahim saya istirahat setelah stimulus hormon. Juga tingkat rata-rata keberhasilan yang tinggi dari embrio yang ditransfer setelah proses pembekuan. Saya boleh melakukan transfer embrio pertama setelah melewati 3 siklus datang bulan.

Proses Belajar Sabar Tiada Henti

image5.jpeg

Saat ini saya sedang menunggu proses transfer embrio ke rahim saya. Doakan ya, agar kami bisa mendapatkan buah hati yang ditunggu-tunggu. Melewati proses panjang IVF, sebagai suami istri kami belajar untuk bersabar. Karena banyak sekali kejutan dalam proses ini mulai dari jadwal yang berubah karena hormon, ketidakpastian akan hasil akhir sampai ketinggalan pesawat pun bisa terjadi. Jadi jangan pernah bikin timeline sendiri, karena pasti akan berubah. Selain itu saya selalu mengingatkan kepada teman-teman yang ingin mencoba, agar selalu santai dan jangan terlalu “parno”. Karena tubuh ini bisa bereaksi atas proses yang cukup melelahkan. Saya juga menulis jurnal IVF untuk menyalurkan ke-”parno”-an saya. lho. Ha ha ha. Juga siapkan dana yang cukup agar program tidak berhenti di tengah jalan karena kekurangan. Banyak berdoa dan berserah penuh sama Tuhan karena Dialah sang pemberi hidup.

Selamat mencoba, semoga berhasil ya teman-teman!

Artikel Terkait