BALITA DAN ANAK
21 Januari 2020

Sensory Processing Disorder pada Anak, Apa Artinya?

Anak dengan SPD bisa jadi terlalu sensitif atau justru sangat tidak sensitif
Artikel ditulis oleh Adeline Wahyu
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Pernahkan Moms mendengar tentang Sensory Processing Disorder (SPD)? SPD atau bisa juga disebut sensory integration dysfunction merupakan gangguan neurologis di mana informasi sensorik yang diterima seseorang, menghasilkan respon yang abnormal.

Proses sensorik mengacu pada cara sistem saraf menerima pesan dari indera manusia dan mengubahnya menjadi berbagai macam respon. Bagi mereka yang mengalami gangguan sensorik, informasi sensorik yang masuk ke otak tidak ditata dalam respon yang sesuai.

Baca Juga: Ini Dia 7 Kelainan Kaki Bayi Baru Lahir

“Mereka akan mempersepsikan atau merespon informasi sensorik secara berbeda dari kebanyakan orang lain,” jelas dr. Laura Djuriantina, Dokter Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi Medik RS Pondok Indah – Pondok Indah.

Berdasarkan The Journal for Nurse Practitioners, anak-anak penderita SPD mengalami kesulitan dalam mendeteksi, mengatur, menafsirkan, dan merespons input indera.

Berbeda dengan orang yang memiliki gangguan penglihatan atau gangguan pendengaran, mereka yang mengalami gangguan sensorik sebenarnya dapat mendeteksi informasi sensorik namun diterima secara “campur aduk” di otak mereka.

Akibatnya respon yang keluar akan tidak sesuai dengan konteks.

Tanda Sensory Processing Disorder pada Anak

Sensory processing disorder, SPD

Foto: istockphoto.com

Biasanya manifestasi yang muncul pada anak adalah anak sering terlihat gelisah, marah atau tantrum, dan terkadang mengalami gangguan perhatian. Lainnya adalah diskriminasi sensori yang buruk, misalnya tidak bisa membedakan antara air panas atau air dingin.

Menurut dr. Laura Djuriantina, anak yang memiliki SPD juga menjadi terlalu sensitif. Pakaian mungkin akan selalu dirasa membuat gatal, lampu mungkin akan selalu terasa terlalu terang, suara mungkin akan terdengar terlalu keras, sentuhan lembut menjadi terasa terlalu keras, tekstur makanan juga dapat menyebabkan tersedak.

Baca Juga: Stimulasi Sensorik dan Motorik Si Kecil, Saya Lakukan Baby Sensory Class Sendiri di Rumah

Si Kecil dengan SPD juga sangat mungkin dapat memiliki keseimbangan yang buruk atau tampak canggung, terkadang takut bermain di ayunan, bereaksi buruk terhadap gerakan yang tiba-tiba, atau sentuhan, atau suara keras, dan atau lampu terang.

Terkadang gejala ini terkait dengan keterampilan motorik yang buruk juga. Anak dengan SPD mungkin mengalami kesulitan memegang pensil atau gunting.

Ia mungkin mengalami kesulitan menaiki tangga atau memiliki massa otot yang rendah. Ia juga mungkin mengalami keterlambatan berbicara atau kemampuan berbahasa yang lambat.

Pada anak yang lebih besar, gejala-gejala ini dapat merusak kepercayaan dirinya. Mereka dapat terisolasi secara sosial, dan lama kelamaan dapat memicu depresi.

Kebalikannya dari over sensitive yaitu kurang sensitif dapat juga terjadi pada anak yang memiliki SPD.

Beberapa contoh perilakunya adalah tidak bisa duduk diam, mencari sensasi yaitu suka melompat, tinggi, dan berputar, bisa berputar tanpa pusing, tidak peka terhadap lingkungan sekitar, tidak mengenal ruang pribadi seseorang, suka mengunyah sesuatu termasuk tangan dan pakaian, mencari stimulasi visual (seperti elektronik), memiliki masalah tidur, dan mungkin tidak mengenali ketika wajahnya kotor, atau sedang memiliki masalah hidung (pilek).

Baca Juga: 5 Ide Permainan Sensorik Untuk Bayi 8 Bulan

Tes untuk Mengetahui Sensory Processing Disorder pada Anak

Sensory processing disorder, SPD

Foto: additudemag.com

SPD pada anak dapat diketahui dengan melakukan beberapa tes. Tes yang harus dilalui untuk mengetahui SPD, antara lain:

  • Sensory Integration and Proxis Tests (SIPT)
  • Miller Function and Participation Scales (M-FUN)
  • Bruininks – Oseretsky Test of Motor Proficiency
  • Movement Assesment Battery for Children
  • Miller Assesment for Preschoolers (MAP)
  • Good – Oriented Assesment of Life Skills

Nah, jika Moms dan Dads sudah melihat tanda-tanda SPD pada anak, tidak ada salahnya untuk mengajak Si Kecil berkonsultasi dan melakukan serangkaian tes.

Dengan mengetahui gejala SPD lebih awal, Moms dan Dads bisa lebih cepat memberikan penangan yang tepat untuk Si Kecil.

Artikel Terkait