BALITA DAN ANAK
4 Juli 2019

Serba-serbi Sunat Pada Anak, Apa Manfaat dan Kapan Usia Terbaik Melakukannya?

Apakah sunat benar-benar dibutuhkan Si Kecil?
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Amelia Puteri
Disunting oleh Intan Aprilia

Masa liburan sekolah biasanya dimanfaatkan oleh para orang tua untuk membawa anak laki-lakinya dikhitan atau disunat.

Khitan, sunat, atau sirkumsisi pada dasarnya adalah pemotongan sebagian dari preputium (kulit yang menutupi penis) sehingga keseluruhan glans penis terlihat.

Namun, apakah melakukan sunat pada anak adalah hal penting?

Dalam ajaran Islam, tindakan ini biasa dilakukan pada usia anak-anak menjelang akil balig. Namun, kini, tak jarang juga orang tua yang mengajak anak laki-lakinya dikhitan sejak usia balita, meski tanpa adanya indikasi medis.

Berikut ini hal yang perlu diketahui tentang sirkumsisi atau sunat pada anak, seperti dijabarkan oleh dr. Yessi Eldiyani, Sp. BA, Dokter Spesialis Bedah Anak di RS Pondok Indah-Bintaro Jaya.

Baca Juga: Jangan Asal, Ini Perawatan Bayi Setelah Disunat yang Tepat

Sunat Pada Anak Karena Masalah Medis

sunat pada anak-1.jpg

Sebagian besar operasi bedah sirkumsisi memang dilakukan bukan berdasarkan alasan medis, tetapi lebih kepada ajaran agama maupun adat istiadat dan budaya.

Sedangkan sebagiannya lagi dilakukan karena adanya indikasi medis, di antaranya:

1. Fimosis

Fimosis merupakan kulup penis yang melekat kencang pada kepala penis sehingga tidak dapat ditarik ke belakang melewati kepala penis. Kondisi ini umum terjadi pada anak berusia 2-6 tahun.

Seiring waktu, kulup penis seharusnya mulai terpisah dari kepala penis secara alami. Namun, bagi beberapa anak, kulup penis masih belum dapat ditarik ke belakang hingga usia 17 tahun.

Fimosis ini biasanya berhubungan dengan peradangan pada kepala penis (balanitis) dan peradangan pada kulup dan kepala penis (balanopostitis) yang terjadi secara berulang.

Fimosis masih dianggap wajar dan tidak menimbulkan masalah selama terjadi saat masih bayi dan balita.

2. Infeksi Saluran Kemih Berulang

Infeksi saluran kemih, atau ISK, adalah infeksi yang disebabkan pertumbuhan dan kuman yang berkembang biak di dalam saluran kemih yang steril.

Infeksi saluran kemih (ISK) sering terjadi pada anak. Setidaknya pada bayi yang baru lahir, infeksi saluran kemih rentan terjadi pada bayi laki-laki (75-80%) dibandingkan dengan bayi perempuan.

3. Paraphimosis

Ini merupakan kondisi di mana preputium (kulit yang menutupi penis) yang telah ditarik ke bagian belakang, tidak dapat dikembalikan pada posisi semula.

Baca Juga: Apakah Bayi Perempuan Harus Disunat?

Manfaat Sunat Pada Anak

Bagi anak yang sudah melakukan khitan, tentu banyak manfaat yang didapat. Sirkumsisi bisa menurunkan risiko terjadinya infeksi pada saluran kemih.

Selain itu, sirkumsisi juga dapat mencegah terjadinya fimosis dan paraphimosis, yaitu ketika kulup tidak bisa ditarik kembali dan terjebak di sekitar ujung penis.

Teknik Sunat Pada Anak

sunat pada anak-2.jpg

Ada dua cara tindakan operasi bedah sirkumsisi yang biasa dilakukan, yaitu secara konvensional dan smart clamp.

Cara pertama (konvensional) adalah dengan memotong kulit yang menutupi glans penis, kemudian menjahitnya.

Sementara, smart clamp adalah metode menghentikan aliran darah ke preputium sehingga preputium akan mengalami kematian dan terlepas sendiri.

Kekurangan dari cara kedua adalah pengerjaannya membutuhkan waktu yang lebih lama bila dibandingkan dengan cara yang pertama.

"Sebelum melakukan tindakan sirkumsisi, anak akan diberikan anestesi lokal. Namun, pada tindakan sirkumsisi yang dilakukan saat bayi dan balita, biasanya diberikan anestesi umum, agar memudahkan dokter untuk melakukan tindakan," terang dr. Yessi.

Komplikasi Usai Disunat

Tidak ada yang sempurna, bahkan operasi sunat pada anak yang tergolong tindakan mudah dapat menghasilkan infeksi ataupun komplikasi.

Infeksi luka operasi setelah sirkumsisi sangat jarang, dengan kecenderungan kurang dari lima persen. Tetapi, apabila itu terjadi maka pemberian antibiotika oral dan mandi teratur dapat mengurangi infeksi tersebut.

Pasien juga dapat mengalami perdarahan setelah tindakan sirkumsisi. Namun, perdarahan ringan di sela-sela jahitan sirkumsisi dan tidak sampai mengalir, atau perdarahan saat anak ereksi di pagi hari selama 1-2 hari pertama setelah disunat masih dianggap normal.

Ketika terjadi perdarahan, cukup dikeringkan dan dioles salep antibiotika topikal untuk membantu proses penyembuhan dan mencegah infeksi.

Tetapi, segera konsultasikan dengan dokter apabila setelah sirkumsisi ditemukan perdarahan yang tidak wajar dengan jumlah banyak, mengalir tidak berhenti, bahkan setelah ditekan dengan kain kassa.

Masalah lain yang dapat terjadi setelah tindakan sirkumsisi adalah meatal stenosis, yaitu penyempitan atau perlekatan pada saluran buang air kecil. Keadaan ini dapat terjadi pada 11 persen kasus pasien sirkumsisi.

Pada bayi, hal tersebut berhubungan dengan dermatitis yang disebabkan karena kontak dengan popok sekali pakai.

Baca Juga: Mengenal Fimosis, Penyebab Umum Bayi Laki-laki Disunat Sejak Dini

Laki-laki yang Tidak Boleh Disunat

sunat pada anak-3.jpg

Pasien yang memiliki kondisi medis tertentu tidak dapat melakukan tindakan sirkumsisi, karena dapat berisiko terjadinya komplikasi.

Beberapa kondisi medis tertentu tersebut seperti adanya hipospadia di muara uretra yang terletak tidak pada ujung penis, tetapi pada bagian ventral penis. "Hipospadia adalah kondisi di mana pasien seakan-akan telah disunat dari dalam kandungan," ujar dr. Yessi.

Pasien juga tidak dapat melakukan tindakan sirkumsisi apabila memiliki kelainan pembekuan darah, seperti hemofilia dan anemia aplastik.

Ada baiknya tindakan sirkumsisi dilakukan di rumah sakit bersama dokter spesialis bedah umum atau dokter spesialis bedah anak, sehingga bila ditemukan adanya kelainan organ atau kondisi medis tertentu, dokter dapat memberikan penjelasan dan penanganan yang lebih tepat.

Usia Terbaik untuk Disunat

Dari sisi medis, tidak ada usia tertentu yang dipandang ideal atau terbaik untuk melakukan prosedur sirkumsisi. Apabila tidak ada masalah atau indikasi medis tertentu, sirkumsisi bisa dilakukan kapan saja.

Sekarang, semakin banyak orang tua yang tak segan membawa anaknya untuk dikhitan sejak dini. Selain karena adanya indikasi medis, juga untuk meminimalkan risiko terjadinya infeksi saluran kemih.

Manfaat yang didapat dengan sirkumsisi yang dilakukan ketika bayi tak jauh berbeda dengan tindakan sirkumsisi ketika anak di usia sekolah.

Bedanya, penggunaan bius bisa lebih sedikit. Lalu, saat sirkumsisi dilakukan ketika masih bayi, bayi belum terlalu banyak bergerak, sehingga proses penyembuhan pun bisa lebih cepat.

Baca Juga: Kapan Usia Tepat Anak Laki-laki Disunat?

Perawatan Setelah Disunat

Setelah tindakan sirkumsisi, pasien akan mengalami beberapa reaksi jangka pendek yang tidak membahayakan. Oleh karena itu, hal ini tidak perlu dikhawatirkan.

Reaksi tersebut antara lain seperti rasa ngilu pada kepala penis yang baru dikhitan. Ini wajar terjadi karena kepala penis menjadi lebih sensitif terhadap sentuhan atau kontak dengan celana dalam.

Rasa ngilu akan berangsur-angsur berkurang dalam kurun waktu 2-4 minggu. Usai disunat, disarankan menggunakan celana dalam yang lebih longgar atau celana dalam sunat.

Bila selesai buang air kecil, jangan lupa bersihkan sisa air dengan tisu atau kasa pada tiga hari pertama selesai sirkumsisi.

Selanjutnya, pada seminggu awal usai sirkumsisi sebaiknya kurangi aktivitas naik sepeda, naik motor, atau menunggang kuda untuk mengurangi gesekan antara luka sirkumsisi dengan sadel.

Artikel Terkait