PARENTING
15 Juli 2019

Serunya Drama Hamil Kembar saat Si Sulung Masih Batita

Sempat down karena komentar negatif dari keluarga
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Orami
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Hai! Perkenalkan, nama saya Marisqa Ayu Krisnaningtyas, 30 tahun. Ibu dari 3 anak, Ganendra Langit Gumilang, 2,5 tahun, serta si kembar Sastra Arung Gumilang dan Mahagra Asta Gumilang, 7 bulan.

Sebelum dikaruniai tiga putra seperti sekarang ini, saya punya riwayat keguguran di usia kandungan 5 minggu pada kehamilan pertama. Padahal itu kehamilan yang sangat diharapkan setelah 8 bulan menikah.

Maka, saat hamil lagi dan lahir Langit, semua perhatian dan kasih sayang tertuju pada Langit seorang. Baik dari saya dan suami, orang tua kami, maupun sanak saudara lain. Menjadi orang tua yang baik dan mendidik Langit dengan sempurna adalah tujuan utama saat itu. Belum terpikir untuk menambah momongan dalam waktu dekat.

Hingga hal kabar mengejutkan datang kepada saya dan suami. Saat Langit berusia 15 bulan, saya positif hamil. Berbekal alat tes kehamilan, saya dan suami pun bergegas menemui dokter kandungan. ketika pemeriksaan USG, terlihat jelas ada 1 kantong dan 1 janin di dalamnya.

Baca Juga: Barang Preloved untuk Si Kecil? Enggak Masalah!

Mempersiapkan Langit jadi Kakak

20190606_151402.jpg

Dengan perasaan masih campur aduk, saya dan suami berusaha menerima dengan ikhlas hadiah dari Tuhan itu. Dalam hati, saya berkata, kita hanya punya waktu 9 bulan untuk menyiapkan diri kita dan tentunya Langit untuk menyambut kehadiran si adik.

Langit yang baru mendapatkan kasih sayang penuh selama 15 bulan sudah harus bersiap untuk berbagi dengan adiknya nanti. Dia juga harus sudah siap menjadi seorang kakak.

Saya dan suami pun demikian. Kami harus menyiapkan diri untuk menjadi orang tua dari dua anak. Itu artinya, akan ada kehebohan dan pengeluaran ekstra tentunya.

Dalam waktu yang terbilang singkat, kami mulai menyiapkan strategi agar Langit tidak merasa "tersaingi" dengan adanya anggota baru dalam keluarga kami nanti. Kami mulai membiasakan dia dengan panggilan "mas" atau kakak dalam bahasa Jawa.

Kami pun selalu berusaha memberikan perhatian yang lebih intens lagi. Serta mulai memberikan pengertian kalau sebentar lagi Langit akan jadi kakak, dia akan punya adik kecil yang saat ini masih di dalam perut ibu.

Down karena Komentar Negatif Keluarga

20190606_143924.jpg

Saat kehamilan saya masuk usia 14 minggu, saya, suami dan Langit pulang untuk merayakan Lebaran di Jawa Timur, daerah asal saya. Bukan sambutan gembira seperti waktu kehamilan Langit yang kami dapat. Tapi banyak komentar cenderung menyalahkan kami karena hamil lagi saat anak pertama masih kecil.

Banyak tatapan dan ucapan penuh belas kasihan orang untuk Langit membuat saya sempat down. Apalagi ada yang mengatakan agar memberikan Langit atau adiknya nanti untuk diasuh oleh saudara yang belum punya keturunan. Perih hati saya dan suami. Rasanya ingin diam saja dalam kamar dan tidak bertemu siapapun.

Beruntung, saya punya suami yang sangat pengertian dan perhatian. Saya pun tidak mau ambil pusing dengan komentar negatif dari keluarga. Saya dan suami bertekad untuk menerima anugerah Tuhan ini dengan baik.

Baca Juga: Dengan Senang Hati, Saya Berbagi Kisah Hamil dan Melahirkan di Denmark, Negara Paling Bahagia di Dunia

Ternyata, Saya Hamil Anak Kembar

44796322_2007578806202152_3127779719084995073_n.jpg

Belum hilang rasa kami terkejut karena positif hamil dan down setelah mendapatkan komentar negatif, saya dan suami kembali mendapat kejutan.

Setelah kembali ke Bekasi, tiba saatnya pemeriksaan kandungan diusia 16 minggu. Ada sesuatu yang terlihat seperti benjolan dekat janin saat pemeriksaan USG. Dan tiba-tiba dokter kandungan memberikan kami kabar mengejutkan.

"Ini anaknya dua ya bu. Dua-duanya sehat," kata dokter tersebut.

JGLERRR... Seperti petir di siang bolong. Saya dan suami sampai bertanya beberapa kali apakah di dalam perut saya benar-benar ada dua janin.

Dan jawaban dokter adalah benar. Dia menjelaskan, penampakan USG menunjukkan ada dua janin dalam satu kantong dan terpisah lapisan tipis yang artinya saya hamil kembar identik, dengan jenis kelamin bayi laki-laki.

Bukan Kehamilan yang Mudah

40588848_1887662234861936_531994589791661452_n.jpg

Banyak sekali drama yang terjadi saat itu. Selain morning sickness parah dan berlangsung lebih lama, saya juga jadi lebih mudah lelah dan tidak nafsu makan. Saya juga sempat diopname karena janin kekurangan air ketuban.

Si kembar divonis terkena Twin to Twin Transfusion Syndrome, atau tidak meratanya asupan gizi yang diserap oleh kedua janin sehingga pertumbuhan salah satu janin agak terhambat.

Bahkan, ketika usia kandungan saya baru menginjak 27 minggu, Si Kembar disarankan segera dilahirkan. Tapi saya tidak mau menyerah. Saya yakin anak-anak saya masih kuat bertahan sampai usia cukup lahir. Saya pun mencari opsi kedua dan ketiga.

Beruntungnya, dokter kedua mengatakan bahwa saya masih bisa dipertahankan asal rajin makan makanan bergizi, banyak minum, dan minum vitamin yang sudah diresepkan. Dokter itu juga mau memberikan rekomendasi dokter yang dia kenal saat saya mengatakan ingin melahirkan di Jawa Timur saja. Agar lebih dekat dengan orang tua dan ada yang bantu mengasuh Si Sulung.

Meskipun harus melewati banyak drama, Si Kembar akhirnya bisa bertahan hingga usia kandungan 36 minggu. Keduanya lahir dengan sehat dan selamat. Si Kembar cukup berada di inkubator selama dua hari dan sudah bisa ikut pulang saat saya pulang dari rumah sakit.

Saya sangat bersyukur, meski banyak drama saat hamil, tapi kini Si Kembar dan kakaknya tumbuh sehat, aktif, dan ceria layaknya anak-anak lain. Meskipun terkadang saling jahil, tapi mereka juga sering bermain bertiga dengan rukun.

Baca Juga: Punya Bayi dan Tinggal Jauh dari Orang Tua, Menantang!

Hingga saat ini, saya masih tinggal di Jawa Timur. maklum, saya masih butuh banyak bantuan. Alhamdulillah, keluarga dan kerabat di sini ikut membantu mengasuh Si Sulung dan Si Kembar.

Semoga sebulan lagi saat dibawa kembali ke Bekasi, tidak ada drama-drama lain yang terjadi di tanah rantau.

Artikel Terkait