PARENTING
22 Agustus 2019

Serunya Menikmati Tahun Pertama bersama Bayi Prematur

Saya sempat bertanya kepada diri sendiri, sebenci itukah Dia karena saya tidak bisa melahirkan secara normal seperti yang lainnya?
Artikel ditulis oleh Amelia
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Oleh Laela Marlina (25 th), Ibu dari Kalula Hafshah A (1 th), Member WAG Orami Mompreneur (2)

Halo, nama saya Laela Marlina. Saya adalah Ibu dari Kalula Hafshah Azzuhra yang kini berusia 1 tahun. Bayi saya lahir prematur di usia kehamilan 35 minggu, dengan berat lahir 1,2 kg dan tinggi badan 38 cm.

Saat ini, saya adalah ibu rumah tangga yang sesekali mengambil pekerjaan freelance. Sebelumnya, saya bekerja sebagai Social Media Admin di salah satu merek busana di Bandung.

Baca Juga: Bergabung di Komunitas, Pilihan Saya Agar Tetap 'Waras' dan Cerdas

Bayi Saya Lahir Prematur, Anugerah atau Musibah?

merawat bayi prematur-1

Foto: Orami/Laela Marlina

Tidak pernah terpikirkan oleh saya bahwa Hafshah terlahir prematur. Padahal, dulu saya sedang tidak sakit apa pun, tidak ada flek darah, masih kuat bekerja dan beraktivitas seperti biasanya.

Dokter bilang janinnya sudah tidak berkembang, sehingga harus ada tindakan terminasi dan menyelamatkan salah satu saja.

Perasaan kecewa, marah, sedih, dan kesal bercampur menjadi satu. Tapi saya harus tetap ingat, bahwa sebenarnya kita sebagai manusia tidak memiliki apa-apa.

Lega sekali rasanya saat tahu bahwa Hafshah lahir dengan selamat, walaupun harus berpisah dengannya selama 43 hari.

Saat masa pemulihan pasca operasi, saya selalu bertanya-tanya, mengapa harus mengalami hal ini. Apakah ini anugerah atau musibah, apakah kami bisa melewatinya?

Tangisan pun pecah saat pertama kali melihat wujudnya yang sangat mungil. Sebenci itukah Dia pada saya sehingga tidak bisa melahirkan normal seperti yang lainnya?

Ah, pada akhirnya seiring waktu saya sadar, bahwa amanah-Nya adalah anugerah yang harus tetap dijaga sebaik mungkin.

Baca Juga: Mengalah Bukan untuk Menyerah, Bayi Saya Minum Susu Formula

Melepas Karir Demi Mengasuhnya

merawat bayi prematur-2

Foto: Orami/Laela Marlina

Pascacuti melahirkan, saya langsung mengajukan resign. Awalnya memang berat karena saya sudah menjadi pegawai tetap dan saya mencintai pekerjaan saya.

Tapi apa boleh buat, menemani anak jauh lebih penting. Bukan karena dia lahir secara prematur, tapi memang jauh hari sebelum Hafshah lahir, saya dan suami memang sudah sepakat memutuskan hal tersebut.

Walaupun sebenarnya saya sedikit deg-degan tentang sumber dana, yang kini hanya berasal dari suami. Apalagi sejak keluar dari rumah sakit, Hafshah harus menjalani ragam rangkaian screening dan konsultasi DSA yang biayanya tidak sedikit.

Andaikan bisa menjadi working-at-home mom, setidaknya bisa meringankan beban suami. Namun, saya teap memiliki keyakinan bahwa Dia akan memberi rezeki dari pintu yang lain.

Akhirnya, saya menjalani hari-hari sebagai ibu rumah tangga. Banyak hal-hal yang 'ajaib’ serta membutuhkan daya tahan fisik, serta mental yang tidak kalah 'ajaib'.

Lahir prematur, tetapi seiring waktu berjalan Hafshah bisa seperti anak-anak lainnya yang lincah.

Kesabaran pun diuji setiap bulan ketika harus mengevaluasi tumbuh dan kembang yang saat ini masih harus dikejar.

Namun, saya tetap memfokuskan diri dengan anak sendiri dan tidak membandingkannya dengan anak orang lain.

Ia pasti berbeda, terlebih anak prematur memiliki dua usia, yakni usia kronologis dan usia koreksi yang tidak semua orang memahaminya.

(Usia kronologis: usia bayi yang dihitung mulai dari saat dia dilahirkan; Usia koreksi: diperoleh dari usia kronologis dikurangi jumlah jeda minggu atau bulan di mana bayi dilahirkan-Red)

Baca Juga: Petualangan Panjang Memilih Alat Kontrasepsi (KB) Paling Ampuh

Move On and Move Up, Moms!

merawat bayi prematur-3

Foto: Orami/Laela Marlina

Tidak terasa, tanggal 10 Juni Hafshah berusia 1 tahun usia kronologis. Sebagai ibu, tentu saya bangga atas pencapaian yang telah diraih dan masa yang telah dijalani selama setahun.

Ketahuilah Moms, tahun pertama mengasuh anak prematur benar-benar menguras hati, pikiran, tenaga hingga dana.

Baby-shaming dan mom-shaming pun sudah menjadi makanan 'lezat' yang acapkali terjadi saat bertemu dengan orang lain yang tidak memahami tentang kondisi bayi prematur.

Terlepas dari semua itu, ada rasa syukur yang tiada tara karena tetap bisa berkumpul bersama keluarga di rumah. Tapi, semua belum selesai karena masih banyak hal-hal yang menantang di luar sana.

"Nak, maafkan, jika Mama dan Baba belum sempurna mengasuhmu. Terima kasih karena tetap ada, menjadi bagian dari hidup kami yang penuh warna. Semoga Dia selalu sayang pada kita. Amin."

Bagi Moms yang memiliki bayi lahir prematur, saya harap tetap semangat dalam mengasuh sang buah hati. Bangunlah pikiran positif, dan jangan sungkan meminta bantuan suami untuk saling menyemangati.

Uluran tangan orang-orang baik di sekitar kita akan membawa ketenangan dan keberkahan hidup.

Percayalah, bahwa anak adalah anugerah, dan bagaimana pun kondisinya, kita bisa melewatinya. Dia tahu bahwa kita MAMPU! Semangat!

Artikel Terkait