PARENTING
18 Mei 2019

Suami Belum Rencanakan Dana Pendidikan Anak, Ini Cara Menghadapinya

Kesepakatan suami dan istri sangat diperlukan untuk menyiapkan dana pendidikan anak
Artikel ditulis oleh Orami
Disunting oleh Intan Aprilia

Moms, seberapa sering membicarakan tentang keuangan rumah tangga dengan pasangan? Lalu, seberapa dalam pembicaraan tersebut dilakukan bersama pasangan?

Tak dapat dipungkiri, mengelola keuangan rumah tangga bisa menjadi tantangan yang berat. Terlebih lagi semakin banyak pengeluaran ketika sudah mempunyai anak.

Bukan saja kebutuhan sandang dan pangan yang bertambah, namun ada satu hal yang tak boleh dilupakan, yaitu menyiapkan dana pendidikan demi masa depan anak yang cerah.

Keuangan rumah tangga menjadi tanggung jawab suami dan istri, termasuk juga anggaran biaya pendidikan yang harus dibayarkan ketika anak masuk sekolah kelak.

Mungkin saat ini anak masih kecil, belum sekolah, atau malahan baru lahir, namun nyatanya, mempersiapkan dana pendidikan anak harus sejak dini. Hal ini didukung oleh pendapat seorang konsultan perencana keuangan, Annissa Sagita.

“Menyiapkan dana pendidikan anak harus dilakukan secara paralel atau bersamaan. Jangan setengah-setengah karena semakin panjang jangka waktu untuk persiapan dananya, maka akan semakin kecil biaya yang harus dicicil setiap bulan. Tentunya ini akan meringankan beban orangtua,” ujar Annissa lewat bincang-bincang dengan Kulwap Orami Community pada Rabu (20/3) lalu.

Baca Juga: Selain Tabungan Konvensional, Ini 5 Cara untuk Menyiapkan Dana Pendidikan Anak

Hal pertama yang harus dilakukan dalam persiapan dana pendidikan anak adalah mendiskusikan bersama pasangan tentang visi dan misi sebagai orang tua.

Nah, dapat menjadi masalah ketika suami bahkan belum memikirkan untuk menyiapkan dana pendidikan anak. Tentunya hal ini bisa menjadi timpang, karena sebenarnya butuh kesepakatan antar orang tua. Lalu, bagaimana cara untuk mengatasi kondisi ini?

Apa yang harus dilakukan agar suami mau memikirkan tentang persiapan dana pendidikan anak? Simak di sini untuk ulasannya.

Baca Juga: Penghasilan Pas-pasan, Bisakah Tetap Menyimpan Dana Pendidikan?

Pastikan Keuangan yang Stabil Saat Merencanakan Dana Pendidikan Anak

Suami Belum Rencanakan Dana Pendidikan Anak, Ini Cara Menghadapinya-1.jpg

Ada banyak produk keuangan yang bisa digunakan untuk persiapan dana pendidikan anak.

Annissa menyarankan agar memilih produk investasi jangka panjang seperti reksa dana campuran, reksa dana saham, dan saham. Produk ini dipilih ketika masih ada waktu 5 tahun hingga lebih dari usia anak masuk sekolah.

Melihat panjangnya waktu untuk mengumpulkan dana tersebut, umumnya suami belum mau memikirkannya karena keuangan rumah tangga yang belum stabil.

Jadi, bisa saja timbul kekhawatiran suami jika berinvestasi akan mengganggu alur keuangan di dalam rumah tangga. Namun, hal tersebut harus segera dihadapi.

“Harus diskusi dengan suami tentang keuangan rumah tangga yang stabil ini. Mau sampai kapan itu tercapai? Karena faktanya dalam berinvestasi, semakin kita menunda maka semakin tinggi hitungan angka yang harus diinvestasikan,” ujar Annissa, yang memiliki sertifikasi Certified Personal Money Manager (CPMM) di IARFC Indonesia ini.

Utarakan juga pada suami bahwa kenaikan anggaran pendidikan semakin tahun akan semakin bertambah.

Misalkan, saat ini anak berusia 1 tahun, maka ketika ia masuk sekolah nanti, biaya masuk sekolahnya juga akan bertambah lagi. Jadi bisa dikatakan, investasi untuk dana pendidikan memang harus dipaksakan.

Baca Juga: Saat Gaji Istri Lebih Besar dari Suami, Lakukan 4 Hal Ini untuk Menghindari Pertengkaran

Sepakat Tentang Visi dan Misi Tentang Pendidikan Anak

Suami Belum Rencanakan Dana Pendidikan Anak, Ini Cara Menghadapinya-2.jpg

Moms dan pasangan harus memiliki visi dan misi yang sama sebagai orang tua. Visi ini artinya tujuan yang ingin dicapai tentang pendidikan anak di masa depan, mau sekolah seperti apa yang ingin dituju. Misinya melingkupi cara yang harus dilakukan untuk mencapai visi tersebut.

“Ketika sudah ada satu tujuan, akan lebih mudah untuk mencapainya. Perbanyak riset tentang sekolah dan anggaran yang ingin dicapai, bukan saja dari jenjang terdekat namun hingga jenjang tertinggi seperti S1 bahkan S2,” ujar Annissa.

Lalu, yang terpenting adalah memahami produk keuangan yang dipilih seperti jangka waktunya serta profil dan risiko dari keuangan Moms dan pasangan.

Ketika penjelasannya sudah mendalam, maka akan lebih mudah Moms untuk membujuk suami mau berinvestasi demi masa depan anak tercinta, ya!

(DG/INT)

Artikel Terkait