TRIMESTER 3
17 September 2019

Suami Ingin Menemani Istri Melahirkan, Perhatikan 8 Tips Ini

Dads, ini nasihat supaya kuat menghadapi tragedi berdarah di ruang persalinan
Artikel ditulis oleh Ria Indhryani
Disunting oleh Orami

Bukan rahasia umum apabila stres dan kecemasan akan merundung wanita yang hamil terlebih ketika semakin mendekati proses melahirkan.

Kelelahan, perubahan fisik, lingkungan, dan banyak hal lainnya yang bisa jadi penyebab stres pada wanita hamil.

Lantas, siapa yang bisa membantu menyalurkan energi positif pada wanita hamil yang akan melalui proses melahirkan? Tentu saja harapannya adalah suami atau pasangan.

Namun dikutip dari todaysparent.com, sayangnya sulit menemukan data tentang persentase suami yang hadir saat istrinya menjalani proses melahirkan. Tetapi, para ahli setuju bahwa di Barat, hal tersebut merupakan mayoritas yang terjadi.

Sebuah studi 2013 dari Inggris menemukan bahwa hampir semua pasangan mendampingi istrinya pada saat proses melahirkan dan melihat USG.

Meskipun demikian, tidak semua orang yakin bahwa kehadiran suami di ruang bersalin adalah hal yang baik.

Pengkritik yang paling menonjol adalah ahli kebidanan asal Prancis, Michel Odent. Dia menimbulkan kegemparan pada tahun 2009 ketika dia berkata bahwa umumnya, lingkungan kelahiran yang ideal tidak akan melibatkan laki-laki.

Dalam bukunya yang berjudul Childbirth and the Future of Homo Sapiens, alasan dari klaimnya tersebut adalah alasan yang fisiologis.

Menurutnya, kehadiran suami justru akan memperlambat proses melahirkan. Suami juga bisa menyebabkan gangguan pada wanita yang sedang berjuang melahirkan karena hormon stres suami dapat menyebabkan calon ibu menjadi ikut cemas.

Walaupun pandangan Odent mungkin ekstrem, tentu benar bahwa suami yang hadir mendampingi proses melahirkan bukanlah pilihan yang tepat untuk semua pasangan. Memilih suami untuk hadir menyaksikan proses melahirkan sebenarnya harus dibicarakan sejak awal. Banyak suami merasa tertekan karena kehadiran dan dukungannya pada istri sering dipandang sebagai bukti komitmen mereka sebagai orang tua.

Bailey Gaddis, penulis dan doula (pelatih melahirkan), California, mengatakan kondisi suami yang menemani istri menjalani proses melahirkan dipandang sebagai norma seorang 'mitra yang baik'. Tetapi sayangnya, itu bukan situasi yang terbaik untuk semua orang.

"Sangat sulit bagi suami untuk menyembunyikan emosi, terutama jika ada komplikasi. Hal ini dapat meningkatkan kecemasan seorang ibu ketika dia melihat seberapa besar pasangannya dipengaruhi oleh apa yang dia alami," katanya.

Wanita yang akan menjalani proses melahirkan, biasanya cukup rentan dan selalu ingin merasa bahwa keluarganya merupakan keluarga solid dalam segala hal.

Selain itu, suami juga memiliki tekanan emosional sendiri terkait kenyataan bahwa mereka akan memiliki anak.

Baca Juga: Baik untuk Ibu dan Bayi, Ini 8 Kelebihan Persalinan Normal

"Ini dapat mempersulit mereka untuk mendukung istri sesuai yang diharapkan karena adanya ikatan emosional. Akhirnya wanita hamil yang mau menjalani proses melahirkan, akan lebih memilih ibu atau saudaranya sendiri," katanya.

Berikut ini adalah tips bagi Dads dan pria lainnya yang akan menemani sang istri menjalani proses melahirkan, agar kuat menghadapi tantangan di ruang bersalin dan justru tidak membuat istri semakin cemas.

Jangan Terburu-buru ke Rumah Sakit

pergi ke rumah sakit

Foto: babycenter.com

Mengantarkan istri Dads ke RS lebih awal mungkin terasa lebih nyaman dan aman. Tetapi, jika Dads dan Moms muncul terlalu dini, rumah sakit hanya akan mengirim kalian pulang.

Fase awal di mana kontraksi belum terjadi secara terus menerus atau fase dimana kontraksi palsu sering terjadi, merupakan fase yang cukup aman dan santai.

Dads dan istri bisa bersantai di rumah dulu untuk makan, minum, serta istirahat dengan nyaman hingga fase dari proses melahirkan mulai berubah.

Pelajari Tahapan Prosesnya

tahap-kelahiran.jpg

Foto: holtanatomical.com

Bagaimana tahu kapan Dads bisa mengantar istri Dads untuk segera ke rumah sakit? Maka pelajarilah tahapan proses melahirkan yang bisa terjadi.

Pelajari tentang fase-fase proses melahirkan secara normal, apa yang terjadi atau tanda pada tubuh istri Dads, dan pilihan lainnya seperti alasan-alasan untuk operasi caesar.

Mengetahui faktanya secara jelas, akan membuat pengalaman itu tidak menakutkan bagi Dads. Tetap tenang dan fokus untuk membantu istri tercinta.

Siap untuk Menunggu

Menunggu Kelahiran

Foto: tvo.org

Proses melahirkan mungkin mengasyikkan, tetapi bisa juga membosankan. Bahkan, Dads mungkin menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk menunggu.

Selain itu, istri Dads mungkin akan mengalami beberapa jam kontraksi yang semakin menyakitkan sampai tiba saatnya untuk benar-benar mendorong Si Kecil di dalam perut.

Dia juga mungkin membutuhkan bantuan untuk berjalan di aula, karena seringkali wanita yang mau melahirkan merasa lebih baik ketika terus bergerak.

Selain pakaian kasual yang sudah Dads rencanakan untuk momen besar ini, jangan lupa untuk menggunakan sepatu yang benar-benar nyaman.

Bawalah selingan seperti buku, iPad untuk menonton drama korea kesukaan, atau apa pun yang menurut pikiran istri Dads menjadi lebih tenang. Singkirkan pikiran istri dari ketidaknyamanannya dengan membuatnya tetap sibuk.

"Jika pasangan Anda diberi epidural, mungkin ada sedikit kebutuhan dukungan fisik selama tahap awal proses melahirkannya. Sebaliknya, kamu harus siap untuk membuatnya sibuk dengan musik, percakapan, dan permainan kartu misalnya," kata Sarah Kilpatrick, MD, Ph.D, seorang profesor kebidanan dan ginekologi di University of Illinois, Chicago.

Baca Juga: Bisakah Ibu Hamil Hb Rendah Melahirkan Normal?

Jangan Cemas dan Bantu Kontrol Kontraksi

Bantu Kontraksi

Foto: firstcry.com

Akan ada banyak aksi di ruang bersalin ketika memasuki proses melahirkan. Jika terjadi sesuatu yang tidak Dads pahami, jangan takut untuk bertanya kepada perawat. Juga, jangan khawatir jika Dads diminta untuk keluar dari ruangan.

Jika istri Dads disarankan mendapat epidural, Dads akan diminta untuk meninggalkannya sebentar. Ini tidak berarti ada yang salah karena hal itu hanya prosedur standar di banyak rumah sakit.

Selain itu, istri Dads mungkin tidak dapat memonitor kontraksi secara pasti dan detail, tetapi Dads bisa melakukannya. Dads bisa menjelaskan kapan kontraksi akan kembali memuncak dan mulai mereda.

Praktekan Ilmunya

dukung.jpeg

Foto: owletcare.com

Semua latihan pernapasan dan teknik pemijatan yang Dads pelajari ketika mendampingi istri di kelas pendidikan persalinan dapat dipraktekan begitu proses melahirkan di depan mata.

Beberapa wanita tidak suka disentuh, sementara yang lain menyukai ketika punggungnya diusap atau dipijit. Istri Dads mungkin memiliki teknik pernapasan dan relaksasi yang biasa dia lakukan sendiri.

Tetapi ada juga yang membutuhkan bantuan Dads dalam menghitung tarikan napas untuk mengatasi perihnya kontraksi.

"Seorang wanita bisa menjadi panik selama persalinan dan orang terbaik yang mampu menenangkannya adalah Anda. Lagipula, Anda mengenalnya lebih baik daripada orang lain," kata Cathleen Maiolatesi, seorang perawat di Rumah Sakit Johns Hopkins, Baltimore.

Jangan Mengeluh

Jangan mengeluh

Foto: bonobology.com

Carole Arsenault, RN, IBCLC dan penulis The Baby Nurse Bible mengatakan selama proses melahirkan, jangan mengeluh atau bertindak seperti menunjukan bahwa Dads bosan misalnya dengan menguap.

Menurutnya, banyak ayah yang mengeluh tentang sakit punggung karena mereka sudah berdiri di sebelah istri mereka begitu lama.

"Jangan mengeluh tentang sakit kepala atau rasa sakit ringan lainnya. Pengalaman persalinan ini benar-benar fokus pada sang ibu. Seorang wanita yang sedang menjalani proses melahirkan mungkin ingin meremas tangan pasangannya selama kontraksi," ujarnya.

Bersiaplah: Segala Sesuatu Menjadi Berantakan!

giving-birth.jpg

Foto: verywellfamily.com

Proses melahirkan akan menjadi aktifitas berdarah. Istri Dads mungkin akan membuat suara-suara primitif yang belum pernah Dads dengar sebelumnya.

Apapun yang terjadi dan segelisah apapun situasinya, tugas Dads hanya mengatakan, "Kamu baik-baik saja!"

Sebenarnya, bahkan dia tidak memperhatikan kata-kata Dads. Tetapi percayalah bahwa semangat itu bisa diserap oleh tubuhnya agar menjadi energi positif.

Satu hal lain yang mungkin Dads temukan dan mengganggu adalah plasenta yang keluar setelah bayi dilahirkan. Itu akan tampak seperti sepotong hati yang besar.

Happy Ending

happy-ending.jpg

Foto: centrahealth.com

Istri Dads sedang istirahat, bayinya pasti ada di kamar perawatan dan Dads sudah menghubungi semua kerabat.

Apakah sekarang waktunya Dads untuk tidur? Belum. Membawa bunga, coklat atau menulis surat cinta padnya adalah cara khusus untuk menandai momen ini sebagai momen bersejarah.

"Ibu telah melalui banyak hal baik secara fisik maupun emosional. Ini saat yang tepat untuk menunjukkan kepadanya betapa Anda mencintainya," kata Claire Lerner, LCSW, Spesialis Pengembangan Anak dengan kelompok nirlaba Zero To Three, Washington, DC.

(RIE/ERW)

Artikel Terkait