RUPA-RUPA
17 April 2020

Suster di Inggris Meninggal dalam Keadaan Hamil Karena COVID, Bayi Selamat

Mary dinilai sebagai perawat yang berdedikasi
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Adeline Wahyu
Disunting oleh Dina Vionetta

Lagi-lagi virus corona (COVID-19) menelan korban jiwa. Seorang perawat hamil di Inggris, meninggal dunia setelah terinfeksi COVID-19. Untungnya sang bayi, yang diketahui berjenis kelamin perempuan, berhasil dilahirkan dan dalam keadaan baik.

Namanya Mary Agyeiwaa Agyapong (28), telah bekerja sebagai perawat di bangsal umum di Rumah Sakit Universitas Luton dan Dunstable, London, Inggris. Mary meninggal pada hari Minggu (12/04/2020).

Mengutip Channel News Asia, belum diketahui apakah bayinya berada dalam keadaan sehat atau positif COVID-19.

Menjalani Perawatan di Awal April

perawat di Inggris meninggal

Foto: channelnewsasia.com

NHS Foundation Trust dari Bedfordshire Hospitals mengatakan, perawat salah satu rumah sakit di Inggris tersebut dinyatakan positif COVID-19 pada 5 April dan dirawat di rumah sakit tempatnya bekerja di tanggal 7 April.

David Carter, Kepala Eksekutif NHS Foundation Trust, mengatakan Mary sudah bekerja di rumah sakit tersebut selama lima tahun dan ia merupakan anggota tim yang sangat berdedikasi dan dicintai.

Ia juga mengatakan Mary merupakan seorang perawat yang luar biasa dan menjadi contoh yang bagus tentang apa yang diperjuangkan dalam rumah sakit tersebut.

"Doa dan duka cita mendalam dari kami untuk keluarga dan teman-teman Mary pada masa duka ini," lanjutnya.

Penggalangan Dana untuk Suami Mary

perawat di Inggris meninggal

Foto: slideserve.com

Para kolega Mary menyatakan kedukaan mereka atas meninggalnya sang perawat tersebut. Mereka menciptakan sebuah gerakan penggalangan dana untuk mendukung suami Mary dan bayi kecil mereka.

"Saudari kami yang tercinta, bibi, istri, ibu, rekan kerja dan teman Mary Agyeiwaa Agyapong (Mary Mo) dengan sedih meninggalkan kita untuk bersama Tuhan," tulis panitia penggalangan dana tersebut.

Laman tersebut telah berhasil mengumpulkan £ 57.720 (US $ 103.000) atau setara sekitar 1,5 Miliar dalam waktu 18 jam sejak penggalangan diumumkan pertama kali.

"Kamu akan selamanya berada di hati kami Mary. Ingatanmu masih bersama kami dan kami akan menghargainya selamanya sampai kita bertemu lagi," tulis panitia.

Berita kematian perawat di Inggris ini terjadi di tengah kendala yang sedang dihadapi tentang kurangnya Alat Pelindung Diri (APD) yang disediakan untuk staf kesehatan sebagai garis pertahanan depan di Inggris selama pandemi COVID-19.

Artikel Terkait