BALITA DAN ANAK
15 Oktober 2019

Syok Anafilaktik, Reaksi Alergi Parah pada Balita

Pahami cara mengatasinya agar nyawa Si Kecil terselamatkan
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Orami
Disunting oleh Ikhda Rizky Nurbayu

Anak Moms memiliki alergi, terutama terhadap sengatan serangga, makanan, atau obat-obatan tertentu? Jika iya, Moms perlu mengetahui tentang syok anafilatik dan melakukan tindakan antisipasi.

Syok anafilaktik atau anafilaksis adalah reaksi alergi yang parah dan cepat. Sistem imunitas tubuh anak salah merespons zat tak berbahaya sebagai ancaman serius, sehingga memicu pelepasan histamin dan zat kimia lain yang menyebabkan sejumlah gejala. Beberapa gejala di antaranya bisa mengancam nyawa Si Kecil.

Anafilaksis memang mengerikan. Namun, jika ditangani dengan cepat, nyawa anak bisa diselamatkan.

Gejala Syok Anafilaktik

Gejala Syok Anafilaktik.jpg

Foto: cdn-prod.medicalnewstoday.com

Seperti alergi lain, anafilaksis bisa memicu gejala di kulit, sistem pencernaan, sistem pernapasan, dan sistem kardiovaskular. Gejala syok anafilaktik pada balita di antaranya:

  • Bengkak di kulit, bibir, tenggorokan, lidah, atau wajah
  • Mengi (bengek) atau masalah pernapasan yang berat
  • Tenggorokan seperti tercekik
  • Suara serak atau sulit berbicara
  • Hidung tersumbat atau batuk
  • Detak jantung cepat dan tidak beraturan
  • Gatal-gatal, kesemutan, dan kemerahan di kulit
  • Pusing, pingsan, hilang kesadaran
  • Mual, muntah, kram perut, diare
  • Kulit sangat pucat dan berkeringat dan menjadi merah atau biru
  • Linglung

Gejala biasanya muncul dua jam, terkadang dalam hitungan menit atau empat jam kemudian, setelah terkena zat pemicu alergi.

Baca Juga: Makan Kacang Saat Menyusui Tingkatkan Reaksi Alergi Bayi?

Pemicu Syok Anafilaktik

Pemicu Syok Anafilaktik.jpg

Foto: multimedia.3m.com

Seperti ditulis website babycenter.com, ini beberapa zat yang dapat memicu reaksi syok anafilaktik pada balita:

  • Makanan yang paling sering menjadi alergen: kacang-kacangan, terutama kacang tanah, walnut, dan mete; kerang-kerangan (termasuk udang dan lobster); ikan; susu; dan telur. Alergi makanan dari orang tua seringkali menurun kepada anak.
  • Obat-obatan di kelompok penicillin, termasuk antibiotik populer amoxicillin
  • Sengatan dan gigitan serangga, misalnya lebah, tawon, dan semut
  • Lateks, sering digunakan di fasilitas kesehatan
  • Pengawet dan pewarna makanan, misalnya FDC yellow No. 5

Menghadapi Keadaan Darurat

Menghadapi Keadaan Darurat.jpg

Foto: community.kidswithfoodallergies.org

Jika anak Moms memiliki alergi, sebaiknya Moms selalu membawa alat suntik berbentuk pulpen yang mudah digunakan untuk menyuntikkan epinefrin. Sebab, setiap detik sangat berarti jika Si Kecil mengalami syok anafilaktik.

Epinefrin membuat jantung berdetak lebih kuat, mengendurkan otot-otot di saluran pernapasan, mengurangi bengkak, dan meningkatkan aliran darah ke area vital seperti jantung dan otak. Suntikan epinefrin akan menghentikan gejala dalam hitungan menit.

Baca Juga: Waspadai 5 Gejala Anak Alergi Makanan Berikut Ini

Segera hubungi tim medis jika Si Kecil kesulitan bernapas atau pingsan. Baringkan dengan posisi kaki ke atas untuk mengurangi risiko syok. Tenangkan diri Moms dan Si Kecil dengan berbicara padanya. Jangan berikan antihistamin jika anak sulit bernapas atau menelan karena ia bisa tersedak.

Paramedis akan membawa Si Kecil ke rumah sakit. Di sana, ia akan diobservasi selama kira-kira empat jam. Sebab menurut kidshealh.org, gejala serius gelombang kedua (reaksi bifasik) sering terjadi.

Pencegahan

Pencegahan (1).jpg

Foto: healthline.com

Langkah pencegahan yang paling efektif adalah menghindari zat yang umumnya menyebabkan reaksi alergi serius.

Jika balita alergi terhadap makanan tertentu, sedikit saja mengonsumsi makanan tersebut bisa memicu reaksi. Jadi, bacalah label makanan secara saksama. Tanyakan kepada pelayan restoran atau pembuat makanan di rumah teman atau saudara, apakah makanan yang disajikan mengandung bahan-bahan yang perlu Si Kecil hindari.

Baca Juga: 4 Jenis Alergi yang Bersifat Genetik Pada Bayi

Saat bermain di luar ruangan, hindari area yang ada semut, lebah, atau serangga lainnya. Losion penolak serangga biasanya hanya mengusir nyamuk dan tidak berpengaruh pada lebah dan semut. Selain itu, selalu pastikan anak memakai alas kaki untuk mencegahnya tidak sengaja menginjak serangga.

Pastikan juga pengasuh anak, baik nanny, saudara, atau pekerja daycare tempat anak dititipkan, mengetahui alergi anak dan apa yang harus dilakukan jika reaksi alergi terjadi.

Artikel Terkait