PARENTING
12 September 2019

Tantangan jadi Ibu di US : Konflik Antara Dekat Anak Atau Berkarier

Ternyata tinggal di Negeri Paman Sam demi menemani suami yang mendapat tawaran kerja sekaligus demi mengobati penyakit anak tercinta penuh perjuagan! Jangan lewatkan cerita Angelyn berikut.
Artikel ditulis oleh Orami
Disunting oleh Prita Apresianti

Sharing dari Angelyn Ardiwinata Liem, Mom dari Asher Jaskie Miao, 3 tahun dan Darrell Liem Miao, 4 bulan

Saya menikah tahun 2013 dan bekerja di Jakarta sampai April 2016. Di bulan April 2016, Anak pertama saya, Asher, lahir dan didiagnosa mengidap penyakit tracheal stenosis yang langka. Menurut team dokter, Asher harus operasi. Di Jakarta, menduga ia mengidap kanker. Dan karena tidak yakin, saya dan suami membawa Asher ke Singapore.

Hasil diagnosanya, Asher mengidap tracheal stenosis yang sangat parah dan mereka tak yakin bisa sukses mengoperasi Asher. Karena asuransi kesehatan Asher ternyata tidak mencakup penyakit bawaan, akhirnya kami memutuskan kalau opsi terbaiknya adalah pergi ke Amerika, tepatnya Texas, di mana keluarga suami saya berdomisili.

Dihadang Tantangan Fisik

IMG_20190618_193504.jpg

Setelah 9 bulan menetap di Texas untuk menjalani pengobatan Asher, lalu kami pindaj ke Washington D.C, karena suami mendapat tawaran kerja di ibukota Amerika Serikat tersebut. Di sana, saya tidak punya helper sama sekali. Saya bertahan tanpa nanny dan ART. Semua hal saya urus sendiri. Mulai dari membersihkan rumah 3 tingkat dengan 4 kamar 3.5 kamar mandi, memasak mulai dari sarapan sampai makan malam, mencuci dan melipat baju, sampai yang pasti yaitu menjaga anak dan mengurus suami.

Apalagi sekarang saya punya bayi umur 4 bulan, jadi di malam hari biasanya saya akan bangun paling tidak 3 kali untuk menyusui, karena saya merasa tidak nyaman memberikan susu di botol ataupun pumping.

Baca Juga : Serunya Menjalani Kehamilan Pertama Jauh dari Suami sambil Berjuang Mendapatkan Beasiswa

Ada Pula Tantangan Mental

Drama yang saya rasakan rasanya tak berhenti sampai di situ. Saya juga sering merasa kesepian karena tidak ada keluarga satupun yang tinggal dekat saya di Washington DC. Yang terdekat, ada keluarga suami. Tapi mereka tinggal di Texas, dan hanya bisa datang berkunjung beberapa bulan sekali. Apakah saya punya teman di sini? Tentu saja saya punya beberapa teman baru disini, tapi tetap saja rasanya akan lebih menyenangkan kalau ada anggota keluarga yang tinggal dekat. Kalau ditanya siapa yang paling saya rindukan, sudah pasti saya merindukan Ibu saya ada di samping saya.

Baca Juga : Siapa Bilang jadi IRT Bisa Santai? Ternyata Penuh Tantangan Lho Moms

Definisi “Sayang Anak” Menurut Saya

IMG_20180815_184803.jpg

Karena saya sayang anak, dan definisi saya soal sayang anak adalah dengan tidak meninggalkannya dengan orang lain alias membesarkan anak saya sendiri, akhirnya saya memutuskan untuk tidak mencari pekerjaan di luar lingkungan anak saya.

Saya pun memilih bekerja sebagai guru di Montessori pre school tempat anak saya bersekolah. Awalnya, saya diperbolehkan mengajar di kelas anak saya, tetapi kemudian karena guru-guru lain tidak nyaman, saya sering diminta membantu kelas kelas lain. Sebenarnya pilihan saya memasukkan anak di situ bukan karena dia perlu sekolah, tetapi lebih karena saya tetap bisa berada disampingnya sambil saya bekerja. Akhirnya saya memutuskan untuk tidak meneruskan anak saya disitu, dan saya pun mengambil personal leave yang cukup lama.

Tetapi seperti semua Moms tahu, jadi IRT full time dan menjaga anak di rumah itu sebenarnya lebih susah daripada bekerja di luar. Terutama karena anak pertama saya, super aktif dan suka sekali berbicara. Ditambah saya sangat ambisius, ingin anak saya tetap bisa bergaul dengan anak-anak lain seusianya, tetap melakukan kegiatan yang baru dan fun seperti atau lebih yang dia dapatkan di preschool.

Tak heran, sayapun seringkali sibuk sendiri menyiapkan kegiatan kegiatan di dalam dan luar rumah. Misalnya, saat saya akan membuat kue atau memasak, saya akan membiarkan anak saya ikut "membantu". Saya juga membiarkannya bereksperimen sendiri, misalnya ketika dia mau membawa salju masuk ke dalam rumah dan mencampurnya dengan pewarna makanan, atau bermain dengan baking soda dan cuka.

Sudah pasti, jadinya saya jadi sangat repot, karena rumah sering berantakan. Tapi karena latar belakang saya Montessori, maka saya membiarkannya. Saat beraktivitas di luar rumah, saya suka membawanya naik kereta Metro (walaupun sebenarnya saya bisa naik mobil) ke downtown Washington DC. Atau bisa saja hanya sekadar jalan-jalan ke sekitar tempat tinggal saya untuk menghadiri segala macam kegiatan dari National Portrait Gallery, National Zoo, menjenguk ayahnya di kantor, naik bus umum, hiking di Nature Center, menonton teater anak, dan sebagainya. Di jalan pun saya membiarkannya memegang kartu Metro, berjalan sendiri ketika keluar masuk kereta, bahkan tak jarang saya minta anak saya yang memutuskan kami berjalan ke arah mana. Hasilnya? Tak jarang perjalanan yang seharusnya hanya memakan waktu 20 menit bisa sampai menjadi 1 jam atau lebih.

Baca Juga : Dengan Senang Hati, Saya Berbagi Kisah Hamil dan Melahirkan di Denmark

Tantangan Ingin Berkarier Remote Alias Tetap di Rumah

IMG_20190808_102126.jpg

Karena saya punya cita-cita tetap berkarier, maka saya pun tak pernah lelah berusaha cari peluang. Di malam hari saya belajar membuat aplikasi Android. Saya juga terus mencari pekerjaan yang bisa saya kerjakan dari rumah. Saya pernah punya banyak jadwal interview. Pernah pula dapat tawaran bekerja di malam hari sampai subuh, saat anak saya tengah tertidur lelap. Ada juga tawaran menjadi konsultan dari rumah, tetapi akan sering business trip, yang artinya akan meninggalkan anak seharian di daycare.

Hati saya tetap merasa konflik dengan aneka piliha di atas, tapi di sisi lain, saya punya impian terus berkarier. Apalagi karena saya bukan berasal dari keluarga yang kaya, saya juga ingin bisa mendapatkan penghasilan tambahan untuk keluarga sekaligus membantu orang tua saya.

Terus terang sampai saat ini saya belum punya win-win solution, terus dekat dengan anak atau memilih berkarier. Tetapi tentunya saya wajib menentukan pilihan. Dan selama tiga tahun terakhir ini pilihan saya adalah menyayangi anak dengan tidak bekerja full time di luar. Saya pikir pekerjaan remote pun akan susah dilakukan jika saya tak membiarkan anak main sendiri atau dijaga orang lain di rumah. Yang paling mungkin, pekerjaan remote bisa dilakukan malam hari setelah anak anak sudah tidur. Namun adakah yang bisa menghasilkan pendapatan tinggi?

Kuncinya Time dan Balance

Di akhir kata, saya sangat bersyukur bisa menjadi mom yang bisa hands-on seharian menjaga anak. Mungkin jawaban dari konflik saya ini adalah time dan balance. Tidak selamanya saya akan menjadi ibu rumah tangga full time. Sebentar lagi anak anak saya akan berumur 5 tahun, ia akan masuk sekolah. Nah, mungkin saat itulah saya bisa kembali meneruskan karier, dengan bekerja di pagi dan siang hari. Untuk saat ini, yang terbaik saya mencoba meraih balance dengan bekerja di malam hingga dini hari. Semoga ini adalah pilihan terbaik, ya Moms.

(Angelyn/ PAS)

Artikel Terkait