TRIMESTER 1
24 September 2019

Tempat Kerja yang Jauh Meningkatkan Risiko Berat Badan Bayi Rendah?

Ternyata, semakin lama perjalanan, studi menemukan, semakin buruk dampaknya.
Artikel ditulis oleh Dina Vionetta
Disunting oleh Dina Vionetta

Penelitian terbaru menunjukan kalau perjalanan ibu hamil dengan jarak pulang pergi 50 mil (80 km) ke tempat kerja dapat berdampak negatif pada bayi yang belum lahir.

Sebuah penelitian baru telah mengeksplorasi bahaya perjalanan panjang pada wanita hamil dan bayi mereka yang belum lahir.

Semakin lama perjalanan, studi menemukan, semakin buruk dampaknya.

Studi yang diterbitkan oleh para peneliti di University of Wisconsin-Madison dan Lehigh University, menunjukkan bahwa risiko wanita dengan perjalanan jauh ke tempat kerja ini lebih tinggi soal melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah di bawah 5,5 pon (2,5 kg).

Selain itu, janin juga berisiko dengan pertumbuhan intrauterin terbatas, yakni suatu kondisi di mana janin tidak tumbuh secepat yang diharapkan, yang umumnya terkait dengan ibu yang menderita diabetes, tekanan darah tinggi, kekurangan gizi atau infeksi termasuk sifilis.

Lebih buruk lagi, untuk setiap 10 mil (16 km) jarak perjalanan yang ditambahkan ke perjalanan panjang tersebut, kemungkinan berat badan bayi rendah saat lahir, naik 0,9%. Kemungkinan pertumbuhan intrauterin terbatas juga naik 0,6%, menurut penelitian, yang mengamati wanita hamil di New Jersey.

Baca Juga: Jurus Ampuh Bertahan Hidup sebagai Ibu Bekerja dengan 2 Batita tanpa ART

Memang tidak berhubungan langsung, tetapi ada kemungkinan bahwa wanita hamil dengan perjalanan panjang lebih mungkin kehilangan janji dengan dokter dan menunda perawatan.

Di antara wanita-wanita ini, 15 persen melewatkan atau menunda pemeriksaan prenatal pertama mereka atau menunda kunjungan prenatal pertama mereka, bahkan beberapa bahkan sampai trimester ketiga.

Tingkat stres ibu yang diperburuk oleh perjalanan pulang pergi mungkin juga menjadi faktor.

Para peneliti mengatakan mereka berharap penelitian ini dapat mengubah kebijakan untuk memperpanjang cuti hamil dalam rangka memperpanjang periode prenatal.

"Untuk wanita hamil dengan perjalanan panjang, cuti sangat penting," catat mereka.

Baca Juga: Raisa Siap Comeback, Ini 4 Cara Kembali Semangat Kerja Setelah Cuti Melahirkan

Kurangnya Dukungan

child-couple-embrace-807982 (1).jpg

"Tekanan yang diberikan masyarakat kita pada ibu yang bekerja sulit untuk dihargai sampai mereka benar-benar mengalaminya sendiri," Dr. Sally E. Shaywitz, seorang dokter anak, dalam sebuah artikel Majalah New York Times 1973 berjudul Catch 22 for Mothers.

Dalam artikel itu, Shaywitz menggambarkan keadaan bagi para ibu yang bekerja pada saat itu, termasuk tekanan untuk bekerja seperti laki-laki agar dapat bersaing di dunia kerja.

Pada jamuan makan malam yang dihadiri Shaywitz dengan kolega-kolega wanita, misalnya, pembicaraan didominasi para perempuan yang saling berlomba-lomba sesumbar siapa yang paling cepat meninggalkan bayi mereka dan kembali bekerja.

"Sayangnya, wanita berlomba-lomba memenuhi ekspektasi masyarakat. Jika ingin menjadi ibu dan bekerja, kepuasan biasa didasarkan pada seberapa banyak seorang perempuan dapat menyangkal insting keibuannya," tulisnya.

Baca Juga: Ibu Hamil Yuk, Mengenal Lebih Jauh Parasetamol

Dalam banyak hal, Shaywitz lebih maju dari zamannya, pikirannya lebih sesuai dengan feminisme dewasa ini.

"Keinginan seorang ibu untuk bersama anaknya harus diakui sebagai kebutuhan yang sah," tulisnya.

"Wanita seharusnya tidak malu meminta waktu tambahan kepada atasan untuk bersama anak-anak mereka." tutupnya.

(TPW)

Artikel Terkait