PARENTING
3 September 2019

Tenang Saja, Begini Caranya Tangani Krisis Identitas sebagai Ibu Baru

Ibu baru alias wanita yang baru punya anak rentan alami krisis identitas. Tangani segera sebelum mendatangkan lebih banyak masalah, Moms.
placeholder

Foto: shutterstock

placeholder
Artikel ditulis oleh Orami
Disunting oleh Prita Apresianti

“Wah, senangnya sekarang sudah jadi resmi jadi ibu!” begitu mungkin yang sering didengar ibu baru ketika orang-orang datang menjenguk ia dan bayinya. Tapi apakah benar, semua wanita senang menjadi ibu? Jawabannya: belum tentu!

Apalagi kalau sudah merasakan seperti apa lelah dan stresnya mengurus bayi. Sepulang dari rumah sakit dan mulai menghadapi semuanya sendiri misalnya. Suami, atau anggota keluarga lain, mungkin sudah memberi bantuan. Namun tak berarti semuanya menjadi mudah atau terasa normal untuk ibu. Sebaliknya, bisa jadi semuanya terasa berubah! Apakah ini namanya krisis identitas? Bisa jadi!

Ini bukan soal apakah seorang ibu merencanakan untuk punya bayi atau tidak. Juga ada hubungannya dengan rasa cinta dan bagaimana ibu baru bersyukur dengan kehadiran si kecil. Ini soal krisis identitas! Soal meskipun sangat mencintai bayi yang dilahirkannya, tapi ibu baru bisa saja merasa kehilangan jati diri. Atau merasa terbebani dengan peran barunya, sekaligus merasa bersalah setiap kalo berpikir tidak ingin menjadi seorang ibu sepanjang hari.

Echa, sebut saja begitu panggilannya, mengakui hal ini. Tak lama setelah melahirkan bayi pertamanya, kepada seorang sahabat ia berkata, “Gue yakin bakal menikmati dunia dan identitas sebagai seorang ibu, tapi itu sebelum gue benar-benar jadi ibu!”

Sementara Puti, ibu satu orang anak berusia 8 bulan, dengan resah mengatakan, “Aku tuh, kayak enggak tahu lagi aku ini siapa. Iya, aku sekarang bundanya Aksara, ibu satu anak. Tapi kok kayaknya enggak hepi juga dengan identitas ini.”

Mungkinkah Anda juga merasakan apa yang jadi keresahan Echa dan Puti juga? Bila ya, coba baca artikel ini hingga habis agar tak hanyut di tengah krisis ibu baru.

Jangan jadikan anak segalanya

Begini Cara Tangani Krisis Identitas sebagai Ibu Baru Alt 1

Foto : pixabay.com

Salah satu yang jadi sumber krisis identitas ibu baru adalah menjadikan anak segalanya bak pusat semesta. Ini tidak sehat, Moms! Sebaiknya, pisahkan diri kita dari peran sebagai ibu setiap ada kesempatan. Ini bisa jadi modal untuk membuat dunia terasa normal kembali.

Kalau suka menulis misalnya, jangan berhenti menulis saat sudah punya anak. Jadwalkan waktu khusus untuk tetap melakukannya Begitu juga kalau misalnya kita suka manggung untuk menari atau tampil bersama teman satu band. Sisipkan waktu, ini penting untuk mengatasi kritis identitas khas ibu baru. Benar sih, peran ibu kini menjadi bagian dari identitas diri kita. Tapi bukan satu-satunya.

Baca Juga : Moms Ingin Punya Me-Time? Apakah Terlalu Egois? Tidak Sama Sekali

Tak perlu ngotot melakukan semuanya

Begini Cara Tangani Krisis Identitas sebagai Ibu Baru Alt 2

Foto : RunMD.com

Semua orang senang mendapat bantuan. Tapi nyatanya, banyak ibu baru yang tanpa sadar ngotot melakukan semuanya sendiri dan menolak bantuan dari sekitarnya, lho! Terutama ibu baru yang tidak bekerja di luar rumah.

Ibu mungkin berpikir, "Saya bisa melakukannya sendiri, kok. Lagipula mumpung saya di rumah juga, kenapa enggak?"

Kalau terus seperti ini, tanpa sadar kita tidak memberi ruang untuk pasangan atau keluarga yang ingin ikut berkontribusi membesarkan anak kita, Moms. Lalu akhirnya capek sendiri atau kewalahan. Konyol, kan?

Tidak suka cara mereka melakukannya? Jelaskan baik-baik bagaimana mereka bisa memperbaikinya. Atau, terima saja apa adanya. Tidak perlu semuanya serba sempurna. Dengan membiarkan mereka membantu, ibu bisa menemukan lebih banyak waktu untuk diri sendiri.

Baca Juga : Support System Terbaik untuk Para Ibu

Mari definisikan kembali kata "ibu"

Begini Cara Tangani Krisis Identitas sebagai Ibu Baru Alt 3

Foto : freepik.com

Apa sih, definisi “ibu” yang ada di benak Moms? Coba pikirkan dan definisikan kembali. Apakah “ibu” sejenis makhluk tanpa pamrih, yang selalu penuh energi, tak pernah kenal lelah, tidak perlu tidur, tidak bisa sakit, selalu mengutamakan orang lain, dan bisa terus tersenyum bahagia sepanjang hari? Bila memakai definisi seperti tak heran kalau kita mengalami krisis identitas atau jadi stres sendiri.

Baca Juga : 5 Manfaat Mengajak Anak Beraktivitas di Alam Bebas, Dapat Mengurangi Stres!

Hindari juga membuat definisi yang terlalu banyak terinsipirasi dari selebgram! Kita kan, tidak tahu seperti apa sebenarnya kehidupan mereka di luar Instagram? Jadi, kenapa tidak membuat definisi sendiri? Definisi yang nyata, yang sesuai dengan kondisi kita. (Anindita G/ Prita)

Artikel Terkait