TRIMESTER 1
21 November 2019

Mengobati Alergi pada Ibu Hamil dengan Cara yang Aman

Pindah ke kota, daerah lain atau rumah baru, hingga memiliki hewan peliharaan dapat memicu alergi.
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Orami
Disunting oleh Dina Vionetta

Moms, simak penjelasan mengenai alergi pada ibu hamil ini, yuk.

Michael Blaiss, mantan presiden American College of Allergy, Asthma and Immunology, mengatakan bahwa 30 hingga 40 persen populasi mewarisi kecenderungan genetik alergi.

Beberapa ahli berkata bahwa orang yang alerginya dimulai pada usia dewasa tidak terpapar alergen saat anak-anak sehingga sistem kekebalan tubuh mereka terlalu sensitif.

Pindah ke kota, daerah lain atau rumah baru, hingga memiliki hewan peliharaan dapat memicu alergi.

Terkena alergen ketika sistem kekebalan tubuh melemah, contohnya setelah infeksi virus atau selama kehamilan, juga dapat memicu alergi. Tidak jarang wanita mengalami alergi setelah kehamilan.

Dikutip dari jurnal World Allergy Organization Journal, wanita dari lima wanita hamil menderita kondisi alergi. Untungnya, ada beberapa cara meredakan alergi pada ibu hamil dengan manjur.

Bagaimana Cara Mengurangi Alergi dari Udara?

anticipation-baby-beautiful-160624.jpg

Foto: pixabay.com

Di belahan bumi utara, dari Agustus hingga Oktober, serbuk sari ragweed dan spora jamur melayang di udara.

Pada waktu tersebut, wanita hamil mungkin mengalami hidung tersumbat, bersin, pilek, atau mata gatal atau merah.

Bisa dibilang, keadaan ini sama memicu alergi pada ibu hamil dengan semakin tingginya polusi di kota-kota besar Indonesia.

Gejala-gejala ini menambah parah alergi yang disebabkan oleh pembengkakan lubang hidung terkait kehamilan.

Biasanya, sistem kekebalan tubuh merespon ancaman, seperti bakteri berbahaya, dengan melepaskan bahan kimia untuk menghancurkannya.

Alergi terjadi ketika sistem kekebalan tubuh bereaksi dengan cara yang sama terhadap zat yang tidak berbahaya seperti serbuk sari atau bulu binatang.

Garis pertahanan pertama adalah menghindari kontak dengan zat yang memicu alergi pada ibu hamil.

Jika sang ibu alergi terhadap serbuk sari, jamur, atau debu polusi, misalnya, ikuti langkah-langkah ini untuk mengurangi paparannya.

  • Alih-alih membuka jendela, gunakan AC. Bersihkan filter di unit rumah sebulan sekali. Hindari aktivitas di luar ruangan ketika jumlah alergen tinggi .
  • Selain itu, ganti pakaian setelah menghabiskan waktu di luar ruangan, dan mandi untuk menghilangkan alergen dari rambut dan kulit. Jangan menggantung seprai dan pakaian di luar agar kering.
  • Mintalah orang lain menyapu daun atau memotong rumput.

Baca Juga: Patut untuk Diikuti, Ini 5 Cara Mengetahui Risiko Alergi pada Bayi

Bagaimana Cara Mengurangi Alergi dalam Ruangan?

beautiful-belly-belly-button-704584.jpg

Foto: pixabay.com

Jika gejala alergi pada ibu hamil terjadi menahun, mungkin itu disebabkan oleh alergen dalam ruangan.

Penyebab umum adalah jamur, tungau debu, kecoak, dan bulu hewan peliharaan.

Hal ini dapat dikurangi dengan menggunakan vakum dengan filter HEPA.

Selain itu, jauhkan hewan peliharaan dari kamar dan mandikan hewan peliharaan seminggu sekali untuk mengurangi alergen.

Apakah Obat Alergi Aman Selama Kehamilan?

africa-african-baby-belly-2781219.jpg

Foto: pixabay.com

Jika alergi mengganggu kegiatan, ibu hamil harus segera pergi ke dokter.

Meskipun yang terbaik adalah menghindari obat yang tidak perlu selama trimester pertama, banyak obat alergi yang cukup aman.

Semprotan hidung bisa meredakan hidung tersumbat dan tidak akan membahayakan ibu hamil dan janin.

Dokter mungkin juga merekomendasikan antihistamin atau dekongestan.

Chlor-Trimeton adalah salah satu antihistamin bebas yang paling aman tetapi dapat menyebabkan kantuk.

Antihistamin seperti Claritin dan Zyrtec juga aman untuk wanita hamil dan juga tersedia tanpa resep dokter.

Banyak dokter merekomendasikan Afrin, semprotan hidung yang dijual bebas.

Jika ibu hamil sudah mendapatkan suntikan alergi, tidak apa-apa juga untuk melanjutkan minum obat.

Baca Juga: Kenali Berbagai Gejala dan Cara Mengatasi Alergi Dingin!

Bagaimana Asma dan Mual Diobati Selama Kehamilan?

girl-hands-heart-895511.jpg

Foto: pixabay.com

Antara 4 dan 8 persen wanita hamil menderita asma, kondisi pernapasan di mana saluran udara menjadi menyempit saat terkena pemicu tertentu.

Gejala termasuk sesak dada, sesak napas, dan batuk terus-menerus.

Sekitar 70 persen pengidap asma juga memiliki alergi. Pemicu asma termasuk udara dingin, olahraga, bau menyengat, dan iritasi paru-paru seperti asap rokok.

Asma yang tidak terkontrol dapat membuat bayi kekurangan oksigen, meningkatkan risiko kelahiran prematur, pertumbuhan yang buruk, dan berat lahir rendah.

Ini juga dapat berkontribusi terhadap preeklampsia, suatu bentuk tekanan darah tinggi yang dapat mengakibatkan pertumbuhan janin yang buruk dan kelahiran prematur.

Untungnya, sebagian besar obat asma aman selama kehamilan.

Jika memiliki gejala ringan sesekali, mungkin perlu perawatan dengan semprotan bronkodilator inhalasi seperti Ventolin.

Beberapa wanita dengan gejala sedang hingga berat mungkin memerlukan bronkodilator yang bekerja lama seperti Serevent.

Dokter lebih suka mengobati asma dengan obat-obatan yang dihirup karena sangat sedikit obat yang mencapai janin.

Tingkat keparahan gejala juga dapat berubah selama kehamilan.

Banyak pasien asma yang mengalami sebah, dan meskipun hubungannya tidak jelas, sebah dapat menyebabkan gejala memburuk.

Untuk meringankan sebah dan asma, tidurlah dengan kepala lebih tinggi dari badan, makan makanan kecil dan sering, hindari makanan dalam waktu dua jam sebelum tidur, dan minum antasid yang dijual bebas.

Gejala alergi dan asma dapat menyebabkan ketidaknyamanan tetapi dalam kebanyakan kasus tidak akan menyakiti bayi.

Minumlah obat asma dan alergi pada ibu hamil sesuai petunjuk, dan hindari pemicu untuk meredakan gejala dan mengurangi kebutuhan Moms akan obat.

Bisakah Uji Alergi Selama Kehamilan?

adult-bed-bedroom-935742.jpg

Foto: pixabay.com

Jika memiliki gejala alergi tetapi tidak yakin apa yang memicu alergi tersebut, tes alergi dapat membuat perawatan lebih efektif.

Inilah yang dikatakan para ahli tentang tes alergi pada ibu hamil.

Tes ini, juga disebut RAST, benar-benar aman untuk ibu dan bayi.

"Ini dilakukan secara topikal, dan karenanya tidak ada risiko reaksi alergi parah," kata Mike Tingale, juru bicara untuk Yayasan Asma dan Alergi Amerika.

Prosedur ini cukup sederhana, cukup dengan menggunakan sampel sekitar 20 alergen.

Baca Juga: Moms, Waspadai 4 Makanan Pemicu Alergi Pada Balita Ini

Nah, itulah prosedur yang bisa dilakukan untuk mengurangi gejala alergi pada ibu hamil. Apa saja yang sudah Moms lakukan untuk menanggulangi alergi Moms?

(TPW/DIN)

Artikel Terkait