BALITA DAN ANAK
14 Juli 2020

Sensory Intregation, Salah Satu Terapi Terpenting pada Autisme

Baik digunakan pada anak usia 2-5 tahun
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Adeline Wahyu
Disunting oleh Ikhda Rizky Nurbayu

Kebanyakan dari kita secara tidak sadar belajar untuk menggabungkan indera yang kita miliki, seperti penglihatan, suara, bau, sentuhan, dan rasa untuk memahami lingkungan kita.

Sayangnya anak-anak dengan kondisi autisme akan mengalami kesulitan belajar untuk hal ini. Akibatnya, ruang permainan mereka terbatas pada beberapa kebiasaan yang mereka gunakan ketika berinteraksi dengan orang lain.

Terapis okupasi sering menggunakan terapi sensory intregation untuk membantu anak autis bermain seperti anak-anak lain.

Baca Juga: Kenali Ciri-Ciri Anak Autisme yang Tidak Boleh Diabaikan!

Terapi sensory integration ini melibatkan penempatan anak di ruangan yang dirancang khusus untuk merangsang dan menantang semua indera. Selama sesi, terapis bekerja sama dengan anak untuk mendorong gerakan di dalam ruangan.

Terapi ini disebut-seut sebagai salah satu terapi terpenting untuk anak dengan autisme. Mengapa? Simak penjelasannya di bawah ini yuk.

Terapi Sensory Integration

terapi sensory integration

Foto: Orami Photo Stock

Terapi integrasi sensorik didasarkan pada asumsi bahwa anak terlalu atau kurang berstimulasi dengan lingkungan. Oleh karena itu, tujuan terapi sensory integration ini adalah untuk meningkatkan kemampuan otak anak untuk memproses informasi sensorik sehingga anak akan berfungsi lebih adaptif dalam kegiatan sehari-harinya.

Menurut sebuah penelitian, disebutkan bahwa terapi sensory integration ini dapat merngurangi perilaku-perilaku negatif pada anak autis umur 2-5 tahun.

“Anak menjadi tenang, tidak hiperaktif, dan kontaknya pun jadi lebih baik,” jelas Prof. Dr. dr. Hardiono D. Pusponegoro, Konsultan Saraf Anak Klinik Anakku Check My Child.

Menurutnya, terapi sensory integration dapat meningkatkan perilaku positif pada anak autis sehingga, naknya tenang dan interaksi anak membaik.

Baca Juga: 4 Manfaat Terapi Musik untuk Balita Autis, Seru dan Menyenangkan!

Namun Prof. Hardiono menyarankan bahwa terapi sensory integration ini akan lebih baik dilakukan pada anak kecil atau balita sebagai terapi awal, di mana terapi behavior belum dapat dilakukan.

Akan tetapi apabila Si Kecil sudah menginjak usia 5 tahun ke atas, tidak disarankan menggunakan terapi sensory integration lagi. Harus mulai masuk terapi behaviour untuk membantu akademis anak.

Jenis terapi ini dirancang untuk membuat anak ingin berlari ke dalamnya dan bermain. Selama terapi ini berlangsung, anak akan berinteraksi satu-satu dengan terapis okupasi dan melakukan aktivitas yang menggabungkan sensorik anak dengan gerakan.

Aktivitas Sensory Integration yang Bisa Dilakukan oleh Anak

terapi sensory integration

Foto: drdevon.com

Apa saja aktivitas yang dilakukan anak yang termasuk dalam sensory integration? Berikut contohnya.

  • berayun di tempat tidur gantung (bergerak melintasi ruang),
  • menari dengan musik (untuk suara),
  • bermain dalam kotak yang diisi dengan kacang (melatih sentuh),
  • merangkak dalam terowongan (menyentuh dan bergerak melintasi ruang),
  • memukul bola (koordinasi mata-tangan),
  • menyeimbangkan balok (mempelajari keseimbangan).

Baca Juga: Patut Disimak dan Diikuti, Ini 3 Cara Mengatasi Tantrum pada Anak Autis

Anak akan dibimbing melakukan semua kegiatan ini dengan cara yang merangsang dan menantang, sehingga fokusnya adalah pada integrasi gerakan dengan indera yang berbeda.

Orang tua dapat menggabungkan integrasi sensorik ke dalam rumah dengan memberikan anak kesempatan untuk bergerak dengan cara yang berbeda dan merasakan hal yang berbeda. Sebagai contoh, ayunan di rumah.

Nah, jika Moms memiliki special kids dan ingin mencoba memberikan Si Kecil terapi sensory integration, bisa kunjungi Instagram @anakkuid atau laman www.anakku.id untuk informasi lebih lanjut ya.

Artikel Terkait