TRIMESTER 3
22 September 2019

Ternyata, ini 10 Hal Tentang Ruang Bersalin yang Tidak Diduga Ibu Hamil

Tak cuma soal proses melahirkannya, Moms juga harus tahu soal ruang bersalin. Lengkap!
placeholder

Foto: shutterstock

placeholder
Artikel ditulis oleh Orami
Disunting oleh Prita Apresianti

Memasuki trimester ketiga kehamilan, ibu hamil biasanya sudah survei klinik atau rumah sakit yang akan dipilihnya untuk bersalin. Tidak hanya rumah sakitnya, mungkin ibu juga sudah melihat-lihat seperti apa kamar perawatan hingga kamar bayinya.

Bagaimana dengan ruang atau kamar bersalinnya? Ini biasanya tidak bisa disurvei, Moms. Kemungkinan besar, kita hanya bisa melihat pintu dan tulisannya saja. Ibu hamil mungkin juga tidak diberitahu (dan tidak terpikir untuk bertanya) apa-apa saja yang sesungguhnya akan terjadi di dalam sana.

Tidak heran kalau saat waktu bersalin -terutama pada persalinan normal, tiba ada hal-hal yang tidak diduga atau tak pernah dibayangkan sebelumnya oleh ibu hamil.

Mau tahu apa saja?

1. Ruang bersalinnya tidak cuma satu

Bukan, Moms, bukan karena pasiennya ada banyak. Yang dimaksud, saat tiba di rumah sakit untuk bersalin kemungkinan besar ibu akan dibawa dulu ke ruang pertama atau ruang observasi untuk melalui tahap pertama persalinan atau yang biasa disebut Kala 1. Ini adalah fase di mana berlangsungnya pembukaan serviks, mulai dari bukaan 0 sampai 10. Jadi, bayi tidak lahir atau dikeluarkan di ruangan pertama ini.

Seperti apa ruangannya? Bisa jadi seperti kamar perawatan di rumah sakit yang biasa kita lihat atau seperti suasana ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) di mana ada beberapa dipan pasien berjejer dengan tirai penyekat.

Bila bukaan sudah lengkap (atau ada instruksi khusus dari dokter terkait kondisi pasien), barulah ibu dibawa ke ruangan berikutnya untuk melahirkan atau mengeluarkan bayi.

Baca Juga : Apa Bedanya Ibu Baru dan Remaja Galau?

2. Tidak bisa bawa rombongan

10 Hal Tentang Ruang Bersalin yang Tidak Diduga Ibu Hamil - Alt 1

Foto : babycenter.com

Di ruang observasi tempat jalani persalinan Kala 1, akan ada perawat dan bidan yang terus memerhatikan ibu hamil. Tapi ibu tidak boleh membawa rombongan! Umumnya pihak rumah sakit hanya mengizinkan ibu membawa satu orang pendamping saja ke dalam ruangan ini. Suami misalnya.

Bila ada anggota keluarga lain yang ingin menemani atau menjenguk ibu, dapat masuk secara bergantian atau dengan izin dari petugas ruang bersalin.

3. Mungkin ada tetangga

Di ruang bersalin tempat melalui tahapan Kala 1, mungkin ibu punya ‘tetangga’ alias pasien lain yang juga akan bersalin dan mengisi ranjang-ranjang lain di kamar yang sama. Jumlah tetangga ini tergantung pada masing-masing rumah sakit. Misalnya 4 hingga 5 pasien per kamar.

Siapa yang akan lebih dulu masuk ke ruang bersalin kedua untuk melahirkan bayinya? Bukan berdasarkan urutan kedatangan, lho! Tapi berdasarkan bukaan serviks yang sudah tercapai atau kesiapan ibu untuk menjalani Kala 2.

Yang perlu jadi catatan, ibu mungkin saja mendapat tetangga yang berbeda-beda karakternya saat menghadapi serangan kontraksi atau rasa sakit menjelang persalinan. Ada yang menjerit-jerit atau terus menangis selama menjalani tahap Kala 1 misalnya. Tetaplah tenang dan jangan biarkan hal ini membuat Anda terpengaruh, cemas berlebih atau panik ya, Moms!

4. Kehadiran infus dan kateter

Jangan kaget kalau perawat memasang infus dan kateter di ruang bersalin! Selang kateter (selang kecil) berguna untuk mengosongkan kandung kemih ibu agar tidak menghambat kontraksi dan turunnya janin ke jalan lahir.

Sementara infus perlu dipasang untuk memastikan tercukupinya kebutuhan cairan elektrolit di dalam tubuh ibu yang tengah bersalin. Bila ibu butuh obat (atau bila butuh transfusi darah), infus juga dapat mempermudahnya.

Baca Juga : 9 Cara yang Harus Ibu Hamil Lakukan Untuk Mempercepat Pembukaan Jalan Lahir

5. Muncul pula alat-alat aneh

Screen Shot 2019-09-07 at 11.40.15.png

Foto : pixabay

Di ruang bersalin, ibu juga akan melihat alat Cardio Monitoring. Alat yang biasa disebut juga Electrocardiograph atau alat CTG ini gunanya untuk memantau denyut jantung bayi di dalam perut ibu dan kontraksi yang terjadi. Perut ibu akan dipakaikan sejenis sabuk yang terhubung dengan alat CTG dan perawat atau bidan akan terus memantau alat ini selama ibu menjalani tahap Kala 1.

6. Bersiaplah, pada sesi periksa dalam. Ouch!

Selain memantau kondisi ibu dan bayi melalui CTG, bidan di ruang bersalin juga akan mengecek pembukaan serviks ibu secara manual atau yang sering disebut orang pemeriksaan dalam. Setengah telapak tangan bidan akan dimasukkan ke alat kelamin ibu hingga jarinya dapat menyentuh mulut rahim untuk memeriksa besar bukaan yang sudah tercapai.

Bersiaplah, Moms. Rasanya sakit dan tidak nyaman! Meski begitu, banyak ibu yang mengaku rasa sakit pemeriksaan dalam tidak ada apa-apanya dibandingkan rasa sakit kontraksi menjelang persalinan.

7. Tepat sekali, ruangannya dingin!

Umumnya, ruang bersalin suhunya lebih dingin dari ruang perawatan biasa di Rumah Sakit. Apalagi bila ibu sudah masuk ke ruang bersalin kedua tempat bayi dilahirkan (tahap Kala 2). Alasannya, suhu dingin membantu menurunkan dampak infeksi! Tapi bila merasa terlalu dingin, ibu seharusnya bisa minta suhunya dinaikkan.

Baca Juga : Plus Minus Melahirkan Normal vs Caesar

8. Posisi ibu tidak tidur

Jangan membayangkan bersalin dengan posisi tidur, Moms! Di ruang bersalin posisi ibu dapat berdiri, jongkok, setengah duduk, miring dengan satu kaki terangkat atau duduk dalam air sesuai yang dirasa nyaman. Namun, tidak tidur terlentang dengan kaki lurus seperti di film-film!

Itulah kenapa, di ruang bersalin Kala 2 bentuk dipan yang digunakan juga tidak sama dengan ranjang yang ada di kamar perawatan. Dipan yang digunakan untuk ibu mengeluarkan bayi dilengkapi dengan pegangan tangan dan penyangga/tempat untuk meletakkan kaki.

9. Minim fasilitas nyaman buat pendamping melahirkan

Perawat dan bidan akan selalu menemani ibu di ruang bersalin. Mereka akan membantu ibu mengatur posisi, mengingatkan mengatur atau menahan napas dan memberi tahu kapan ibu harus mengejan (meneran).

Bagaimana dengan suami atau pendamping pribadi ibu? Boleh ikut masuk tapi jangan harap ia bisa duduk nyaman ya, Moms. Tidak ada sofa di ruang bersalin seperti yang biasa ditemui di kamar perawatan. Jadi siapapun yang mendampingi ibu, pastikan ia pun dalam kondisi sehat dan siap untuk duduk di kursi kecil saja bahkan siap untuk lama berdiri.

10. Tidak langsung ke kamar

Screen Shot 2019-09-07 at 11.40.01.png

Foto : pixabay

Merasa sudah lama berada di ruang bersalin? Faktanya setelah bayi lahir, ibu tidak bisa langsung ke kamar perawatan. Selain perlu waktu untuk melakukan Inisiasi Menyusu Dini (IMD) setidaknya selama satu jam, ibu juga perlu melalui tahap Kala 3 dan Kala 4 yang akan terjadi kira-kira selama 2 jam awal setelah bayi keluar dari rahim ibu. Tahap ini sangat penting dilakukan untuk mengamati kondisi ibu maupun bayinya. Jad sabar dulu ya, Moms!

(AND/ PAS)

Artikel Terkait