BALITA DAN ANAK
13 Maret 2020

Tes Pendengaran Anak, Pentingkah?

Bayi prematur atau lahir dengan APGAR score rendah penting melakukan res pendengaran
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Amelia Puteri
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Memiliki pendengaran yang baik dapat memudahkan anak untuk bisa berkomunikasi, termasuk memahami bahasa lisan dan belajar berbicara. Namun, karena suatu kondisi, ia bisa membutuhkan tes pendengaran anak.

Dalam Journal of American Medical Association, tujuan skrining dengan tes pendengaran anak adalah bentuk deteksi dini gangguan pendengaran untuk meningkatkan hasil perkembangan dan bahasa.

Gangguan pendengaran di masa kanak-kanak memiliki dampak buruk pada perkembangan global, khususnya dalam komunikasi dan kinerja pendidikan, tanpa memandang usia, jenis kelamin, etnis, atau status sosial ekonomi.

Ketahui lebih lanjut penjelasan tentang tes fungsi pendengaran anak berikut ini ya, Moms.

Baca Juga: Bagaimana Cara Mengatasi Telinga Berdengung dan Sakit?

Apakah Tes Pendengaran Anak Penting Dilakukan?

cq5dam.web.1120.1120.jpeg

Foto: amplifon.com

Menurut dr. Ashadi Budi, Sp. THT-KL, Dokter Spesialis THT (Telinga, Hidung & Tenggorokan), Kepala Leher RS Pondok Indah - Bintaro Jaya, dilakukannya tes fungsi pendengaran pada anak ini tergantung dari usia anak.

"Seberapa penting tes fungsi pendengaran bagi anak, sebenarnya tergantung usia Si Kecil. Jika anak sudah bisa bicara, dan tidak ada keluhan apa-apa, pemeriksaan tidak perlu dilakukan," terangnya.

Lebih lanjut, dr. Ashani menyebutkan bahwa tes pendengaran pada anak perlu dilakukan bila terjadi keluhan.

"Pemeriksaan pendengaran perlu dilakukan saat anak memiliki keluhan seperti pendengaran menurun, atau pendengaran tidak nyaman, padahal pemeriksaan fisik telinga normal," lanjutnya.

Perlukah Tes Fungsi Pendengaran pada Bayi Baru Lahir?

tes pendengaran anak-3.jpg

Foto: independent.co.uk

Mengutip Hear-it, melakukan tes fungsi pendengaran pada bayi baru lahir sebelum meninggalkan rumah sakit atau ruang bersalin adalah hal yang umum dilakukan. Hal ini sebagai langkah penting mendiagnosis jika ada gangguan pendengaran anak sebelum usia 3 bulan.

"Jika bayi baru lahir, penting dilakukan skrining pendengaran, terutama bayi-bayi berisiko tinggi seperti bayi lahir prematur, bayi lahir dengan APGAR score rendah, bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR), bayi dengan riwayat infeksi TORCH, dan lain-lain," kata dr. Ashani.

Selain itu, dr. Ashani menambahkan bahwa Si Kecil juga perlu mengikuti tes fungsi pendengaran ketika berusia 18 bulan hingga 2 tahun, tetapi belum sama sekali mengeluarkan kata celoteh, dan kata-kata lainnya.

Baca Juga: 5 Cara Mencegah Infeksi pada Telinga Bayi

Apa Saja Jenis Tes Pendengaran Bayi dan Anak?

tes pendengaran anak-1.jpg

Foto: phescreening.blog.gov.uk

Ada banyak jenis tes pendengaran, dan bisa disesuaikan dengan usia Si Kecil. Beberapa tes dapat cocok dilakukan pada anak-anak untuk segala usia, sementara lainnya khusus untuk usia dan tahap perkembangan anak tertentu.

Mengutip Boston Children's Hospital, berikut ini jenis-jenis tes fungsi pendengaran bayi dan anak yang dilakukan.

1. Tes Pendengaran untuk Bayi Baru Lahir

Ada dua jenis utama tes pendengaran untuk bayi baru lahir, yaitu Auditory Brainstem Response, dan Evoked Otoacoustic Emissions. Kedua tes ini tidak memberikan rasa sakit dan cepat dilakukan.

  • Auditory Brainstem Response (ABR) menggunakan elektroda (kabel) yang dilekatkan dengan perekat pada kulit kepala bayi. Tes ini mengukur aktivitas otak sebagai respons terhadap suara.
  • Evoked Otoacoustic Emissions (EOAE) adalah tes menggunakan colokan kecil dan fleksibel yang dimasukkan ke telinga bayi. Tes bisa dilakukan saat bayi tidur.

Dari dua tes ini, sebagian besar audiolog lebih menyukai tes ABR karena lebih mungkin untuk mendeteksi jenis gangguan pendengaran tertentu yang disebut auditory dys-synchrony, ketimbang tes EOAE.

Baca Juga: 5 Obat Alami untuk Masalah Gangguan Pendengaran

2. Tes Pendengaran untuk Bayi

Tes pendengaran untuk bayi biasanya menggunakan tes yang sama digunakan pada bayi baru lahir. Selain itu, audiolog dapat menggunakan tes perilaku/behavioral test.

  • Tes Audiometri Perilaku adalah tes skrining yang memungkinkan audiolog mengamati perilaku bayi sebagai respons terhadap suara-suara tertentu.

3. Tes Pendengaran untuk Balita

Audiolog menggunakan tes yang dikenal sebagai play audiometry untuk menguji pendengaran balita. Tes ini menggunakan mesin listrik untuk mengirimkan suara pada volume dan nada yang berbeda ke telinga anak.

4. Tes Pendengaran untuk Anak Usia Lebih Tua

Untuk tes pendengaran pada anak yang lebih tua, terdiri dari pure tone audiometry dan tympanometry.

  • Pure tone audiometry menggunakan mesin listrik yang menghasilkan suara pada volume dan nada yang berbeda di telinga anak.
  • Tympanometry, juga disebut audiometri impedansi, dapat dilakukan di sebagian besar kantor dokter untuk mencari tahu bagaimana fungsi dari telinga tengah anak.

Itulah beberapa hal yang perlu Moms ketahui tentang tes pendengaran anak. Jika Si Kecil punya faktor risiko gangguan pendengaran, sebaiknya jangan tunda lagi untuk melakukan tes yang satu ini ya.

Artikel Terkait